Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
  • visibility 329
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium.

Berguru pada Tauhid ala Ayatollah di Iran berarti memahami satu hal mendasar: Tuhan yang satu bukan sekadar klaim teologis, melainkan posisi politik. Mengakui kemutlakan Allah otomatis berarti menolak segala bentuk pengultusan selain-Nya—termasuk pengultusan terhadap modal, pasar, dan imperium global yang hari ini mengatur hidup manusia dengan grafik dan sanksi.

Tauhid kita kini berhadapan langsung dengan kapitalisme. Bukan kapitalisme sebagai aktivitas ekonomi biasa, melainkan kapitalisme kontemporer yang predatoris, berbasis rente, dan mengklaim diri sebagai hukum alam. Ia hadir bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai takdir. Ketika pasar dijadikan wasit terakhir kebenaran, ketika pertumbuhan ekonomi dijadikan tolok ukur moral, di situlah Tauhid dibajak. Berhala tidak lagi berbentuk patung, tetapi indeks, rating, dan “kepercayaan investor”.

Inilah yang oleh Tauhid dibaca sebagai syirik struktural: sistem yang menuntut kepatuhan total, mengorbankan manusia, dan tidak boleh digugat. Larangan riba dalam Islam sejak awal bukan urusan fikih semata, melainkan sikap ideologis terhadap penumpukan kekayaan dan eksploitasi. Islam tidak pernah mengenal ekonomi netral. Maka ketika kapitalisme global memproduksi ketimpangan sistemik, Tauhid tidak cukup dijawab dengan zikir—ia menuntut perlawanan.

Di sinilah Iran menjadi kasus menarik dipelajari sebab ia menyebalkan bagi imperium. Sejak Revolusi 1979, Iran mencoba—dengan beberapa keterbatasan dan kekurangannya—menarik Tauhid dari langit ke meja negara. Tauhid diterjemahkan sebagai kemandirian: menolak ketergantungan pada hegemoni ekonomi global, membangun ilmu pengetahuan sendiri, dan tidak sepenuhnya tunduk pada diktat pasar dunia.

Konsekuensi cukup berat diterima, seperti Sanksi, isolasi, tekanan tanpa henti. Tapi justru masalahnya menjadi ruwet bagi Amerika dan sekutunya. Iran bukan diserang karena terlalu religius, melainkan karena tidak mau patuh sepenuhnya. Ia menjadi contoh menjengkelkan bahwa iman bisa berubah jadi energi perlawanan, bukan sekadar penghibur di tengah ketimpangan.

Ketidakpatuhan iran pada berhala kapitalisme menjadi alasan mengapa ia menyebalkan bagi imperium barat. Sebab iran punya iman yang berfungsi sebagai energi anti-imperialis.

Ketika perang imperialis diluncurkan, narasinya selalu sama: demokrasi, HAM, stabilitas. Padahal realitasnya juga selalu sama: Irak hancur, Suriah remuk, Libya jadi ladang bangkai. Jika Iran jatuh lewat invasi, yang lahir bukan kebebasan, melainkan barbarisme. Imperialis tidak takut pada rejim reaksioner—mereka takut pada rakyat yang berdaulat. Kekacauan bisa diatur; kesadaran kelas tidak.

Ironisnya, di negeri-negeri seperti Indonesia, Tauhid justru dipersempit. Ia diprivatisasi, dijadikan urusan batin, dipamerkan dalam simbol, tetapi dicabut dari kritik ekonomi-politik. Agama lantang di mimbar, namun bisu di hadapan rente, oligarki, dan komersialisasi hidup. Ilmu pengetahuan sibuk mengejar akreditasi, bukan kedaulatan. Spiritualitas jadi jinak; kapitalisme jadi sakral.

Maka jangan heran jika ketika Iran diserang, respons kita hanya “situasinya kompleks”. Kita takut berpihak karena Tauhid kita sudah terlalu lama berdamai dengan pasar. Bahkan ketika elite Indonesia—termasuk Prabowo—duduk di forum-forum “perdamaian” bikinan elite imperialis, itu dijual sebagai kenegarawanan. Padahal itu sekadar penegasan kelas: berdamai dengan sistem yang hidup dari perang dan rente global.

Seruan “Hands Off Iran!” sesungguhnya adalah seruan Tauhid dalam bahasa geopolitik. Bukan membela Ayatollah tanpa kritik, tetapi menolak logika dunia yang menganggap bom lebih sahih daripada rakyat. Menolak keyakinan bahwa perubahan hanya sah jika disahkan oleh imperium.

Seperti kata Hassan Hanafi, Tauhid adalah perpindahan kesadaran: dari Tuhan yang dilangitkan menuju manusia yang dimuliakan. Tauhid yang hidup tidak akan membiarkan kapital dipuja, perang dinormalkan, dan rakyat dijadikan korban yang “tak terhindarkan”
Tanpa keberanian itu, Tauhid hanya akan tinggal jargon suci—sementara berhala-berhala modern terus berpesta, dijaga oleh misil, disucikan oleh pasar, dan diamini oleh mereka yang memilih netral agar tetap aman.

Dan sejarah, seperti biasa, tidak pernah netral.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Suka Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 949
    • 0Komentar

    Catatan Etnografis tentang Kepemimpinan, Dunia Usaha, dan Etika Merawat Kota Tulisan ini saya rampungkan di tengah malam—ketika jarum jam bergerak ke angka kecil di penghujung Januari, dan Februari 2026 mengintip dari balik kalender. Kota sedang senyap. Jalan-jalan lengang. Namun di kepala saya justru berdenyut percakapan, gestur, dan resonansi sosial yang belum ingin reda: bahwa saya […]

  • Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 241
    • 0Komentar

    Pagi 31 Januari 2026, saat saya sedang mengikuti sertifikasi dai yang diselenggarakan PB DDI di Hotel UIN Alauddin Makassar, kabar duka itu datang tiba-tiba: Bapak Salim S. Mengga mengembuskan napas terakhir setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit di Makassar. Informasi itu saya baca lewat grup WhatsApp. Kaget, saya terdiam sejenak, menundukkan kepala, lalu membacakan […]

  • Jalan Rusak Total, Warga Kelurahan Tubo Berinisiatif Bangun Sandiri

    Jalan Rusak Total, Warga Kelurahan Tubo Berinisiatif Bangun Sandiri

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Kondisi jalan Ake Tubo di RT 007 dan RT 008 Kelurahan Tubo, Ternate Utara, Kota Ternate mengalami RUSAK TOTAL. Jalan ake Tubo adalah jalan satu-satunya yang digunakan tiap hari oleh warga untuk bolak balik ke tempat kerja, pasar dan juga aktifitas kebun masyarakat setempat. Selain itu, jalan ake Tubo juga merupakan akses jalan satu-satunya menuju […]

  • Penyaluran BLT Dana Desa Triwulan IV, 39 Warga Majannang menerima photo_camera 2

    Penyaluran BLT Dana Desa Triwulan IV, 39 Warga Majannang menerima

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 126
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Pemerintah Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) Triwulan IV Tahun Anggaran 2025 di Kantor Desa Majannang, kamis (18/12/2025). Penyaluran ini mencakup periode Oktober, November, dan Desember. Sebanyak 39 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menerima bantuan tunai dengan total Rp900 ribu per orang, masing-masing Rp300 ribu per bulan […]

  • Salat Jenazah Ternyata Rumit, KH. Abdul Muin Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi Play Button

    Salat Jenazah Ternyata Rumit, KH. Abdul Muin Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 462
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Salat jenazah yang selama ini dianggap sederhana ternyata menyimpan banyak rincian hukum yang kerap luput dari perhatian jamaah. Hal ini diungkapkan oleh KH. Abdul Muin Mooduto, Ketua MUI Kota Gorontalo sekaligus Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, dalam pengajian menjelang Salat Jumat yang digelar di salah satu masjid di Kota Gorontalo pada 2021. Dalam […]

  • Mengulik “Haji Bawakaraeng”: Cerita dari Kaki Langit

    Mengulik “Haji Bawakaraeng”: Cerita dari Kaki Langit

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    “Panggilan haji Telah tiba lagi Menunaikan ibadah Panggilan Baitullah Tanah Suci Makkah Ya Makkatul Mukarramah” Lagu “Panggilan Haji”, dari grup Kasidah ‘Nasida Ria’ mengalun lembut dari pita kaset radio yang sudah terlihat kucar-kacir tersebut. Jangan heran, di tempat lain, kasidah bolehlah ditelan waktu, digilas masa dan ditinggalkan zaman, tetapi di kampungku, kasidahan, apalagi punya Nasida […]

expand_less