Antara Tadarus dan Transferan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
- visibility 161
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Taqwa, dalam konteks ini, adalah kemampuan mengendalikan preferensi jangka pendek demi kemaslahatan jangka panjang. Dalam istilah akuntansi, taqwa adalah prinsip kehati-hatian (prudence). Tidak semua yang mampu dibeli harus dibeli. Tidak semua yang diskon harus dimenangkan.
Humor ala Gus Dur seringkali menyentil tanpa menyakiti. Bayangkan jika beliau melihat fenomena THR hari ini. Mungkin beliau akan tersenyum dan berkata, “Yang paling cepat habis itu bukan THR, tapi kesabaran melihat harga tiket mudik.” Kita tertawa, tetapi juga tersadar.
Ramadhan mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh tebalnya amplop, tetapi oleh luasnya empati. THR hanyalah instrumen. Ia bisa menjadi jalan menuju syukur, atau jalan tol menuju pemborosan. Semua tergantung pada “niat transaksi” kita.
Sebagai akademisi akuntansi, saya sering mengatakan kepada mahasiswa: angka itu netral, manusialah yang memberi makna. Begitu pula THR. Ia hanyalah angka di laporan keuangan. Yang membuatnya bernilai ibadah adalah bagaimana ia dibelanjakan dan dibagikan.
Maka, “THR vs Taqwa” sejatinya bukan pertarungan. Ia adalah dialog batin. THR bertanya, “Akan kau pakai untuk apa aku?” Taqwa menjawab, “Untuk apa pun, pastikan Allah ridha.”
Akhirnya, mari kita jadikan THR bukan sekadar Tunjangan Hari Raya, tetapi “Tambahan Hati yang Religius.” Jika setelah menerima THR kita semakin dermawan, semakin bijak, dan semakin sederhana, maka kita lulus ujian likuiditas Ramadhan.
Sebab pada akhirnya, yang akan diaudit bukan hanya laporan keuangan kita, tetapi juga laporan kehidupan kita. Dan percayalah, di hadapan Auditor Yang Maha Teliti, tidak ada rekayasa kreatif yang bisa lolos.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar