Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
  • visibility 598
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Metode tahfidz yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah kembali mendapat sorotan publik nasional. Dalam sebuah program TV nasional yang tayang baru-baru ini, pendekatan khas As’adiyah dalam menghafal Al-Qur’an disebut sebagai salah satu metode yang konsisten melahirkan para hafidz berkualitas, dengan kekuatan pada tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan.

Metode Tahfidz As’adiyah bertumpu pada empat pilar utama: keheningan, ketekunan, pengulangan, dan kesabaran. Keempat unsur ini bukan sekadar teori pedagogis, melainkan praktik yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak era Al-Alimu Al-allamah As-Syekh AGH. Muhammad As’ad al-Bugisi hingga Anre Gurutta Yahya. Anre Gurutta Yahya mengembangkan Metode Tahfidz As’adiyah yang khas As’adiyah yang disebut “maddarasa patappulo” dalam bahasa Bugis dan istilah di Pondok Pesantren As’adiyah atau pengulangan.

Salah satu alumni As’adiyah yang turut memberikan penjelasan dalam program tersebut adalah Ustadz H. Martomo Malaing, SQ., M.A, yang kini mengabdi sebagai Imam di Masjid Istiqlal. Ia menegaskan bahwa metode ini bukan hanya teknik menghafal, tetapi juga proses pembentukan karakter spiritual dan telah melahirkan banyak tahfidz kaliber nasional dan internasional.

“Metode Tahfidz As’adiyah itu dimulai dari keheningan. Santri diajarkan mencari suasana yang sunyi agar ayat-ayat Al-Qur’an benar-benar meresap ke dalam hati. Dari situ lahir ketekunan, karena menghafal bukan pekerjaan sehari dua hari,” ujar Ustadz Martomo dalam tayangan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pengulangan menjadi kunci utama dalam sistem ini, yang dalam tradisi Bugis dikenal dengan istilah maddarasa patappulo. Istilah ini merujuk pada pengulangan hingga puluhan kali untuk memastikan hafalan benar-benar melekat kuat.

“Di As’adiyah ada istilah maddarasa patappulo. Artinya mengulang sampai empat puluh kali atau lebih, itu diajarkan oleh Gurutta Yahya dan bertahan hingga saat ini di As’adiyah. Bukan sekadar hafal di lisan, tetapi tertanam dalam ingatan dan jiwa. Dan semua itu membutuhkan kesabaran yang luar biasa,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa metode tersebut telah diajarkan secara konsisten oleh Anre Gurutta Yahya sebagai penjaga tradisi keilmuan di As’adiyah, kemudian dilanjutkan oleh Anre Gurutta yang lain dan para penerusnya. Rantai transmisi ini memastikan bahwa bukan hanya bacaan yang terjaga, tetapi juga adab dan ruh pendidikan Al-Qur’an.

Program TV nasional tersebut menyoroti bagaimana pendekatan tradisional ini justru relevan di tengah era digital yang serba cepat. Ketika banyak metode instan bermunculan, Tahfidz As’adiyah menawarkan kedalaman proses dan ketahanan hafalan.

Dengan pengakuan di tingkat nasional, Metode Tahfidz As’adiyah kini tidak hanya menjadi kebanggaan Sulawesi Selatan, tetapi juga rujukan bagi berbagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang ingin membangun sistem tahfidz berbasis tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan.

  • Penulis: Tim Redaksi
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Manifesto Tarbiyah di Zaman Kacau

    Manifesto Tarbiyah di Zaman Kacau

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Almunauwar Bin Rusli
    • visibility 769
    • 0Komentar

    Tulisan ini muncul dari proses perenungan panjang di Kediri. Kedatangan saya di Kediri bukan hanya sekadar lompatan geografis, melainkan sebuah proses penguatan ideologis. Di tanah ini, Munawar Musso terlahir ke dunia, Jenderal Soedirman memimpin pasukan gerilya dan Tan Malaka berpulang kepada Tuhannya. Dari mereka bertiga, saya  belajar bagaimana cara manusia melawan marabahaya. Marabahaya memang selalu […]

  • Ratusan Penumpang Perahu Alisa Nyaris Tenggelam di Perairan Pulau Gangga, Seluruh Penumpang Selamat

    Ratusan Penumpang Perahu Alisa Nyaris Tenggelam di Perairan Pulau Gangga, Seluruh Penumpang Selamat

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 200
    • 0Komentar

    nulondalo. com –  Sebuah perahu penumpang bernama Alisa yang mengangkut ratusan warga Talise nyaris tenggelam di perairan dekat Pulau Gangga, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (5/2/2026). Insiden tersebut terjadi saat kapal sedang dalam perjalanan dari Dermaga Likupang 2 menuju Pulau Talise. Menurut keterangan pemerintah desa setempat, seluruh penumpang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat dan […]

  • Pemprov Gorontalo Berikan Diskon Tiket Nataru, Angkutan Udara Turun hingga 13 Persen

    Pemprov Gorontalo Berikan Diskon Tiket Nataru, Angkutan Udara Turun hingga 13 Persen

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 219
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo memberikan keringanan biaya perjalanan bagi masyarakat yang akan melakukan mudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Kebijakan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, usai memimpin apel gelar pasukan sekaligus pembukaan Posko Terpadu Angkutan Udara periode Nataru di Bandara Djalaludin Gorontalo, Kamis (18/12/2025). Idah menjelaskan, pemerintah telah […]

  • Polemik P-BMR Kian Memanas, Ersad Mamonto Soroti Epistemik dan Kuasa, KNPI Boltara Ancam Gabung Gorontalo

    Polemik P-BMR Kian Memanas, Ersad Mamonto Soroti Epistemik dan Kuasa, KNPI Boltara Ancam Gabung Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 462
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Isu pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya (P-BMR) kembali memantik perdebatan tajam di Sulawesi Utara. Setelah Muhamad Ersad Mamonto menyampaikan kritik konseptual terhadap fondasi historis dan relasi kuasa dalam wacana P-BMR, penolakan keras juga datang dari Ketua KNPI Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Donal Palandi. Dalam responsnya terhadap tulisan Tyo Mokoagow berjudul: “Dekonstruksi PBMR”, Ersad […]

  • Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

    Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Ketika kita berbicara tentang negara demokrasi modern, pemisahan peran antar institusi keamanan sebenarnya bukan sekadar soal administrasi negara atau pembagian tugas birokratis. Ia adalah fondasi dasar dari negara hukum. Dalam prinsip demokrasi modern, urusan kriminalitas, ketertiban publik, dan keamanan domestik berada di tangan kepolisian serta otoritas sipil. Sementara militer dibentuk untuk menghadapi ancaman eksternal dan […]

  • Nota Bertemu Pasal

    Nota Bertemu Pasal

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Konon, ada dua profesi yang paling ditakuti di negeri ini. Yang pertama adalah penagih utang. Yang kedua adalah penegak hukum. Bedanya, penagih utang datang membawa buku tagihan, sedangkan penegak hukum datang membawa pasal. Namun, bagaimana jadinya jika suatu hari penegak hukum justru menjadi pihak yang diperiksa oleh hukum? Di sinilah humor Indonesia sering kali mengalahkan […]

expand_less