Mojtaba Khamenei Ditunjuk Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Gantikan Ayahnya di Tengah Konflik Timur Tengah
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 80
- print Cetak

Orang-orang memegang plakat dengan gambar pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, di Teheran. Majid Asgaripour/WANA melalui REUTERS
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Iran resmi menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran, menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang dilaporkan meninggal dunia setelah serangan militer yang terjadi di tengah eskalasi konflik kawasan Timur Tengah.
Keputusan tersebut diumumkan oleh Majelis Ahli Iran pada Minggu, 8 Maret 2026. Lembaga yang berwenang memilih pemimpin tertinggi itu menyatakan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin ketiga sejak Revolusi Islam 1979. Jabatan tersebut memberikan kewenangan penuh untuk menentukan arah politik, militer, dan kebijakan strategis negara.
Pengangkatan Mojtaba terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Konflik yang memanas dalam beberapa pekan terakhir telah memicu serangan militer timbal balik di kawasan Timur Tengah serta menimbulkan korban jiwa dan ketegangan geopolitik global.
Mojtaba Khamenei, ulama berusia sekitar 56 tahun, selama ini dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkaran elite politik Iran serta hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Banyak analis menilai ia mewakili garis keras dalam politik Iran dan diperkirakan akan melanjutkan kebijakan konfrontatif terhadap negara-negara Barat.
Penunjukan putra langsung dari pemimpin sebelumnya juga memicu perdebatan di dalam dan luar negeri. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut menunjukkan kecenderungan menuju pola suksesi yang dianggap mirip dinasti, meski sistem Iran secara resmi merupakan republik teokratis.
Di media sosial, respons publik pun beragam. Pendukung pemerintah Iran dan kelompok konservatif menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan baru tersebut, sementara sebagian aktivis oposisi mempertanyakan legitimasi serta masa depan politik Iran di tengah konflik yang masih berlangsung.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar