Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ramadan dan Jurang Kesenjangan

  • account_circle Suaib Prawono
  • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
  • visibility 285
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadan selalu hadir dengan semarak yang khas. Beragam ekspresi keagamaan mencuat ke ruang publik, mulai pengajian rutin, ceramah agama, semarak majelis taklim, hingga seruan sahur jelang dini hari. Ramadan seolah telah menjadi panggung besar ekspresi keagamaan.

Selain dimaknai sebagai bulan suci, juga diyakini sebagai bulan penuh berkah; bulan yang dirindukan umat Islam karena pahala amal ibadah dilipatgandakan. Mungkin karena itu, syiar keagamaan saat bulan Ramadan tiba seolah tak mengenal jeda.

Namun, di balik semarak itu tersimpan paradoks. Ramadan yang sejatinya mengajarkan pengendalian diri, justru sering kali berubah menjadi bulan pelampiasan hasrat konsumsi.

Data menunjukkan, jumlah sampah meningkat hingga 20% selama Ramadan, sebagian besar berasal dari sisa makanan dan kemasan plastik. Tak hanya itu, negara ini juga tercatat sebagai penghasil sampah makanan terbesar di Asia Tenggara, dengan angka mencapai 20,93 juta ton per tahun.

Fenomena ini sungguh ironis, terlebih di tengah ancaman perubahan iklim. Suhu bumi yang terus meningkat melampaui ambang kritis 1,5°C membawa dampak serius: krisis pangan, terganggunya kesejahteraan ekonomi, hingga masalah kesehatan fisik dan mental.

Pertanyaannya kemudian: apakah esensi puasa benar-benar tercermin dalam perilaku umat? Ataukah kita hanya sekadar memindahkan jadwal makan tanpa benar-benar menahan diri?

Jika fenomena ini terus dibiarkan, bukan mustahil peradaban manusia akan menghadapi kehancuran. Otto Scharmer, dosen senior di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan co-founder Presencing Institute, mengidentifikasi tiga jurang kesenjangan yang menurut saya menarik untuk ditelaah secara bersama, yaitu;

Pertama, jurang sosial. Di tengah gegap gempita kemajuan peradaban, jurang sosial semakin nyata terlihat. Segelintir orang menguasai kekayaan dunia, sementara jutaan lainnya masih berjuang untuk sekadar bertahan hidup.

Ironisnya, delapan orang terkaya di dunia memiliki harta yang setara dengan separuh populasi manusia. Ketimpangan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin keterputusan manusia dengan sesamanya.

Solidaritas yang seharusnya menjadi perekat masyarakat kian rapuh, digantikan oleh marjinalisasi dan eksklusivitas. Akibatnya, keutuhan sosial yang menjadi fondasi peradaban perlahan terkikis.

Kedua, selain jurang sosial, dunia juga menghadapi jurang ekologis yang semakin menganga. Lingkungan mengalami penghancuran dalam skala besar: perubahan iklim yang ekstrem, kebakaran hutan yang meluas, hingga pandemi yang mengguncang kehidupan global.

Konsumsi sumber daya manusia kini setara dengan 1,5 planet, padahal kita hanya memiliki satu bumi. Bahkan di Amerika Serikat, laju konsumsi melampaui kapasitas lima planet bumi. Fenomena ini lahir dari keterputusan manusia dengan alam.

Demi ambisi pembangunan, hak-hak lingkungan diabaikan, seolah bumi hanyalah objek eksploitasi tanpa batas. Padahal, setiap kerusakan yang terjadi adalah peringatan bahwa keseimbangan alam tidak bisa ditawar.

Jurang ketiga yang tak kalah mengkhawatirkan adalah jurang spiritual. Di balik kemajuan teknologi dan derasnya arus modernitas, manusia justru kehilangan makna hidup.

Kesenjangan spiritual tampak dari meningkatnya masalah kesehatan mental, budaya konsumtif yang berlebihan, serta tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan. Lebih dari 800 ribu orang setiap tahun memilih mengakhiri hidupnya melalui bunuh diri; angka yang jauh melampaui korban tewas akibat perang.

Fenomena ini menunjukkan keterputusan manusia dengan dirinya sendiri. Ketika jiwa kehilangan arah, peradaban pun menjadi hampa, sekadar bergerak tanpa tujuan yang bermakna.

Ketiga jurang kesenjangan ini menjadi cermin yang relevan untuk menelaah fenomena populisme keagamaan di Indonesia. Ramadan seharusnya menjadi momentum refleksi: bukan sekadar ritual, melainkan kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan diri sendiri.

Jika Ramadan hanya dimaknai sebagai “pesta konsumsi”, jurang sosial, ekologis, dan spiritual akan semakin melebar. Namun bila dijalani dengan kesadaran penuh, Ramadan bisa menjadi jembatan untuk menutup jurang-jurang itu: membangun solidaritas sosial, menjaga kelestarian bumi, dan menumbuhkan spiritualitas yang bermakna.

Pada akhirnya, Ramadan memberi kita pilihan sederhana; sekadar menahan lapar dan dahaga, atau perjalanan menuju manusia yang lebih peduli, bijak, dan utuh. Singkatnya, puasa hadir sebagai latihan spiritual untuk menundukkan ego dengan mengasah kesadaran sosial, ekologis dan spiritual.

Penulis: Korwil GUSDURian Sulampapua

  • Penulis: Suaib Prawono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • I’tikaf: Kontemplasi dan Reorientasi Diri

    I’tikaf: Kontemplasi dan Reorientasi Diri

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna
    • visibility 372
    • 0Komentar

    DI Tengah Kebisingan Dunia, di era modern yang serba cepat ini, manusia sering kali terjebak dalam labirin rutinitas yang melelahkan. Tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, dan paparan informasi digital yang tak henti-hentinya membuat jiwa sering kali kehilangan jangkar spiritualnya. Kehidupan dunia yang hiruk-pikuk ini, jika tidak diimbangi dengan waktu untuk berhenti sejenak, akan menggiring seseorang pada […]

  • Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Suko Wahyudi
    • visibility 307
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan jeda dalam hiruk pikuk kehidupan publik. Ia bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga ruang refleksi kebangsaan. Dalam suasana menahan lapar dan dahaga, manusia diajak menata ulang relasinya dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Dalam konteks Indonesia hari ini, Ramadhan memberi kita cermin untuk membaca kondisi hukum dan politik yang tampak stabil, tetapi […]

  • Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 511
    • 0Komentar

    Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, […]

  • Perempuan dan Financial Freedom di Era Digital

    Perempuan dan Financial Freedom di Era Digital

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Sutanti Idris
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Di era digital, perempuan memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk mencapai financial freedom. Kemajuan teknologi telah mengubah cara bekerja, berbisnis, berinvestasi, hingga mengelola keuangan. Kesempatan yang dahulu hanya dimiliki segelintir orang, kini terbuka bagi siapa saja yang mau belajar dan beradaptasi. Namun, kemudahan teknologi juga membawa tantangan. Akses belanja yang semakin praktis, maraknya pinjaman […]

  • Polantas Agama dan Keagamaan, Sebuah Refleksi 78 Tahun Kemenag RI

    Polantas Agama dan Keagamaan, Sebuah Refleksi 78 Tahun Kemenag RI

    • calendar_month Rabu, 3 Jan 2024
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Tidak bisa dipungkiri bahwa keragaman merupakan karakter utama bangsa Indonesia. Karakter inilah yang membedakannya dengan bangsa lain yang cenderung homogen. Mengorganisir keragaman bukanlah sesuatu yang mudah. Mengorganisir keragaman membutuhkan metode dan strategi khusus. Tidak mudah menyamakan persepsi tentang kedamaian dan perdamaian. Tidak mudah memberi arti  betapa berharganya nilai-nilai persaudaraan. Tidak mudah memberikan pemahaman tentang pentingnya […]

  • Pengelolaan APBD Gorontalo Prioritaskan Agro-maritim

    Pengelolaan APBD Gorontalo Prioritaskan Agro-maritim

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memastikan pelaksanaan APBD 2025 saat ini akan bergerak dinamis. Selain disusun sebelum pelantikan dirinya bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, kondisi fiskal mengalami efisiensi yang membutuhkan penyesuaian di berbagai jenis belanja. “Pengelolaan anggaran tahun ini akan berlangsung dinamis dan penuh penyesuaian. Namun kita tetap optimis untuk mencapai target-target pembangunan secara […]

expand_less