Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (4)

  • account_circle Momy Hunowu
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • visibility 222
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Banyak orang mengetahui cerita tentang rumah peninggalan Belanda di Huludu Ayumolingo. Namun, hanya segelintir yang mengaku pernah berdiri di depannya. Tidak ada penunjuk jalan, tidak ada koordinat pasti, bahkan masyarakat setempat pun tidak berani menjamin dapat menemukannya kembali. Anehnya, rumah itu justru lebih sering ditemukan oleh mereka yang tidak sedang mencarinya.  Mari kita simak lanjutan kisahnya sambil menikmati sepiring bubur sada plus dabu-dabu lo sagela.

Rumah yang Memilih Siapa yang Menemukannya

Menemukan rumah peninggalan Belanda itu bukanlah perkara mudah, terlebih jika keberangkatannya memang direncanakan. Menurut penuturan para informan, rumah tersebut justru lebih sering ditemukan secara tidak sengaja oleh orang-orang yang sedang melintas di kawasan itu.

Penulis berhasil menemui dua orang yang pernah menyaksikan langsung rumah tersebut. Informan pertama adalah (KS), seorang pencari rotan yang tanpa sengaja menemukan rumah itu ketika menyusuri hutan bersama rekan-rekannya. Informan kedua adalah (SA). Ia menemukan rumah tersebut saat mendampingi Yunus Polahi, Risal dari Suwawa, dan seorang warga negara Kanada bernama Mr. John yang sedang melakukan survei potensi kandungan emas di kawasan tersebut.

Menurut penuturan kedua informan, rumah itu diyakini memiliki penjaga (ladu-ladungo). Penjaganya bukan manusia, melainkan sepasang ayam putih (malua pute) yang oleh masyarakat disebut malua olawe. Ayam itu dipercaya bukan ayam biasa, melainkan makhluk gaib yang hanya dijumpai di sekitar rumah tersebut. Para informan menuturkan bahwa, ekornya menyerupai ular dan tidak pernah berkembang biak. Keberadaannya pun sulit dipastikan. Kadang tampak berkeliaran di sekitar rumah, tetapi pada waktu lain menghilang tanpa jejak. Bagi masyarakat setempat, kemunculan dan lenyapnya ayam-ayam itu semakin menguatkan keyakinan bahwa rumah tersebut berada dalam penjagaan kekuatan yang tak kasatmata.

Untuk mencapai kawasan Huludu Ayumolingo, perjalanan dimulai dari Tiluti dengan mengikuti aliran Sungai Tiluti. Perjalanan dari kampung menuju lokasi biasanya ditempuh selama sekitar dua hari. Para pelintas umumnya bermalam terlebih dahulu di Tiluti sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak perbukitan yang dipenuhi tanaman kayu manis. Dari titik bermalam, perjalanan mendaki hingga ke puncak memerlukan jarak sekitar lima kilometer.

Sesampainya di puncak, Gunung Boliyohuto tampak membentang di sebelah kiri. Dari kejauhan gunung itu terlihat begitu dekat, namun menurut penuturan masyarakat, perjalanan kaki untuk mencapainya justru sangat jauh dan melelahkan. Selain melalui Tiluti, kawasan ini juga dapat diakses dari Monggolito, Kecamatan Mootilango. Akan tetapi, jalur tersebut diyakini lebih panjang dan lebih sulit ditempuh.

Bagi masyarakat setempat, kesulitan mencapai Huludu Ayumolingo bukan semata-mata disebabkan oleh medan yang terjal dan lebatnya hutan. Ada keyakinan lain yang tak kalah penting. Seseorang yang hendak memasuki kawasan itu dianjurkan terlebih dahulu menjalani ladunga liyo. Ladungo merupakan ritual adat yang disertai doa atau mantra tertentu dengan tujuan memohon keselamatan selama perjalanan. Menurut kepercayaan masyarakat, ritual tersebut bertujuan agar seseorang tidak tersesat dan dapat kembali dengan selamat. Selain itu sebagai bentuk permohonan perlindungan agar tidak diganggu oleh makhluk gaib yang diyakini menjaga rumah tua di puncak Huludu Ayumolingo

Gunung Huludu Ayumolingo merupakan daerah tangkapan air yang menjadi hulu bagi dua sungai besar, yakni Sungai Alo dan Sungai Pongawaa. Dari kawasan pegunungan itu, kedua sungai mengalir ke arah yang berbeda. Sungai Alo mengarah ke wilayah Buhu, sedangkan Sungai Pongawaa mengalir menuju Molalahu. Meskipun berpisah sejak dari hulunya, kedua sungai tersebut kembali bertemu di Danau Limboto.

Menurut ingatan masyarakat, debit Sungai Pongawaa yang mengalir ke Molalahu kini jauh berkurang dibandingkan masa lalu. Dahulu alirannya deras dan menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat, sedangkan kini volumenya tidak lagi sebesar yang dikenang para tetua kampung. Penyebab perubahan tersebut masih menjadi perbincangan di kalangan warga dan belum dapat dipastikan. Sebagian mengaitkannya dengan perubahan aliran sungai ke arah wilayah Monano, Gorontalo Utara, sementara yang lain menduga perubahan itu dipengaruhi oleh faktor-faktor alam yang belum banyak dikaji.

Selain menjadi sumber mata air, kawasan Huludu Ayumolingo juga menyimpan sejumlah air terjun. Salah satunya adalah Bontula Layuhu. Di sekitar air terjun inilah, menurut penuturan masyarakat, kerap dijumpai ular berukuran sangat besar. Warga meyakini bahwa tidak setiap orang mampu menghadapi kemunculan ular tersebut. Dibutuhkan kemampuan khusus untuk menghalaunya.

Salah seorang informan menuturkan pengalaman Yunus Polahi ketika berhadapan dengan seekor ular raksasa di kawasan itu. Dengan hanya melemparkan sebatang ranting sambil melafalkan mantra-mantra tertentu, ular tersebut perlahan bergerak menjauh lalu menghilang ke dalam rimbunnya hutan. Menurut penuturan informan, ular itu berwarna kebiru-biruan, berdiameter sebesar drum, dan panjangnya diperkirakan mencapai lima belas meter. Dalam kondisi tertentu, tubuhnya yang membujur di antara pepohonan begitu menyerupai batang kayu tumbang sehingga mudah mengecoh orang yang melintas. Masyarakat percaya, siapa pun yang lengah dapat menjadi korban keganasannya.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, cerita tentang ular raksasa di Bontula Layuhu menjadi petunjuk betapa masyarakat Molalahu mulolo memaknai Huludu Ayumolingo sebagai bentang alam yang menyimpan sumber air dan kekayaan hayati, sekaligus juga ruang sakral yang dihuni kekuatan-kekuatan tak kasatmata. Dalam pandangan mereka, hutan, gunung, sungai, dan seluruh isinya harus diperlakukan dengan hormat. Barangkali karena itulah, hingga kini kawasan tersebut tetap diselimuti rasa segan, bahkan bagi mereka yang telah berkali-kali menjelajahinya.

Bagi masyarakat Molalahu mulolo, kawasan Tupalo tidak membutuhkan papan bertuliskan “Dilarang Menambang.” Penjaganya sudah ada sejak lama. Sebagian orang mungkin menertawakan kisah ayam putih, ular raksasa, atau ladungo. Namun anehnya, orang-orang tua di kampung selalu mengatakan hal yang sama: yang masuk dengan hormat akan dipersilakan pulang, tetapi yang masuk dengan keserakahan belum tentu menemukan jalan kembali. Percaya atau tidak, itu pilihan masing-masing. (BERSAMBUNG).

  • Penulis: Momy Hunowu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Isra Mi’raj Bukan Sekadar Kisah Mukjizat, Ini Pesan Gus Aniq Nawawi Play Button

    Isra Mi’raj Bukan Sekadar Kisah Mukjizat, Ini Pesan Gus Aniq Nawawi

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 500
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tidak semata-mata dimaknai sebagai kisah mukjizat perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra Mi’raj menyimpan pesan mendalam tentang iman, proses perjuangan, dan makna tawakal dalam kehidupan umat Islam. Pesan tersebut disampaikan KH Abdullah Aniq Nawawi, MA atau Gus Aniq dalam […]

  • Si Jago Merah Mengamuk di Kota Gorontalo, Permukiman Padat Penduduk Terbakar photo_camera 11

    Si Jago Merah Mengamuk di Kota Gorontalo, Permukiman Padat Penduduk Terbakar

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Rival
    • visibility 253
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Kebakaran hebat melanda permukiman padat penduduk di Kelurahan Dulalowo, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, Selasa (16/12/2025). Sedikitnya lima rumah warga dilaporkan hangus dilalap si jago merah. Informasi yang dihimpun redaksi di lokasi kejadian, api dengan cepat membesar dan merambat ke rumah-rumah warga yang saling berdekatan. Warga sekitar panik dan berusaha menyelamatkan diri serta barang-barang […]

  • Negara Untung di Atas Kertas, Rakyat Rugi di Kehidupan Nyata?

    Negara Untung di Atas Kertas, Rakyat Rugi di Kehidupan Nyata?

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle M. Ja'far Ali Reza
    • visibility 316
    • 0Komentar

    Setiap tahun, laporan keuangan pemerintah disajikan dengan rapi. Angka-angka tersusun sistematis, realisasi anggaran tercatat dengan detail, dan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kembali diraih dari Badan Pemeriksa Keuangan. Dari sudut pandang administratif, ini adalah gambaran ideal dari tata kelola keuangan negara yang tertib dan profesional. Tidak sedikit yang menjadikan capaian ini sebagai bukti bahwa sistem […]

  • Idiosinkrasi

    Idiosinkrasi

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 219
    • 0Komentar

    Sebagai individu, manusia sangat beragam. Tidak ada satu pun manusia yang identik, bahkan untuk yang kembar identik sekalipun. Setiap kita memiliki ke-khas-an sendiri-sendiri. Ada orang yang cara berpikirnya melompat-lompat namun kreatif. Ada yang pendiam, tetapi tajam membaca situasi. Ada yang bekerja lambat namun nyaris tidak pernah keliru. Pada banyak keadaan, kita menyebut mereka “unik”. Namun […]

  • Penuh Khidmat, PERADI Gorontalo Lantik Kepengurusan Baru dan 24 Advokat Muda

    Penuh Khidmat, PERADI Gorontalo Lantik Kepengurusan Baru dan 24 Advokat Muda

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Mike
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Kota Gorontalo – Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gorontalo meresmikan kepengurusan baru periode 2022–2027. Advokat Arif Mahfudin Ibrahim, S.H., M.H., secara resmi mengemban tugas sebagai Ketua DPC setelah dilantik dalam sebuah upacara yang dipenuhi kekhidmatan di Hotel Aston, Kota Gorontalo, pada Selasa (02/12/2025). Momentum pelantikan ini merupakan perayaan regenerasi profesi hukum di […]

  • Kabar Duka: Kiai Imam Aziz, Murid Gus Dur dan Intelektual NU, Wafat di Usia 63 Tahun

    Kabar Duka: Kiai Imam Aziz, Murid Gus Dur dan Intelektual NU, Wafat di Usia 63 Tahun

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Dunia aktivis sosial dan warga Nahdlatul Ulama (NU) tengah berduka. Salah satu tokoh penting pergerakan Islam progresif, KH. Imam Aziz, wafat di usia 63 tahun pada Sabtu dini hari (12/7/2025) di Yogyakarta. Kiai Imam dikenal luas sebagai murid langsung Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia adalah figur kiai sekaligus intelektual yang aktif […]

expand_less