Ketika Anggaran Mengendap: Mengungkap Fenomena Idle Cash dalam APBN Indonesia
- account_circle Dinda Rahma Filah
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 76
- print Cetak

Dinda Rahma Filah, mahasiswi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) semester 4, dengan minat pada akuntansi sektor publik, pengelolaan keuangan negara, serta transparansi dan akuntabilitas anggaran.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Terkadang, yang paling berbahaya dalam pengelolaan keuangan negara bukan hal-hal yang terlihat besar dan sering dibicarakan. Justru, yang diam mengendap dan jarang diperhatikan bisa memiliki dampak yang tidak kalah serius. Hal ini bisa kita lihat dalam pengelolaan APBN Indonesia saat ini, terutama saat membahas idle cash, yaitu dana yang terlalu lama “parkir” tanpa kejelasan digunakan untuk apa.
Selama ini, pembahasan APBN biasanya fokus pada hal besar seperti defisit, utang, atau subsidi. Padahal, ada bagian lain yang lebih teknis tapi sangat berpengaruh pada kualitas pengelolaan keuangan negara. Salah satunya adalah Saldo Anggaran Lebih (SAL), yang bisa dipahami sebagai sisa anggaran dari tahun-tahun sebelumnya atau bisa disebut semacam “tabungan negara”. Secara konsep, SAL sebenarnya hal yang baik. Bahkan penting sebagai cadangan saat kondisi ekonomi tidak stabil. Tapi dalam kenyataannya, tidak selalu sesederhana itu. Data terbaru menunjukkan bahwa SAL yang sebelumnya sekitar Rp420 triliun kini turun cukup jauh menjadi sekitar Rp120 triliun per April 2026. Penurunan ini cukup besar, jadi wajar kalau menimbulkan pertanyaan. Kenapa bisa turun sejauh itu?
Salah satu alasannya adalah penggunaan SAL untuk intervensi pasar, terutama untuk menjaga stabilitas Surat Berharga Negara (SBN). Dalam jangka pendek, langkah ini bisa dimengerti. Pemerintah ingin menahan kenaikan imbal hasil obligasi supaya biaya utang tidak makin tinggi. Tapi di sisi lain, muncul kekhawatiran apakah cadangan ini jadi terlalu cepat digunakan? Ibaratnya seperti memakai payung sebelum hujan benar-benar turun. Kalau nanti kondisi ekonomi memburuk, apakah kita masih punya cadangan yang cukup?
- Penulis: Dinda Rahma Filah

Saat ini belum ada komentar