Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 305
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam kamus kehidupan sehari-hari, kata sabar sering diperlakukan seperti obat mujarab untuk segala luka sosial. Ia terdengar menenangkan, penuh kebijaksanaan, bahkan dianggap sebagai jawaban paling aman atas berbagai persoalan hidup. Namun di balik itu, ada kekeliruan yang diam-diam terus dipelihara: kita terlalu sering mencampuradukkan antara kesabaran dan kepasrahan. Padahal keduanya lahir dari ruang batin yang sangat berbeda.

Sabar adalah kemampuan bertahan tanpa kehilangan arah. Sementara pasrah, dalam banyak keadaan, adalah titik ketika seseorang berhenti percaya bahwa keadaan masih mungkin diubah.

Orang yang sabar masih menyimpan harapan, meski tipis. Ia tetap bekerja meski hasil belum tampak, tetap melangkah walau berkali-kali gagal. Ada tenaga batin yang membuatnya terus bergerak. Sebaliknya, kepasrahan biasanya tumbuh dari kelelahan yang terlalu panjang—ketika seseorang merasa usaha tidak lagi memiliki arti apa-apa. Di titik itu, manusia berhenti melawan bukan karena sudah mencapai ketenangan spiritual, melainkan karena terlalu letih untuk berharap.

Sayangnya, dalam kehidupan sosial kita hari ini, kata sabar sering berubah fungsi menjadi alat penjinak keadaan. Ia dipakai bukan untuk menguatkan, melainkan untuk meredam suara.

Buruh yang upahnya tertinggal jauh dari kenaikan harga kebutuhan pokok diminta sabar. Mahasiswa yang dipaksa bergulat dengan biaya pendidikan yang semakin mahal diminta sabar. Warga yang bertahun-tahun hidup dengan jalan rusak, pelayanan publik yang lamban, dan hukum yang terasa tajam ke bawah namun lunak ke atas juga diminta sabar. Pada akhirnya, kesabaran perlahan kehilangan makna moralnya. Ia berubah menjadi kebiasaan menelan kecewa.

Yang lebih berbahaya, masyarakat kemudian mulai menganggap ketimpangan sebagai sesuatu yang normal. Kalimat seperti, “Memang beginilah negara kita,” terdengar sederhana, tetapi di situlah akar kepasrahan bekerja paling halus. Ketika sebuah bangsa kehilangan keyakinan bahwa keadaan bisa diperbaiki, maka yang runtuh bukan hanya optimisme, melainkan juga keberanian warga negaranya.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua DPD Perjosi Maros Soroti Larangan Wartawan Membawa Handphone di Kejari: “Tunjukkan Regulasinya!”

    Ketua DPD Perjosi Maros Soroti Larangan Wartawan Membawa Handphone di Kejari: “Tunjukkan Regulasinya!”

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Maros — Ketua DPD Perserikatan Journalist Siber Indonesia (Perjosi) Kabupaten Maros, Talla, menyoroti Kejaksaan Negeri (Kejari) Maros terkait larangan membawa HP Android ketika ingin bertemu dengan siapa saja di Kejaksaan. “Ini yang perlu kita perjelas, kenapa pihak Kejaksaan selalu meminta agar alat kerja jurnalistik, HP Android, selalu diminta dititip terlebih dahulu baru bisa masuk ke ruangan, […]

  • QRIS Menyapa Gorontalo, Bank Indonesia Perkuat Literasi Pembayaran Digital di Pekan Ekonomi Syariah

    QRIS Menyapa Gorontalo, Bank Indonesia Perkuat Literasi Pembayaran Digital di Pekan Ekonomi Syariah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Pekan Ekonomi Syariah yang digelar oleh PWNU Gorontalo menjadi ajang kolaborasi penting antara lembaga keagamaan, pelaku usaha, dan lembaga keuangan. Kegiatan yang berlangsung di kantor PWNU Gorontalo ini menghadirkan berbagai agenda edukatif, mulai dari expo UMKM, seminar investasi syariah, hingga sosialisasi sistem pembayaran digital oleh Bank Indonesia, Rabu (29/10/2025). Dalam kegiatan Sosialisasi QRIS, Bank Indonesia […]

  • Tiga Jet Tempur AS Ditembak Jatuh di Kuwait, Enam Awak Selamat

    Tiga Jet Tempur AS Ditembak Jatuh di Kuwait, Enam Awak Selamat

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 248
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tiga jet tempur Amerika Serikat jenis F-15E Strike Eagle ditembak jatuh secara tidak sengaja oleh sistem pertahanan udara Kuwait saat operasi tempur aktif di kawasan tersebut, Senin (2/3/2026). Seluruh enam awak pesawat dilaporkan selamat dan dalam kondisi stabil. Insiden itu terjadi di tengah ofensif gabungan Washington bersama Israel terhadap Iran yang telah memasuki […]

  • Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Pengangguran agaknya dijadikan media Reproduksi Ketimpangan, alih alih fokus pada Transformasi yang menyentuh Struktur. Belakangan ini, pembicaraan soal pengangguran kembali ramai. Ada yang menyebut anak muda sekarang terlalu pemilih, terlalu banyak gengsi, atau tidak tahan proses. Di sisi lain, generasi muda merasa hidup mereka memang sedang tidak baik-baik saja: biaya hidup naik, lapangan kerja makin […]

  • RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Setelah melalui proses pembangunan sejak 2021, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Camba di Kabupaten Maros akhirnya resmi beroperasi penuh mulai 29 Desember 2025. Kehadiran fasilitas kesehatan ini menjadi salah satu realisasi janji politik Bupati Maros, Chaidir Syam, sekaligus menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di wilayah dataran tinggi. Peresmian operasional RSUD Camba disambut […]

  • Anak Miskin Jadi Sarjana: Bukan Keajaiban, Tapi Tanda Gagalnya Sistem Pendidikan

    Anak Miskin Jadi Sarjana: Bukan Keajaiban, Tapi Tanda Gagalnya Sistem Pendidikan

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Kisah-kisah tentang keluarga miskin yang  berhasil menyekolahkan anaknya hingga mencetak sarjana bahkan sampai meraih gelar doktor, selalu mengalirkan inspirasi.  Di media sosial ceritanya memantik perhatian yang tinggi. Narasinya dibagikan berulang-ulang. Orang menanggapinya dengan pujian dan rasa haru. Keberhasilan  orang-orang miskin itu menorehkan kesan yang kuat. Sebab mereka meraih sarjana dengan perjuangan yang berdarah-darah. Ada yang […]

expand_less