Ketika Anggaran Mengendap: Mengungkap Fenomena Idle Cash dalam APBN Indonesia
- account_circle Dinda Rahma Filah
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 77
- print Cetak

Dinda Rahma Filah, mahasiswi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) semester 4, dengan minat pada akuntansi sektor publik, pengelolaan keuangan negara, serta transparansi dan akuntabilitas anggaran.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di sini, masalahnya bukan hanya soal angka, tapi juga transparansi. Informasi tentang penggunaan SAL tidak selalu mudah diakses atau dipahami secara langsung oleh masyarakat. Akibatnya, masyarakat hanya bisa menerima tanpa benar-benar tahu detailnya. Padahal, ini adalah uang negara, yang juga berarti uang rakyat.
Selain itu, ada juga tantangan dari dalam sistem pemerintahan, terutama karena penyusunan kembali kementerian. Perubahan struktur pemerintahan itu hal yang wajar, tapi dampaknya pada pencatatan keuangan tidak bisa dianggap ringan. Misalnya, ketika sebuah kementerian dibubarkan lalu asetnya dipindahkan ke lembaga lain, prosesnya tidak sesederhana memindahkan barang. Banyak hal yang harus disesuaikan, seperti pencatatan aset, kontrak, dan memastikan tidak ada data yang tercatat dua kali atau malah hilang. Kalau tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa memengaruhi keakuratan laporan keuangan pemerintah.
Masalahnya, hal seperti ini jarang dibahas, padahal dampaknya bisa panjang. Kredibilitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) bisa ikut terpengaruh.
Hal lain yang sering dianggap sepele adalah pengelolaan persediaan barang untuk masyarakat, seperti bantuan sosial, alat kesehatan, atau pupuk subsidi. Dalam sistem akuntansi, barang-barang ini masih dianggap milik negara sampai benar-benar diberikan ke masyarakat. Namun, dalam praktiknya, proses distribusi tidak selalu lancar. Tanpa sistem yang terhubung dengan baik, barang bisa menumpuk di gudang, rusak sebelum dipakai, atau bahkan tidak sampai ke yang membutuhkan. Di sinilah muncul “area abu-abu” dari uang yang sudah dibelanjakan, tapi belum tentu manfaatnya benar-benar dirasakan.
Kalau dilihat secara keseluruhan, semua masalah idle cash, penurunan SAL, perubahan struktur, dan pengelolaan persediaan yang sebenarnya saling berkaitan. Intinya ada pada transparansi dan akuntabilitas. Kalau informasi tidak jelas, keputusan yang diambil juga bisa kurang tepat. Padahal, APBN bukan sekadar angka, tapi menunjukkan prioritas dan arah kebijakan negara.
Karena itu, perbaikan dalam pengelolaan keuangan negara sangat penting. Salah satu caranya adalah meningkatkan keterbukaan informasi, misalnya lewat dashboard publik agar masyarakat bisa memantau SAL secara berkala. Selain itu, aturan akuntansi saat reorganisasi juga perlu diperjelas agar tidak menimbulkan masalah dalam pencatatan. Digitalisasi sistem persediaan juga bisa membantu supaya distribusi barang lebih jelas dan mudah dipantau.
Lebih jauh lagi, mungkin sudah saatnya kita melihat keuangan negara secara lebih luas, tidak hanya APBN, tapi juga APBD dan peran BUMN. Dengan begitu, kondisi keuangan negara bisa terlihat lebih lengkap. Akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana negara mendapatkan dan membelanjakan uang, tapi bagaimana memastikan semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Karena yang paling berisiko bukan cuma kekurangan dana, tapi ketika dana yang ada tidak dikelola dengan jelas. Dan mungkin, dari sini kita bisa mulai lebih peduli, bukan hanya pada angka besar, tapi juga pada hal-hal kecil yang sering terlewat.
Penulis : Mahasiswi Akuntansi UNUSIA Semester 4
- Penulis: Dinda Rahma Filah

Saat ini belum ada komentar