Antara Tadarus dan Transferan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
- visibility 162
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Humor ala Nahdlatul Ulama mengajarkan kita satu hal penting: hidup ini jangan terlalu tegang, nanti seperti neraca yang tidak balance—tekanan darah naik. Seperti dawuh almarhum Gus Dur, “Tuhan tidak perlu dibela.” Mungkin kalau konteksnya THR, beliau akan bilang, “Taqwa tidak perlu ditunggu cair.”
Fenomena yang sering terjadi adalah sindrom “euforia likuiditas.” Begitu THR cair, tiba-tiba semua kebutuhan tampak darurat: baju baru syar’i edisi limited, kue kering yang harganya seperti saham blue chip, hingga tiket mudik yang lebih fluktuatif dari kurs rupiah. Dalam teori perilaku akuntansi, ini disebut bias konsumtif musiman. Dalam bahasa ibu-ibu komplek: “Mumpung ada.”
Padahal Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Ironis jika selama 29 hari kita mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi tumbang hanya dalam 29 menit di marketplace. Di sinilah THR berhadapan langsung dengan taqwa. Satu mengajak belanja, satu mengajak muhasabah.
Secara normatif, THR semestinya menjadi instrumen keberkahan sosial. Ia bisa menjadi momentum memperkuat zakat, infak, dan sedekah. Dalam konsep akuntansi syariah, distribusi kekayaan bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi mekanisme pemerataan spiritual. Saldo rekening boleh bertambah, tetapi yang lebih penting adalah saldo akhirat.
Sayangnya, tidak sedikit yang memperlakukan THR seperti dana abadi pribadi. Perencanaan keuangan keluarga seringkali kalah oleh perencanaan pencitraan saat silaturahim. Kita ingin terlihat sukses di depan saudara, padahal cicilan masih berjamaah menunggu di belakang layar.
Di sinilah pentingnya manajemen arus kas Ramadhan. Minimal ada tiga pos yang perlu dicatat: konsumsi, sosial, dan tabungan. Jika THR habis hanya untuk konsumsi, itu namanya arus kas tanpa arah. Jika sebagian dialokasikan untuk sosial, itu namanya arus kas penuh berkah. Jika masih ada sisa untuk tabungan, itu namanya mukjizat setelah diskon.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar