Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang (Bagian 2)

  • account_circle Momy Hunowu
  • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
  • visibility 431
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Berselang dua hari setelah Camat dan unsur Tripika melakukan sidak ke lokasi penambangan, sejumlah warga Molamahu bergerak memasuki areal tambang tanpa izin itu. Rupanya, tak ada lagi aktivitas di sekitar lokasi. Yang tersisa hanyalah hamparan tanah penuh luka cabik. Sepertinya para pemburu harta karun itu telah menjauh. Entah lari atau sekadar bersembunyi. Warga segera mengeksekusi tenda-tenda yang masih berdiri tegak tanpa terpal. Bagai dikomando, mereka layaknya Satpol PP yang menertibkan lapak-lapak tak berijin. Tak ketinggalan alat penapis tanah yang terbuat dari rangka kayu, ikut dibakar warga. Warga juga menemukan sejumlah jerigen besar berisi solar yang sengaja ditimbun dalam tanah. Sebagian warga menelusuri jejak eskapator dan akhirnya menemukan dua buah cangkul raksasa itu terparkir di kebun warga. Belum diketahui, apakah para penambang tanpa ijin itu benar-benar pergi, atau menunggu kondisi tenang lalu kembali beraksi? Jika benar mereka akan kembali, sebegitu beranikah mereka dibandingkan kaum penjajah Belanda yang pada akhirnya angkat kaki dari wilayah pencabut nyawa itu? Berikut kisah penguasa kolonial yang berupaya mencerabut bongkahan emas dan berakhir dengan kematian yang mengenaskan, sebagaimana dituturkan para tetua kampung kepada penulis 20 tahun silam.

Ketika Belanda Memburu Emas Molalahu

Dalam beberapa bagian, kisah ini tentu sulit diuji secara historis, namun narasi tersebut hidup dan terus diwariskan dalam ingatan kolektif masyarakat Molalahu. Meskipun Lembah Tupalo (Molalahu Mulolo) merupakan kawasan yang terpencil dan tersembunyi, kaum penjajah Belanda akhirnya sampai juga ke wilayah ini. Mereka bahkan menjangkau wilayah yang lebih jauh hingga Huludu Ayu Molingo, atau puncak perbukitan kayu manis, yang kisahnya akan diceritakan tersendiri. Konon, kawasan ini menarik perhatian kaum penjajah karena diyakini menyimpan kandungan emas yang tak terbayangkan besarnya, apatahlagi nilainya. Menurut penuturan orang-orang tua dahulu, emas yang memancarkan sinar keemasan di sungai lembah Tupalo tak dapat dijamah apalagi dimiliki manusia. Siapa yang coba-coba mengusik, pasti tidak akan selamat. Demikianlah keyakinan yang hidup di tengah masyarakat dan masih sanggup merindingkan bulu kuduk hingga hari ini.

  • Penulis: Momy Hunowu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saat Ketemu Putra Mahkota Abu Dhabi di UEA, Puan Sampaikan Gagasan tentang Perempuan

    Saat Ketemu Putra Mahkota Abu Dhabi di UEA, Puan Sampaikan Gagasan tentang Perempuan

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani bersama Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan. Dalam pertemuan tersebut, Puan menyuarakan gagasan tentang perempuan. Dilansir dari palementari, Selasa (18/5/2025), Pertemuan tersebut digelar di Sea Palace Abu Dhabi, UEA, 15 Februari […]

  • JKSN Gorontalo Resmi Dilantik, Siap Perkuat Gerakan Sosial dan Ekonomi Umat

    JKSN Gorontalo Resmi Dilantik, Siap Perkuat Gerakan Sosial dan Ekonomi Umat

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 309
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pengurus Wilayah Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Provinsi Gorontalo resmi dilantik pada Selasa, 28 April 2026. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Darul Madinah Gorontalo dan menjadi momentum penting dalam memperkuat peran organisasi di kawasan timur Indonesia. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum JKSN, Asep Saifuddin Chalim, didampingi Sekretaris Jenderal JKSN, […]

  • Ramadhan dan Semangat Temporal Beribadah

    Ramadhan dan Semangat Temporal Beribadah

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 471
    • 0Komentar

    Dalam kajian sosiologi dan studi budaya, sesuatu (tren, budaya, nilai, atau gaya hidup) yang datang kembali setelah lama pergi akan disambut dengan nostalgia atau perayaan. Teori ini selaras dengan bulan Ramadhan yang merupakan bahagian dari tatanan nilai dan momen suci yang datang kembali setelah lama pergi. Euforia penyambutannya terlihat jelas dari perilaku sosial dan perilaku […]

  • Dilema BBM: Ketika APBN Menjadi Korban dan Ketidakpastian Global

    Dilema BBM: Ketika APBN Menjadi Korban dan Ketidakpastian Global

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rif’atu Darojah
    • visibility 314
    • 0Komentar

    Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sejatinya adalah instrumen paling vital dalam menggerakkan roda ekonomi nasional. Secara formal, APBN berfungsi sebagai alat otorisasi, perencanaan, dan distribusi untuk memastikan kesejahteraan rakyat. Namun, memasuki tahun 2026, realitas di lapangan jauh dari teks ideal di buku-buku ekonomi. Kita sedang menyaksikan sebuah drama besar di mana APBN tidak lagi […]

  • Ramadhan Momentum Menakar Diri

    Ramadhan Momentum Menakar Diri

    • calendar_month Minggu, 18 Apr 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Pelan namun pasti, Ramadhan terus merangkak. Ada hari yang telah terlewati. Setuju atau tidak, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menakar dan mengukur diri. Pasti ada yang bertanya-tanya, mengapa harus Ramadhan ? Bukankah ada bulan lainnya. Muharram misalnya ? Alasannya sederhana. Meski baru beberapa hari menjalani kawah candradimuka Ramadhan, kuantitas dan kualitas ibadah kita  telah terukur […]

  • Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 383
    • 0Komentar

    Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan. Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan. Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh […]

expand_less