Breaking News
light_mode
Trending Tags

Antara Tadarus dan Transferan

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month 22 jam yang lalu
  • visibility 69
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadhan selalu menghadirkan dua hal yang paling ditunggu umat beriman Indonesia: pahala berlipat dan THR berlipat harap. Di satu sisi, kita khusyuk membaca ayat-ayat suci, di sisi lain kita khusyuk membuka aplikasi mobile banking. Antara doa dan dompet, antara tadarus dan transferan di situlah drama “THR vs Taqwa” dimulai.

THR, atau Tunjangan Hari Raya, secara akuntansi adalah kewajiban jangka pendek pemberi kerja yang harus diakui sebelum jatuh tempo Lebaran. Secara psikologis, ia adalah harapan jangka panjang keluarga. Begitu notifikasi masuk, wajah yang tadinya teduh karena puasa mendadak bercahaya seperti laporan keuangan yang baru saja diaudit tanpa temuan.

Namun pertanyaannya sederhana: apakah THR memperkuat taqwa, atau justru menggoyangnya? Dalam perspektif akuntansi, setiap tambahan penghasilan adalah potensi arus kas masuk (cash inflow). Tetapi dalam perspektif tasawuf ala pesantren, setiap tambahan rezeki adalah potensi ujian. Di sinilah kita belajar bahwa laporan laba rugi belum tentu sejalan dengan laporan amal rugi.

Humor ala Nahdlatul Ulama mengajarkan kita satu hal penting: hidup ini jangan terlalu tegang, nanti seperti neraca yang tidak balance—tekanan darah naik. Seperti dawuh almarhum Gus Dur, “Tuhan tidak perlu dibela.” Mungkin kalau konteksnya THR, beliau akan bilang, “Taqwa tidak perlu ditunggu cair.”

Fenomena yang sering terjadi adalah sindrom “euforia likuiditas.” Begitu THR cair, tiba-tiba semua kebutuhan tampak darurat: baju baru syar’i edisi limited, kue kering yang harganya seperti saham blue chip, hingga tiket mudik yang lebih fluktuatif dari kurs rupiah. Dalam teori perilaku akuntansi, ini disebut bias konsumtif musiman. Dalam bahasa ibu-ibu komplek: “Mumpung ada.”

Padahal Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Ironis jika selama 29 hari kita mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi tumbang hanya dalam 29 menit di marketplace. Di sinilah THR berhadapan langsung dengan taqwa. Satu mengajak belanja, satu mengajak muhasabah.

Secara normatif, THR semestinya menjadi instrumen keberkahan sosial. Ia bisa menjadi momentum memperkuat zakat, infak, dan sedekah. Dalam konsep akuntansi syariah, distribusi kekayaan bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi mekanisme pemerataan spiritual. Saldo rekening boleh bertambah, tetapi yang lebih penting adalah saldo akhirat.

Sayangnya, tidak sedikit yang memperlakukan THR seperti dana abadi pribadi. Perencanaan keuangan keluarga seringkali kalah oleh perencanaan pencitraan saat silaturahim. Kita ingin terlihat sukses di depan saudara, padahal cicilan masih berjamaah menunggu di belakang layar.

Di sinilah pentingnya manajemen arus kas Ramadhan. Minimal ada tiga pos yang perlu dicatat: konsumsi, sosial, dan tabungan. Jika THR habis hanya untuk konsumsi, itu namanya arus kas tanpa arah. Jika sebagian dialokasikan untuk sosial, itu namanya arus kas penuh berkah. Jika masih ada sisa untuk tabungan, itu namanya mukjizat setelah diskon.

Taqwa, dalam konteks ini, adalah kemampuan mengendalikan preferensi jangka pendek demi kemaslahatan jangka panjang. Dalam istilah akuntansi, taqwa adalah prinsip kehati-hatian (prudence). Tidak semua yang mampu dibeli harus dibeli. Tidak semua yang diskon harus dimenangkan.

Humor ala Gus Dur seringkali menyentil tanpa menyakiti. Bayangkan jika beliau melihat fenomena THR hari ini. Mungkin beliau akan tersenyum dan berkata, “Yang paling cepat habis itu bukan THR, tapi kesabaran melihat harga tiket mudik.” Kita tertawa, tetapi juga tersadar.

Ramadhan mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh tebalnya amplop, tetapi oleh luasnya empati. THR hanyalah instrumen. Ia bisa menjadi jalan menuju syukur, atau jalan tol menuju pemborosan. Semua tergantung pada “niat transaksi” kita.

Sebagai akademisi akuntansi, saya sering mengatakan kepada mahasiswa: angka itu netral, manusialah yang memberi makna. Begitu pula THR. Ia hanyalah angka di laporan keuangan. Yang membuatnya bernilai ibadah adalah bagaimana ia dibelanjakan dan dibagikan.

