Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Metafora Londo Ireng, dari Penjajahan yang Berubah Menjadi Cara Berpihak

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
  • visibility 178
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sebuah negara bisa merdeka secara politik, memiliki bendera, konstitusi, dan pemerintahan sendiri. Namun, kemerdekaan tidak selalu berarti rakyatnya terbebas dari praktik-praktik yang dahulu menjadi ciri kolonialisme. Penjajahan memang telah berakhir sebagai sistem pemerintahan, tetapi cara kerjanya bisa tetap hidup dalam bentuk yang lebih halus. Ia berpindah dari medan perang ke ruang-ruang kebijakan, dari moncong senapan ke bahasa pembangunan, dari penguasaan wilayah ke penguasaan cara berpikir.

Dalam sejarah Indonesia, kita mengenal istilah Londo Ireng. Sebutan ini ditujukan kepada sebagian pribumi yang menjadi serdadu KNIL, tentara kolonial Hindia Belanda. Mereka lahir, tumbuh, dan hidup bersama masyarakat yang sama, tetapi memilih mengabdikan diri kepada pemerintah kolonial. Karena itu, Londo Ireng sejak awal tidak sekadar menunjuk pada profesi atau identitas, melainkan pada sebuah pilihan politik, berpihak kepada kekuasaan yang menindas bangsanya sendiri.

Hari ini, istilah itu tidak lagi kita pakai untuk menyebut serdadu KNIL. Namun contohnya masih terasa beragam dan dekat. Londo Ireng dapat dibaca sebagai metafora bagi siapa pun yang menjadikan kepentingan publik sebagai barang yang bisa ditukar dengan jabatan, proyek, akses, atau keuntungan pribadi. Bukan karena mereka berkebangsaan asing, melainkan karena keberpihakannya perlahan menjauh dari rakyat.

Kita tidak sulit menemukan gejala semacam itu. Hutan ditebang atas nama investasi, pesisir direklamasi atas nama pembangunan, tanah masyarakat dialihkan demi proyek strategis, sementara mereka yang kehilangan ruang hidup justru diminta memahami bahwa semua itu adalah konsekuensi dari kemajuan. Yang dipersoalkan bukan lagi apakah kebijakan itu adil, melainkan seberapa cepat ia dapat dijalankan.

pemikiran Edward Said Melalui Orientalism, Said memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga membentuk cara orang melihat kenyataan. Pengetahuan, bahasa, dan narasi bukan sesuatu yang netral. Semuanya dapat dipakai untuk menentukan siapa yang dianggap penting, siapa yang boleh didengar, dan siapa yang harus disingkirkan.

Analisa said terasa relevan ketika kita menyaksikan bagaimana kata-kata seperti pembangunan, investasi, hilirisasi, atau kepentingan nasional begitu mudah memperoleh tempat dalam perdebatan publik. Tentu istilah-istilah itu tidak salah. Persoalannya muncul ketika kata-kata tersebut dipakai sebagai tameng untuk menghindari pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang menanggung akibatnya?

Tidak sedikit masyarakat yang kehilangan tanah karena proyek pembangunan. Nelayan kehilangan wilayah tangkap akibat reklamasi. Hutan yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan berubah menjadi konsesi perusahaan. Anehnya, mereka yang mempertanyakan keadaan itu justru sering dicap sebagai anti-kemajuan atau penghambat investasi. Bahasa akhirnya tidak lagi sekadar menjelaskan kenyataan, tetapi ikut menentukan kenyataan mana yang dianggap sah untuk dipercaya.

Edward Said mengulik bahwa dominasi akan bertahan selama ia berhasil membentuk cara orang memahami dunia. Sebuah kebijakan yang merugikan masyarakat dapat diterima sebagai sesuatu yang lumrah apabila terus-menerus dibungkus dengan narasi tentang pertumbuhan ekonomi dan kepentingan nasional. Lama-kelamaan, yang semula terasa janggal berubah menjadi kebiasaan.

Maka makna Londo Ireng perlu dibaca kembali. Ia bukan lagi tentang seragam KNIL atau sejarah kolonial semata. Ia adalah sikap yang menempatkan kepentingan segelintir orang di atas kepentingan bersama. Ia hadir ketika jabatan dipandang sebagai jalan menuju kekayaan, bukan sebagai amanah. Ia muncul ketika sumber daya alam diperlakukan semata-mata sebagai komoditas, bukan sebagai warisan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Yang membuat keadaan ini semakin rumit ialah kenyataan bahwa semuanya sering dibungkus dengan simbol-simbol kebangsaan. Pidato dipenuhi kata “rakyat”, “Indonesia”, dan “nasionalisme”. Namun ukuran keberpihakan tidak pernah ditentukan oleh seberapa sering kata-kata itu diucapkan. Ia terlihat dari keputusan yang diambil ketika kepentingan rakyat berbenturan dengan kepentingan modal atau kekuasaan.

Karena itu, kritik tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi negara. Justru kritik adalah cara agar negara tidak kehilangan arah. Edward Said pernah menulis bahwa tugas seorang intelektual adalah menyampaikan kebenaran di hadapan kekuasaan, bukan menyesuaikan kebenaran agar terasa nyaman bagi penguasa. Ketika pengetahuan hanya dipakai untuk membenarkan keputusan yang sudah dibuat, ia kehilangan fungsi etiknya.

Sejatinya, Londo Ireng bukanlah sosok yang tinggal di masa lalu. Ia adalah kemungkinan yang selalu hadir dalam setiap zaman. Ia muncul setiap kali kepentingan rakyat disisihkan demi keuntungan segelintir orang. Ia hidup ketika bahasa dipakai untuk menutupi ketidakadilan, ketika kekuasaan lebih sibuk menjaga dirinya sendiri daripada melayani masyarakat.

Kemerdekaan tidak cukup dipahami sebagai peristiwa yang diperingati setiap bulan Agustus. Kemerdekaan juga harus terus diperjuangkan dalam cara kita menyusun kebijakan, mengelola kekayaan alam, dan menentukan kepada siapa negara benar-benar berpihak. Sebab sebuah bangsa tidak hanya dapat kehilangan kedaulatannya karena diduduki oleh bangsa lain. Ia juga dapat kehilangan makna kemerdekaannya ketika kekuasaan yang lahir dari bangsanya sendiri perlahan menjauh dari rakyat yang seharusnya dilayaninya.

Penulis Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Maros Musnahkan 359 Gram Narkoba, Selamatkan 7.000 Warga dari Ancaman Penyalahgunaan

    Polres Maros Musnahkan 359 Gram Narkoba, Selamatkan 7.000 Warga dari Ancaman Penyalahgunaan

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Polres Maros memusnahkan barang bukti (BB) narkoba hasil pengungkapan Satres Narkoba selama tiga bulan terakhir. Pemusnahan dipimpin langsung Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, di halaman Mapolres Maros, Jumat (5/12/2025). Total BB yang dimusnahkan mencapai 359 gram dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp500 juta. Polisi menyebut jumlah tersebut setara dengan penyelamatan sedikitnya 7.000 […]

  • Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Sejumlah intelektual muda di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) menyerukan agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) segera mengembalikan konsesi tambang yang diberikan pemerintah kepada organisasi. Mereka menilai bahwa kepemilikan dan pengelolaan tambang oleh ormas keagamaan seperti NU berisiko merusak marwah NU sebagai jam’iyah, dan dapat membawa mudharat yang jauh lebih besar dibanding manfaatnya, Minggu(7/12/2025). Salah satu […]

  • Berdebat Panjang di Kemendagri, Srikandi Puncak Botu Ini Bersikeras Bonpes Jadi Daerah Definif

    Berdebat Panjang di Kemendagri, Srikandi Puncak Botu Ini Bersikeras Bonpes Jadi Daerah Definif

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo mendatangi gedung Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), Jumat, (7/2/2025), kemarin. Kedatangan mereka guna menindaklanjuti usulan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB), Bone Pesisir. Akan tetapi saat kedatangan itu didapati Bone Pesisir tidak termasuk dalam daftar usulan. Dari sekian daftar usulan yang tengah dipaparkan, hanya Bone Pesisir yang tidak ada dalam daftar usulan. […]

  • DPRD Sulteng Desak Gubernur Hentikan Aktivitas PT Pantas Indomining

    DPRD Sulteng Desak Gubernur Hentikan Aktivitas PT Pantas Indomining

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 567
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Palu –DPRD Provinsi Sulawesi Tengah secara resmi menyampaikan rekomendasi kepada Gubernur Sulawesi Tengah terkait dugaan aktivitas pertambangan ilegal yang dilakukan oleh PT Pantas Indomining di wilayah Batu Mahik Dongkalan, Kabupaten Banggai. Surat tersebut ditandatangani Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Mohammad Arus Abdul Karim, sebagai tindak lanjut dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD […]

  • Rahmatan Lil Alamin, Bukan Laknatan Lil Alamin

    Rahmatan Lil Alamin, Bukan Laknatan Lil Alamin

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 244
    • 0Komentar

    (Kader PMII dan Pembina GUSDURian Ternate). Fenomena alam harus dikaji secara mendalam karena memiliki asbab (akibat) dari terjadinya sesuatu, konstruksi makna menggunakan pendekatan hermeneutika memiliki banyak perspektif. Pertama, Ada yang menilai bahwa bencana alam adalah sebuah realitas yang alami dan merupakan hukum alam. Kedua, ada juga yang berpandangan bahwa tidak semua kejadian alam (bencana alam) […]

  • Kekeringan dan krisis air bersih.Masalah yang tidak kunjung usai Di Kecamatan Bontoa

    Kekeringan dan krisis air bersih.Masalah yang tidak kunjung usai Di Kecamatan Bontoa

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Nulondalo.com,Maros – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ribuan warga di kawasan pesisir kini harus bertahan dengan menggunakan air sumur tadah hujan yang keruh bahkan terasa asin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa. Selama lebih […]

expand_less