Antara Tadarus dan Transferan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
- visibility 160
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu menghadirkan dua hal yang paling ditunggu umat beriman Indonesia: pahala berlipat dan THR berlipat harap. Di satu sisi, kita khusyuk membaca ayat-ayat suci, di sisi lain kita khusyuk membuka aplikasi mobile banking. Antara doa dan dompet, antara tadarus dan transferan di situlah drama “THR vs Taqwa” dimulai.
THR, atau Tunjangan Hari Raya, secara akuntansi adalah kewajiban jangka pendek pemberi kerja yang harus diakui sebelum jatuh tempo Lebaran. Secara psikologis, ia adalah harapan jangka panjang keluarga. Begitu notifikasi masuk, wajah yang tadinya teduh karena puasa mendadak bercahaya seperti laporan keuangan yang baru saja diaudit tanpa temuan.
Namun pertanyaannya sederhana: apakah THR memperkuat taqwa, atau justru menggoyangnya? Dalam perspektif akuntansi, setiap tambahan penghasilan adalah potensi arus kas masuk (cash inflow). Tetapi dalam perspektif tasawuf ala pesantren, setiap tambahan rezeki adalah potensi ujian. Di sinilah kita belajar bahwa laporan laba rugi belum tentu sejalan dengan laporan amal rugi.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar