Ceramah Ramadan di Al Markaz: Kakanwil Sulsel Tekankan Akhlak Bertetangga
- account_circle Suaib Pr
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 16
- print Cetak

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid saat menyampaikan ceramah Ramadan di masjid Al Markaz Al Islami Makassar, 04/03/26
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nulondalo-Makassar. Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan, Rabu 4 Maret 2026 atau 15 Ramadhan 1447 H, masjid Al Markaz Al Islami Makassar kembali dipadati ribuan jamaah Tarawih. Malam itu terasa istimewa, sebab Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel, H. Ali Yafid, didaulat menyampaikan tauziah bertema “Akhlak Bertetangga” sebuah pesan sederhana namun menjadi fondasi kerukunan hidup manusia.
Dalam ceramahnya, Ali Yafid menegaskan bahwa tetangga adalah orang yang paling dekat secara sosial dalam keseharian. “Sesungguhnya yang paling dekat dengan kita secara sosial adalah tetangga. Ketika kita mengalami kesulitan, sering kali yang pertama hadir membantu adalah tetangga,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial antarwarga. “Allah telah menyempurnakan agama ini. Aturan tentang pribadi, rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara semuanya lengkap. Hadis-hadis Rasulullah SAW sangat memperhatikan kehidupan sosial agar terbangun masyarakat yang harmonis,” jelasnya.
Ali Yafid kemudian menguraikan hak-hak tetangga sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, menolong saat membutuhkan, meminjamkan sesuatu dengan cara yang baik, menjauhi sifat hasad, hingga berbagi makanan sederhana.
Ia mengingatkan, ibadah ritual tanpa menjaga hubungan sosial dapat mengurangi nilai keimanan seseorang. “Ada orang rajin salat dan puasa, tetapi menyakiti tetangganya. Rasulullah SAW menyebut orang seperti itu sebagai penghuni neraka. Sebaliknya, ada yang ibadahnya sederhana, tetapi tidak pernah menyakiti tetangga, itu justru penghuni surga,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung program prioritas Kementerian Agama RI, yakni Ekoteologi. Menurutnya, ekoteologi mengajarkan manusia untuk melihat alam dan sesama sebagai bagian dari ciptaan Allah SWT.
“Jangan hanya melihat pohon, hewan, atau tetangga sebagai objek semata. Lihatlah siapa di balik semua itu, yaitu Allah SWT. Semua ciptaan-Nya bertasbih dan harus kita hormati,” ujarnya penuh makna.
Mengakhiri tausiyah, Ali Yafid mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum meningkatkan kepedulian sosial. “Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi membangun kepekaan sosial terhadap orang-orang di sekitar kita, terutama tetangga dan kaum dhuafa. Semua kebaikan di bulan Ramadan dilipatgandakan pahalanya,” tuturnya.
Dengan mengutip hadis “Innamal a’malu binniyat”, ia menutup ceramah dengan ajakan agar setiap ibadah dilakukan dengan hati yang tulus. Malam itu, Al Markaz Al Islami bukan sekadar menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang refleksi sosial meneguhkan kembali makna Ramadan sebagai bulan kepedulian, kebersamaan, dan jalan menuju surga.
- Penulis: Suaib Pr

Saat ini belum ada komentar