Maka, “THR vs Taqwa” sejatinya bukan pertarungan. Ia adalah dialog batin. THR bertanya, “Akan kau pakai untuk apa aku?” Taqwa menjawab, “Untuk apa pun, pastikan Allah ridha.”

Akhirnya, mari kita jadikan THR bukan sekadar Tunjangan Hari Raya, tetapi “Tambahan Hati yang Religius.” Jika setelah menerima THR kita semakin dermawan, semakin bijak, dan semakin sederhana, maka kita lulus ujian likuiditas Ramadhan.

Sebab pada akhirnya, yang akan diaudit bukan hanya laporan keuangan kita, tetapi juga laporan kehidupan kita. Dan percayalah, di hadapan Auditor Yang Maha Teliti, tidak ada rekayasa kreatif yang bisa lolos.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Laporan ke Tindakan: A. Abbas dan A. Rudi Buktikan Pelayanan Tanpa Basa-Basi

    Dari Laporan ke Tindakan: A. Abbas dan A. Rudi Buktikan Pelayanan Tanpa Basa-Basi

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Keluhan warga Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, terkait padamnya lampu penerangan jalan akhirnya terjawab. Pemerintah Kabupaten Maros melalui Dinas Perhubungan bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Maros, H.A. Maskur Abbas, SE,.M.Si., bersama Camat Maros Baru, A. Rudi, S.IP, M.M, menunjukkan respons sigap dengan langsung melakukan penggantian lima […]

  • Bupati Bone Resmikan Jalan Beton Akses Bandara Arung Palakka

    Bupati Bone Resmikan Jalan Beton Akses Bandara Arung Palakka

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 76
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., meresmikan pembangunan Jalan Beton Ruas Akses Bandara Arung Palakka yang berlokasi di Desa Mappalo Ulaweng, Kecamatan Awangpone, Selasa (13/1/2026). Peresmian jalan beton sepanjang 1,5 kilometer tersebut ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bupati Bone sebagai simbol rampungnya pembangunan infrastruktur strategis yang menunjang konektivitas daerah. Pekerjaan jalan […]

  • Komisi V DPR Soroti Kelaikudaraan Pesawat IAT yang Hilang Kontak di Maros

    Komisi V DPR Soroti Kelaikudaraan Pesawat IAT yang Hilang Kontak di Maros

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 152
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi V DPR RI menyoroti hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Sorotan tersebut terutama berkaitan dengan pengawasan kelaikudaraan pesawat, khususnya armada yang telah beroperasi dalam jangka waktu panjang. Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, meminta Kementerian Perhubungan […]

  • Hak Interpelasi DPRD : Jalan Terang dalam Polemik BSG

    Hak Interpelasi DPRD : Jalan Terang dalam Polemik BSG

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Bayangkan anda adalah masyarakat Gorontalo. Hari ini anda membaca berita hangat yang informasinya ‘begini’, keesokan harinya ‘begitu’. Hari ini anda memahami informasi resmi dari pemangku kebijakan, tiba – tiba besoknya informasi tersebut diklarifikasi oleh mereka sendiri pula. Inilah realita masyarakat Gorontalo, terkekang dalam polemik Bank SulutGo (BSG) yang kebijakannya berpusar disitu saja yang membuat masyarakatnya […]

  • MOTIVATAWA Resmi Diluncurkan: Platform Edutainment Profesional Indonesia Hadir untuk Negeri

    MOTIVATAWA Resmi Diluncurkan: Platform Edutainment Profesional Indonesia Hadir untuk Negeri

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 61
    • 0Komentar

    MOTIVATAWA, sebuah platform edutainment profesional pertama di Indonesia, resmi melakukan soft launching di Jakarta, Minggu (23/11/2025). kegiatan ini  dimulai pukul 16.00 WIB dan dibuka langsung oleh CEO MOTIVATAWA, Platform Edutainment. Mengusung konsep perpaduan edukasi dan hiburan, MOTIVATAWA hadir sebagai wadah baru bagi masyarakat Indonesia untuk belajar dengan cara yang menyenangkan. “Kami ingin menghadirkan proses belajar […]

  • Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan:Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

    Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan:Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
    • visibility 571
    • 0Komentar

    Saya mulai dengan mengapresiasi kritik saudara Tarmizi Abbas terhadap tulisan saya tentang “Makuta Ilmu”—belakangan saya rubah jadi “Mahkota Ilmu”—sebagai paradigma keilmuan UIN Sultan Amai Gorontalo nanti. Saya senang sekali dikritisi, sejak kemarin tulisan seperti ini memang ditunggu. Dialektika melalui tulisan belakangan jarang terjadi di lingkungan kampus. Seringkali sebuah gagasan dibalas dengan kalimat singkat satir, sindiran, […]

expand_less