Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
  • visibility 369
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium.

Berguru pada Tauhid ala Ayatollah di Iran berarti memahami satu hal mendasar: Tuhan yang satu bukan sekadar klaim teologis, melainkan posisi politik. Mengakui kemutlakan Allah otomatis berarti menolak segala bentuk pengultusan selain-Nya—termasuk pengultusan terhadap modal, pasar, dan imperium global yang hari ini mengatur hidup manusia dengan grafik dan sanksi.

Tauhid kita kini berhadapan langsung dengan kapitalisme. Bukan kapitalisme sebagai aktivitas ekonomi biasa, melainkan kapitalisme kontemporer yang predatoris, berbasis rente, dan mengklaim diri sebagai hukum alam. Ia hadir bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai takdir. Ketika pasar dijadikan wasit terakhir kebenaran, ketika pertumbuhan ekonomi dijadikan tolok ukur moral, di situlah Tauhid dibajak. Berhala tidak lagi berbentuk patung, tetapi indeks, rating, dan “kepercayaan investor”.

Inilah yang oleh Tauhid dibaca sebagai syirik struktural: sistem yang menuntut kepatuhan total, mengorbankan manusia, dan tidak boleh digugat. Larangan riba dalam Islam sejak awal bukan urusan fikih semata, melainkan sikap ideologis terhadap penumpukan kekayaan dan eksploitasi. Islam tidak pernah mengenal ekonomi netral. Maka ketika kapitalisme global memproduksi ketimpangan sistemik, Tauhid tidak cukup dijawab dengan zikir—ia menuntut perlawanan.

Di sinilah Iran menjadi kasus menarik dipelajari sebab ia menyebalkan bagi imperium. Sejak Revolusi 1979, Iran mencoba—dengan beberapa keterbatasan dan kekurangannya—menarik Tauhid dari langit ke meja negara. Tauhid diterjemahkan sebagai kemandirian: menolak ketergantungan pada hegemoni ekonomi global, membangun ilmu pengetahuan sendiri, dan tidak sepenuhnya tunduk pada diktat pasar dunia.

Konsekuensi cukup berat diterima, seperti Sanksi, isolasi, tekanan tanpa henti. Tapi justru masalahnya menjadi ruwet bagi Amerika dan sekutunya. Iran bukan diserang karena terlalu religius, melainkan karena tidak mau patuh sepenuhnya. Ia menjadi contoh menjengkelkan bahwa iman bisa berubah jadi energi perlawanan, bukan sekadar penghibur di tengah ketimpangan.

Ketidakpatuhan iran pada berhala kapitalisme menjadi alasan mengapa ia menyebalkan bagi imperium barat. Sebab iran punya iman yang berfungsi sebagai energi anti-imperialis.

Ketika perang imperialis diluncurkan, narasinya selalu sama: demokrasi, HAM, stabilitas. Padahal realitasnya juga selalu sama: Irak hancur, Suriah remuk, Libya jadi ladang bangkai. Jika Iran jatuh lewat invasi, yang lahir bukan kebebasan, melainkan barbarisme. Imperialis tidak takut pada rejim reaksioner—mereka takut pada rakyat yang berdaulat. Kekacauan bisa diatur; kesadaran kelas tidak.

Ironisnya, di negeri-negeri seperti Indonesia, Tauhid justru dipersempit. Ia diprivatisasi, dijadikan urusan batin, dipamerkan dalam simbol, tetapi dicabut dari kritik ekonomi-politik. Agama lantang di mimbar, namun bisu di hadapan rente, oligarki, dan komersialisasi hidup. Ilmu pengetahuan sibuk mengejar akreditasi, bukan kedaulatan. Spiritualitas jadi jinak; kapitalisme jadi sakral.

Maka jangan heran jika ketika Iran diserang, respons kita hanya “situasinya kompleks”. Kita takut berpihak karena Tauhid kita sudah terlalu lama berdamai dengan pasar. Bahkan ketika elite Indonesia—termasuk Prabowo—duduk di forum-forum “perdamaian” bikinan elite imperialis, itu dijual sebagai kenegarawanan. Padahal itu sekadar penegasan kelas: berdamai dengan sistem yang hidup dari perang dan rente global.

Seruan “Hands Off Iran!” sesungguhnya adalah seruan Tauhid dalam bahasa geopolitik. Bukan membela Ayatollah tanpa kritik, tetapi menolak logika dunia yang menganggap bom lebih sahih daripada rakyat. Menolak keyakinan bahwa perubahan hanya sah jika disahkan oleh imperium.

Seperti kata Hassan Hanafi, Tauhid adalah perpindahan kesadaran: dari Tuhan yang dilangitkan menuju manusia yang dimuliakan. Tauhid yang hidup tidak akan membiarkan kapital dipuja, perang dinormalkan, dan rakyat dijadikan korban yang “tak terhindarkan”
Tanpa keberanian itu, Tauhid hanya akan tinggal jargon suci—sementara berhala-berhala modern terus berpesta, dijaga oleh misil, disucikan oleh pasar, dan diamini oleh mereka yang memilih netral agar tetap aman.

Dan sejarah, seperti biasa, tidak pernah netral.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Suka Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH. Asrul Lasapa Ajak Personel Polda Gorontalo Jaga Amanah Lewat Binrohtal

    KH. Asrul Lasapa Ajak Personel Polda Gorontalo Jaga Amanah Lewat Binrohtal

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Wakil Katib PWNU Gorontalo KH. Asrul Lasapa hadir memberikan ceramah dalam kegiatan Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal) yang rutin digelar oleh Polda Gorontalo, Rabu pagi (6/8/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Polda Gorontalo dalam menumbuhkan karakter personel yang berintegritas, profesional, dan berakhlak mulia. Binrohtal dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu dan melibatkan seluruh personel […]

  • Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — M. Arafah Alias Arpah, dari PP HPPMI Maros, menyampaikan keprihatinan serius sekaligus kecaman tegas terhadap kondisi Jalan Trans Sulawesi di wilayah Kabupaten Maros yang hingga saat ini terus mengalami kerusakan berulang, meskipun telah dilakukan penanganan oleh pihak terkait. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah titik jalan yang sebelumnya berlubang telah dilakukan penambalan, […]

  • Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 290
    • 0Komentar

    Pengangguran agaknya dijadikan media Reproduksi Ketimpangan, alih alih fokus pada Transformasi yang menyentuh Struktur. Belakangan ini, pembicaraan soal pengangguran kembali ramai. Ada yang menyebut anak muda sekarang terlalu pemilih, terlalu banyak gengsi, atau tidak tahan proses. Di sisi lain, generasi muda merasa hidup mereka memang sedang tidak baik-baik saja: biaya hidup naik, lapangan kerja makin […]

  • Festival JAGAT 2026: Belajar Ekologi Lewat Permainan, dari Pesantren untuk Bumi

    Festival JAGAT 2026: Belajar Ekologi Lewat Permainan, dari Pesantren untuk Bumi

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 29
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM, JOMBANG — Krisis ekologi di Indonesia semakin menuntut hadirnya kesadaran lingkungan yang tidak hanya berhenti pada kampanye dan slogan. Pendidikan ekologis perlu dikemas dengan pendekatan yang dekat, praktis, dan menyenangkan, terutama ketika menyasar anak-anak, remaja, santri, hingga masyarakat luas. Semangat itulah yang dibawa dalam rangkaian Festival JAGAT (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi) […]

  • UU Pemilu Digugat Lagi, Ambang Batas Parlemen Dinilai Inkonsitusional

    UU Pemilu Digugat Lagi, Ambang Batas Parlemen Dinilai Inkonsitusional

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 281
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) kembali digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Kali ini, gugatan diarahkan pada ketentuan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) yang dinilai berpotensi inkonstitusional dan mencederai prinsip kedaulatan rakyat. Permohonan pengujian materiil diajukan oleh Koalisi Kawal Pemilu dan Demokrasi Indonesia yang diwakili Miftahol Arifin selaku Ketua […]

  • Hasil Rapat Badan Pengurus Lengkap Tim Caretaker BPD HIPMI Maluku Utara

    Hasil Rapat Badan Pengurus Lengkap Tim Caretaker BPD HIPMI Maluku Utara

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 592
    • 0Komentar

    Jakarta – Tim Caretaker BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Maluku Utara telah melaksanakan Rapat Badan Pengurus Lengkap (RBPL) pada 29 Januari 2026 di Jakarta. RBPL ini dilaksanakan sebagai bagian dari mandat organisasi berdasarkan SK BPP HIPMI Nomor 139/Kep/Sek/BPP/I/26, guna memastikan keberlanjutan dan ketertiban organisasi BPD HIPMI Maluku Utara sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah […]

expand_less