Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
  • visibility 403
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium.

Berguru pada Tauhid ala Ayatollah di Iran berarti memahami satu hal mendasar: Tuhan yang satu bukan sekadar klaim teologis, melainkan posisi politik. Mengakui kemutlakan Allah otomatis berarti menolak segala bentuk pengultusan selain-Nya—termasuk pengultusan terhadap modal, pasar, dan imperium global yang hari ini mengatur hidup manusia dengan grafik dan sanksi.

Tauhid kita kini berhadapan langsung dengan kapitalisme. Bukan kapitalisme sebagai aktivitas ekonomi biasa, melainkan kapitalisme kontemporer yang predatoris, berbasis rente, dan mengklaim diri sebagai hukum alam. Ia hadir bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai takdir. Ketika pasar dijadikan wasit terakhir kebenaran, ketika pertumbuhan ekonomi dijadikan tolok ukur moral, di situlah Tauhid dibajak. Berhala tidak lagi berbentuk patung, tetapi indeks, rating, dan “kepercayaan investor”.

Inilah yang oleh Tauhid dibaca sebagai syirik struktural: sistem yang menuntut kepatuhan total, mengorbankan manusia, dan tidak boleh digugat. Larangan riba dalam Islam sejak awal bukan urusan fikih semata, melainkan sikap ideologis terhadap penumpukan kekayaan dan eksploitasi. Islam tidak pernah mengenal ekonomi netral. Maka ketika kapitalisme global memproduksi ketimpangan sistemik, Tauhid tidak cukup dijawab dengan zikir—ia menuntut perlawanan.

Di sinilah Iran menjadi kasus menarik dipelajari sebab ia menyebalkan bagi imperium. Sejak Revolusi 1979, Iran mencoba—dengan beberapa keterbatasan dan kekurangannya—menarik Tauhid dari langit ke meja negara. Tauhid diterjemahkan sebagai kemandirian: menolak ketergantungan pada hegemoni ekonomi global, membangun ilmu pengetahuan sendiri, dan tidak sepenuhnya tunduk pada diktat pasar dunia.

Konsekuensi cukup berat diterima, seperti Sanksi, isolasi, tekanan tanpa henti. Tapi justru masalahnya menjadi ruwet bagi Amerika dan sekutunya. Iran bukan diserang karena terlalu religius, melainkan karena tidak mau patuh sepenuhnya. Ia menjadi contoh menjengkelkan bahwa iman bisa berubah jadi energi perlawanan, bukan sekadar penghibur di tengah ketimpangan.

Ketidakpatuhan iran pada berhala kapitalisme menjadi alasan mengapa ia menyebalkan bagi imperium barat. Sebab iran punya iman yang berfungsi sebagai energi anti-imperialis.

Ketika perang imperialis diluncurkan, narasinya selalu sama: demokrasi, HAM, stabilitas. Padahal realitasnya juga selalu sama: Irak hancur, Suriah remuk, Libya jadi ladang bangkai. Jika Iran jatuh lewat invasi, yang lahir bukan kebebasan, melainkan barbarisme. Imperialis tidak takut pada rejim reaksioner—mereka takut pada rakyat yang berdaulat. Kekacauan bisa diatur; kesadaran kelas tidak.

Ironisnya, di negeri-negeri seperti Indonesia, Tauhid justru dipersempit. Ia diprivatisasi, dijadikan urusan batin, dipamerkan dalam simbol, tetapi dicabut dari kritik ekonomi-politik. Agama lantang di mimbar, namun bisu di hadapan rente, oligarki, dan komersialisasi hidup. Ilmu pengetahuan sibuk mengejar akreditasi, bukan kedaulatan. Spiritualitas jadi jinak; kapitalisme jadi sakral.

Maka jangan heran jika ketika Iran diserang, respons kita hanya “situasinya kompleks”. Kita takut berpihak karena Tauhid kita sudah terlalu lama berdamai dengan pasar. Bahkan ketika elite Indonesia—termasuk Prabowo—duduk di forum-forum “perdamaian” bikinan elite imperialis, itu dijual sebagai kenegarawanan. Padahal itu sekadar penegasan kelas: berdamai dengan sistem yang hidup dari perang dan rente global.

Seruan “Hands Off Iran!” sesungguhnya adalah seruan Tauhid dalam bahasa geopolitik. Bukan membela Ayatollah tanpa kritik, tetapi menolak logika dunia yang menganggap bom lebih sahih daripada rakyat. Menolak keyakinan bahwa perubahan hanya sah jika disahkan oleh imperium.

Seperti kata Hassan Hanafi, Tauhid adalah perpindahan kesadaran: dari Tuhan yang dilangitkan menuju manusia yang dimuliakan. Tauhid yang hidup tidak akan membiarkan kapital dipuja, perang dinormalkan, dan rakyat dijadikan korban yang “tak terhindarkan”
Tanpa keberanian itu, Tauhid hanya akan tinggal jargon suci—sementara berhala-berhala modern terus berpesta, dijaga oleh misil, disucikan oleh pasar, dan diamini oleh mereka yang memilih netral agar tetap aman.

Dan sejarah, seperti biasa, tidak pernah netral.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Suka Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yang Luput dari yang Luput: Respon Atas Tulisan Arief Abas

    Yang Luput dari yang Luput: Respon Atas Tulisan Arief Abas

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 711
    • 0Komentar

    Dalam tulisan arif yang sangat panjang yang berjudul “Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan Soal Sadakah”, ada 3 hal yang dianggap Arief luput dalam beberapa tulisan Momy Hunowu, dan saya sebelumnya sebagai berikut: Dalam perdebatan soal sadaka beberapa hari belakangan, Arief menggarisbawahi beberapa hal yang barangkali luput dibaca. Meskipun orang-orang bilang “seikhlasnya”, praktik ini terlembaga, beratasnamakan […]

  • Komunitas Barber Gorontalo Menggelar Cukur Rambut, Jalan Kepedulian untuk Korban Bencana Aceh dan Sumatera Play Button photo_camera 4

    Komunitas Barber Gorontalo Menggelar Cukur Rambut, Jalan Kepedulian untuk Korban Bencana Aceh dan Sumatera

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 265
    • 0Komentar

    nulondalo.com — Di tengah hiruk pikuk aktivitas kota, kepedulian sosial kembali menemukan jalannya melalui aksi sederhana namun penuh makna. Komunitas Barber Gorontalo menunjukkan empati dan solidaritas mereka dengan menggelar kegiatan Barber Amal Peduli Bencana Aceh dan Sumatera, Selasa, 16 Desember 2025. Kegiatan ini berlangsung di area parkiran Toko Aisyah Mart, Kota Gorontalo, dan mendapat sambutan […]

  • Warga Gorontalo Utara Soroti Truk Kayu Overload di Tomilito, Desak Penertiban Segera

    Warga Gorontalo Utara Soroti Truk Kayu Overload di Tomilito, Desak Penertiban Segera

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 509
    • 0Komentar

    Gorontalo Utara, nulondalo.com – Seorang warga Gorontalo Utara, Sandy Syafrudin Nina, menyuarakan keprihatinan serius terhadap aktivitas truk pengangkut kayu bermuatan berlebih (overload) yang kerap melintas di wilayah Tomilito. Ia menilai kondisi tersebut bukan sekadar pelanggaran lalu lintas, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat. Dalam kesaksiannya, Sandy mengungkapkan bahwa siang hari, jalanan dari arah Tomilito dipenuhi […]

  • Terbongkar! Empat Anggota TNI Diduga Dalang Penyiraman Air Keras Aktivis

    Terbongkar! Empat Anggota TNI Diduga Dalang Penyiraman Air Keras Aktivis

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 358
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Andrie Yunus, memasuki babak baru. Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengungkap keterlibatan empat anggota TNI yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Komandan Puspom TNI, Mayjen TNI Yusri Nuryanto, menyatakan bahwa pengungkapan kasus ini bermula dari penyelidikan internal yang […]

  • Pandangan dan Rekomendasi Mubes Warga NU Menuju Abad Kedua

    Pandangan dan Rekomendasi Mubes Warga NU Menuju Abad Kedua

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 109
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – JOMBANG – Warga Nahdlatul Ulama (NU) merilis beberapa pandangan dan rekomendasi untuk arah perjuangan NU pada abad kedua. Dalam rilis tersebut menegaskan bahwa Muktamar NU ke-35 harus menjadi ruang musyawarah yang bermartabat, bebas dari praktik transaksional, serta mampu melahirkan kepengurusan yang memiliki integritas, kapasitas, keteladanan, dan keberpihakan yang kuat kepada jamaah serta kemaslahatan […]

  • Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur di Jombang, Kenang Peran dalam Reformasi dan Pemisahan TNI-Polri

    Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur di Jombang, Kenang Peran dalam Reformasi dan Pemisahan TNI-Polri

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kapolri Listyo Sigit Prabowo melakukan ziarah ke makam Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang akan diperingati pada 1 Juli 2026 mendatang. Dalam prosesi ziarah, Kapolri hadir mengenakan peci dan melakukan doa bersama […]

expand_less