Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 74
- print Cetak

Ilustrasi digital bernuansa dramatis yang menggambarkan simbol perlawanan ideologis dan geopolitik, dengan figur ulama berdiri di tengah massa dan latar suasana konflik, merepresentasikan pertemuan antara iman, kekuasaan, dan dinamika global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium.
Berguru pada Tauhid ala Ayatollah di Iran berarti memahami satu hal mendasar: Tuhan yang satu bukan sekadar klaim teologis, melainkan posisi politik. Mengakui kemutlakan Allah otomatis berarti menolak segala bentuk pengultusan selain-Nya—termasuk pengultusan terhadap modal, pasar, dan imperium global yang hari ini mengatur hidup manusia dengan grafik dan sanksi.
Tauhid kita kini berhadapan langsung dengan kapitalisme. Bukan kapitalisme sebagai aktivitas ekonomi biasa, melainkan kapitalisme kontemporer yang predatoris, berbasis rente, dan mengklaim diri sebagai hukum alam. Ia hadir bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai takdir. Ketika pasar dijadikan wasit terakhir kebenaran, ketika pertumbuhan ekonomi dijadikan tolok ukur moral, di situlah Tauhid dibajak. Berhala tidak lagi berbentuk patung, tetapi indeks, rating, dan “kepercayaan investor”.
Inilah yang oleh Tauhid dibaca sebagai syirik struktural: sistem yang menuntut kepatuhan total, mengorbankan manusia, dan tidak boleh digugat. Larangan riba dalam Islam sejak awal bukan urusan fikih semata, melainkan sikap ideologis terhadap penumpukan kekayaan dan eksploitasi. Islam tidak pernah mengenal ekonomi netral. Maka ketika kapitalisme global memproduksi ketimpangan sistemik, Tauhid tidak cukup dijawab dengan zikir—ia menuntut perlawanan.
Di sinilah Iran menjadi kasus menarik dipelajari sebab ia menyebalkan bagi imperium. Sejak Revolusi 1979, Iran mencoba—dengan beberapa keterbatasan dan kekurangannya—menarik Tauhid dari langit ke meja negara. Tauhid diterjemahkan sebagai kemandirian: menolak ketergantungan pada hegemoni ekonomi global, membangun ilmu pengetahuan sendiri, dan tidak sepenuhnya tunduk pada diktat pasar dunia.
Konsekuensi cukup berat diterima, seperti Sanksi, isolasi, tekanan tanpa henti. Tapi justru masalahnya menjadi ruwet bagi Amerika dan sekutunya. Iran bukan diserang karena terlalu religius, melainkan karena tidak mau patuh sepenuhnya. Ia menjadi contoh menjengkelkan bahwa iman bisa berubah jadi energi perlawanan, bukan sekadar penghibur di tengah ketimpangan.
Ketidakpatuhan iran pada berhala kapitalisme menjadi alasan mengapa ia menyebalkan bagi imperium barat. Sebab iran punya iman yang berfungsi sebagai energi anti-imperialis.
Ketika perang imperialis diluncurkan, narasinya selalu sama: demokrasi, HAM, stabilitas. Padahal realitasnya juga selalu sama: Irak hancur, Suriah remuk, Libya jadi ladang bangkai. Jika Iran jatuh lewat invasi, yang lahir bukan kebebasan, melainkan barbarisme. Imperialis tidak takut pada rejim reaksioner—mereka takut pada rakyat yang berdaulat. Kekacauan bisa diatur; kesadaran kelas tidak.
Ironisnya, di negeri-negeri seperti Indonesia, Tauhid justru dipersempit. Ia diprivatisasi, dijadikan urusan batin, dipamerkan dalam simbol, tetapi dicabut dari kritik ekonomi-politik. Agama lantang di mimbar, namun bisu di hadapan rente, oligarki, dan komersialisasi hidup. Ilmu pengetahuan sibuk mengejar akreditasi, bukan kedaulatan. Spiritualitas jadi jinak; kapitalisme jadi sakral.
Maka jangan heran jika ketika Iran diserang, respons kita hanya “situasinya kompleks”. Kita takut berpihak karena Tauhid kita sudah terlalu lama berdamai dengan pasar. Bahkan ketika elite Indonesia—termasuk Prabowo—duduk di forum-forum “perdamaian” bikinan elite imperialis, itu dijual sebagai kenegarawanan. Padahal itu sekadar penegasan kelas: berdamai dengan sistem yang hidup dari perang dan rente global.
Seruan “Hands Off Iran!” sesungguhnya adalah seruan Tauhid dalam bahasa geopolitik. Bukan membela Ayatollah tanpa kritik, tetapi menolak logika dunia yang menganggap bom lebih sahih daripada rakyat. Menolak keyakinan bahwa perubahan hanya sah jika disahkan oleh imperium.
Seperti kata Hassan Hanafi, Tauhid adalah perpindahan kesadaran: dari Tuhan yang dilangitkan menuju manusia yang dimuliakan. Tauhid yang hidup tidak akan membiarkan kapital dipuja, perang dinormalkan, dan rakyat dijadikan korban yang “tak terhindarkan”
Tanpa keberanian itu, Tauhid hanya akan tinggal jargon suci—sementara berhala-berhala modern terus berpesta, dijaga oleh misil, disucikan oleh pasar, dan diamini oleh mereka yang memilih netral agar tetap aman.
Dan sejarah, seperti biasa, tidak pernah netral.
Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Suka Yogyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar