Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jangan Biarkan Mimpi Anak Kehabisan Tenaga di Garis Akhir

  • account_circle Sutanti Idris
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • visibility 149
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering kali terlambat dipikirkan, yaitu: kapan sebenarnya kita harus mulai merencanakan kuliah anak? Sebagian besar keluarga baru mulai memikirkan jurusan, universitas, hingga biaya pendidikan ketika anak sudah duduk di bangku SMA. Padahal, pada fase tersebut waktu untuk mempersiapkan semuanya sudah jauh lebih sempit. Akibatnya, banyak keputusan diambil secara tergesa-gesa karena terbatasnya waktu, kesiapan akademik, maupun kondisi finansial.

Menurut saya, riset pendidikan justru harus dimulai sejak anak berada di bangku sekolah dasar. Tentu bukan untuk membebani anak dengan target akademik yang berlebihan atau memaksanya menentukan masa depan sejak dini. Sebaliknya, riset ini menjadi bekal bagi orang tua untuk memahami arah perjalanan pendidikan anak sehingga setiap langkah yang diambil memiliki tujuan yang jelas. Anak tetap berhak menikmati masa kecilnya, bermain, bereksplorasi, bersosialisasi, dan belajar dengan bahagia. Namun, orang tua perlu mulai menyusun peta perjalanan menuju masa depan anak.

Saya sering mengibaratkan perjalanan pendidikan seperti seseorang yang mengikuti lomba maraton. Seorang pelari yang berpengalaman tidak akan mengeluarkan seluruh tenaganya di kilometer pertama. Ia mengatur ritme, menjaga stamina, memperhitungkan kebutuhan energi, dan memastikan dirinya mampu mencapai garis akhir dengan kondisi terbaik. Pendidikan anak pun demikian. Jika sejak awal orang tua sudah memahami tujuan akhirnya, maka proses menuju tujuan tersebut akan terasa lebih ringan, terarah, dan tidak penuh kepanikan di penghujung perjalanan.

Membicarakan cita-cita anak sejak usia sekolah dasar bukan berarti memaksa mereka memilih profesi secara permanen. Justru, hal itu menjadi ruang eksplorasi agar anak mengenal berbagai pilihan masa depan. Ketika seorang anak bercita-cita menjadi dokter, guru, akuntan, arsitek, pengusaha, atau profesi lainnya, orang tua memiliki kesempatan untuk mulai melakukan riset mengenai jalur pendidikan yang diperlukan, kemampuan yang harus dipersiapkan, universitas yang sesuai, hingga estimasi biaya yang harus direncanakan. Dengan demikian, orang tua tidak hanya mendukung mimpi anak melalui kata-kata, tetapi juga melalui persiapan yang nyata.

Kesadaran mengenai besarnya biaya pendidikan tinggi juga menjadi alasan mengapa perencanaan sejak dini sangat penting. Saat orang tua mengetahui bahwa biaya kuliah di perguruan tinggi berkualitas dapat mencapai ratusan juta rupiah, mereka akan lebih bijak dalam mengatur keuangan keluarga. Menabung sedikit demi sedikit sejak anak masih duduk di bangku SD tentu jauh lebih ringan dibandingkan harus mencari dana besar dalam waktu singkat ketika anak lulus SMA. Perencanaan yang matang juga memberikan ruang bagi keluarga untuk mempertimbangkan berbagai alternatif, seperti beasiswa, investasi pendidikan, maupun pengembangan kompetensi yang mendukung masa depan anak.

Namun, riset pendidikan sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang biaya kuliah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana orang tua memanfaatkan masa tumbuh kembang anak, terutama pada periode yang dikenal sebagai golden age. Pada masa inilah perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga karakter, kebiasaan belajar, kemampuan berkomunikasi, kecerdasan emosional, hingga nilai-nilai kehidupan mulai terbentuk. Tidak ada sekolah, semahal apa pun biayanya, yang mampu menggantikan sepenuhnya peran orang tua dalam fase penting tersebut.

Pandangan ini juga memiliki dasar hukum yang kuat di Indonesia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa keluarga merupakan penyelenggara pendidikan informal yang diakui sebagai pendidikan pertama bagi anak. Selain itu, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk mengasuh, mendidik, melindungi, serta mengembangkan potensi anak sesuai dengan bakat, kemampuan, dan minatnya. Artinya, negara pun mengakui bahwa rumah adalah sekolah pertama, sedangkan orang tua adalah guru utama dalam kehidupan anak.

Berbagai penelitian internasional semakin memperkuat pandangan tersebut. Salah satunya adalah penelitian dari Harvard Center on the Developing Child yang menjelaskan bahwa perkembangan otak anak sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi antara anak dan orang tua melalui konsep serve and return. Interaksi sederhana seperti mengajak anak berdialog, membacakan buku, mendengarkan cerita mereka, memberikan pelukan, serta merespons pertanyaan dengan penuh perhatian terbukti membantu membangun kemampuan berpikir, mengelola emosi, dan membentuk rasa percaya diri anak.

Karena itu, sekolah yang mahal tidak selalu menjadi jaminan keberhasilan apabila orang tua tidak terlibat aktif dalam proses pendidikan di rumah. Sebaliknya, banyak anak yang berasal dari sekolah sederhana justru mampu meraih prestasi luar biasa karena mendapatkan pendampingan yang hangat, konsisten, dan penuh kasih sayang dari keluarganya. Sekolah memang memiliki peran penting sebagai mitra pendidikan, tetapi fondasi karakter dan semangat belajar tetap dibangun di dalam keluarga.

Pada akhirnya, riset pendidikan bukan sekadar mencari sekolah terbaik, melainkan menyusun perjalanan hidup anak secara menyeluruh. Mulai dari mengenali potensi, membangun karakter, mengembangkan kompetensi, menyiapkan kemampuan akademik, hingga merancang strategi pembiayaan pendidikan tinggi. Semua proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang dan tidak dapat dilakukan secara instan.

Masa depan anak bukan dibentuk oleh satu keputusan besar yang diambil ketika mereka lulus SMA, melainkan oleh ribuan keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten sejak usia dini. Karena itu, mari mulai berpikir lebih jauh sejak anak berada di bangku sekolah dasar. Biarkan mereka menikmati masa kecilnya dengan penuh kebahagiaan, sementara orang tua bekerja di balik layar menyiapkan jalan menuju impian mereka. Sebab pendidikan bukanlah perlombaan lari cepat, melainkan maraton panjang yang membutuhkan visi, kesabaran, dan perencanaan yang matang agar mimpi anak tidak kehabisan tenaga sebelum mencapai garis akhir.

Penulis : Founder Aoife Social

  • Penulis: Sutanti Idris

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komisi II DPRD Maros Minta Pemkab Optimalkan Capaian PBB-P2 Yang Dinilai Masih Rendah

    Komisi II DPRD Maros Minta Pemkab Optimalkan Capaian PBB-P2 Yang Dinilai Masih Rendah

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — Menjelang berakhirnya tahun anggaran 2025, anggota Komisi II DPRD Maros, Arie Anugrah, mendesak Pemerintah Kabupaten Maros untuk lebih serius menggenjot pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Saat ini, realisasi pembayaran masih berada pada angka 84 persen, sementara waktu yang tersisa untuk menutup tahun hanya tinggal hitungan pekan. Arie menyebut […]

  • Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 386
    • 0Komentar

    Di dunia diplomasi modern, perdamaian jarang hadir sebagai nilai yang berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama proposal, bagan struktur organisasi, masa keanggotaan, dan daftar kebutuhan anggaran. Perdamaian bukan lagi sekadar cita-cita moral, melainkan sebuah proyek lengkap dengan terminologi teknokratis yang rapi dan bahasa yang sengaja dilembutkan. Karena itu, tidak mengherankan ketika Indonesia bergabung dalam […]

  • Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 270
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto berencana menghabiskan malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 di wilayah Sumatra yang terdampak banjir bandang dan longsor. Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi usai konferensi pers penanganan bencana di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025). “Direncanakan begitu (tahun baru ke Sumatra),” ujar Prasetyo Hadi, […]

  • Breaking News : Prabowo Serukan Perang Terhadap Sampah

    Breaking News : Prabowo Serukan Perang Terhadap Sampah

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 396
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto menyerukan perang terhadap sampah dan meminta seluruh kepala daerah, kementerian, serta lembaga negara untuk serius menangani persoalan lingkungan. Seruan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintahan Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026). Dalam arahannya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat sampah. […]

  • DPP PKB Tetapkan Abdullah Kadir Diko sebagai Ketua DPC PKB Pohuwato, Ini Profilnya

    DPP PKB Tetapkan Abdullah Kadir Diko sebagai Ketua DPC PKB Pohuwato, Ini Profilnya

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 218
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB menetapkan Abdullah Kadir Diko, S.Pt. sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Kabupaten Pohuwato masa khidmat 2026–2031. Penetapan tersebut menandai estafet kepemimpinan DPC PKB Pohuwato dari ketua sebelumnya, Idris Kadji. Abdullah Kadir Diko merupakan salah satu kader PKB yang telah lama berkiprah di dunia politik, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi […]

  • Dunia Berkabung: Paus Fransiskus, Simbol Perdamaian Lintas Agama, Telah Wafat

    Dunia Berkabung: Paus Fransiskus, Simbol Perdamaian Lintas Agama, Telah Wafat

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Dunia kembali berselimut duka. Sosok besar yang selama ini menjadi simbol perdamaian dan toleransi lintas agama, Paus Fransiskus, telah berpulang. Kabar wafatnya pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini menggema hingga ke seluruh penjuru dunia, meninggalkan jejak haru di hati banyak orang—termasuk Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Dalam pernyataannya kepada media, Nasaruddin menyampaikan […]

expand_less