Khabbab bin al Arat, Sang Guru Ngaji Yang Teguh Iman (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #9)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 84
- print Cetak

Ilustrasi suasana pengajian rahasia pada masa awal Islam di Makkah. Seorang sahabat Nabi yang dikenal teguh imannya digambarkan sedang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada beberapa Muslim awal di dalam rumah sederhana, dengan cahaya lampu minyak menerangi ruangan. Di latar belakang tergambar bayangan tekanan dan kekerasan yang ia alami karena mempertahankan akidah, sekaligus momen yang berkaitan dengan awal mula ketertarikan Umar bin al-Khattab terhadap Islam. Nuansa hangat dan dramatis menekankan keteguhan iman, pengorbanan, serta peran pengajaran Al-Qur’an dalam fase dakwah yang penuh tantangan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bagi siapa pun yang menelusuri sejarah awal Islam, nama Khabbab bin al‑Arat muncul sebagai salah satu tokoh sahabat yang perannya sangat strategis, meski sering luput dari perhatian umum. Selain karena keteguhan imannya, ia juga dikenal karena pengaruhnya dalam pembinaan sahabat-sahabat Muslim awal, termasuk keterlibatannya dalam peristiwa yang turut memengaruhi hidayah Umar bin al‑Khattab.
Khabbab lahir di Jazirah Arab, kemungkinan dari wilayah Najd, dan berasal dari suku Bani Tamim. Ia mengalami masa muda yang keras: ditangkap dalam serangan suku lain, dijual sebagai budak, dan dibawa ke Mekah. Dalam statusnya sebagai budak, Khabbab bekerja sebagai pandai besi, belajar membuat pedang dan peralatan logam. Keahliannya kemudian membuatnya dikenal dalam masyarakat Mekah sebelum Islam. Namun, hidupnya berubah drastis ketika ia mengenal ajaran Nabi Muhammad SAW.
Menurut banyak sumber sejarah, Khabbab termasuk golongan assabiqunal awwalun. Beberapa riwayat menyebutnya sebagai salah satu dari sepuluh orang pertama yang memeluk Islam, meski beberapa versi lain menempatkannya dalam kelompok enam sahabat awal.
Sebagai budak, keteguhan iman Khabbab diuji oleh situasi dengan sangat berat. Ia mengalami siksaan fisik dari majikannya karena memilih menjadi pengikut Nabi Muhammad. Segala jenis siksaaan dialami termasuk ia pernah disiksa dengan batang besi panas yang ditempelkan ke tubuhnya. Meski demikian, Khabbab tidak pernah melepaskan keyakinannya.
Selain keteguhan pribadinya, Khabbab juga dikenal sebagai orang yang membantu nabi menyebarkan ayat Alquran kepada sahabat-sahabat. Boleh dibilang semacam “guru ngaji” dalam konteks Arab kala itu. Ia rutin mengunjungi rumah-rumah sahabat Muslim untuk membacakan ayat-ayat Qur’an yang didapatkan dari Nabi, termasuk di rumah Fatimah binti al‑Khattab, adik Umar bin al‑Khattab, dan suaminya Sa’id bin Zayd.
Suatu ketika, Umar, yang belum memeluk Islam, mendengar suara bacaan Qur’an dari rumah adiknya. Saat ia masuk untuk melihat apa yang terjadi, Khabbab sedang membacakan Al‑Qur’an. Kejadian ini disebut-sebut sebagai salah satu cikal bakal yang menyentuh hati Umar, membuatnya tertarik mempelajari Islam lebih jauh, dan kemudian memeluk agama ini secara resmi.
Perlu dicatat bahwa narasi tentang Khabbab mengajar Al‑Qur’an di rumah Fatimah bint al‑Khattab tidak termasuk hadis sahih dalam kitab-kitab utama seperti Sahih al‑Bukhari atau Sahih Muslim. Cerita ini hidup dalam tradisi sirah atau sejarah hidup Nabi, dicatat oleh sejarawan klasik seperti Ibn Ishaq (melalui redaksi Ibn Hisham) dan Ibnu Sa’d dalam Tabaqat al-Kubra. Meskipun bukan hadis sahih, kisah ini diterima secara luas dalam literatur sejarah sebagai ilustrasi proses spiritual dan sosial sahabat-sahabat awal.
Khabbab juga ikut serta dalam hijrah ke Madinah, mengikuti Nabi dan sahabat lainnya demi keselamatan iman mereka. Di Madinah, ia aktif dalam pertempuran penting seperti Perang Badar dan seterusnya, berdiri sebagai salah satu pejuang setia Rasulullah. Ia juga meriwayatkan sejumlah hadis, sehingga namanya dikenal dalam ilmu periwayatan hadits.
Setelah masa Nabi, Khabbab hidup hingga masa kekhalifahan para Khulafaur Rasyidin dan meninggal di Kufa sekitar tahun 37 H (657–658 M). Kepergiannya meninggalkan warisan keteguhan iman, pengajaran Al‑Qur’an, dan contoh pengorbanan dalam menghadapi tekanan dan siksaan demi agama.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar