Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Metafora Londo Ireng, dari Penjajahan yang Berubah Menjadi Cara Berpihak

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • visibility 12
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sebuah negara bisa merdeka secara politik, memiliki bendera, konstitusi, dan pemerintahan sendiri. Namun, kemerdekaan tidak selalu berarti rakyatnya terbebas dari praktik-praktik yang dahulu menjadi ciri kolonialisme. Penjajahan memang telah berakhir sebagai sistem pemerintahan, tetapi cara kerjanya bisa tetap hidup dalam bentuk yang lebih halus. Ia berpindah dari medan perang ke ruang-ruang kebijakan, dari moncong senapan ke bahasa pembangunan, dari penguasaan wilayah ke penguasaan cara berpikir.

Dalam sejarah Indonesia, kita mengenal istilah Londo Ireng. Sebutan ini ditujukan kepada sebagian pribumi yang menjadi serdadu KNIL, tentara kolonial Hindia Belanda. Mereka lahir, tumbuh, dan hidup bersama masyarakat yang sama, tetapi memilih mengabdikan diri kepada pemerintah kolonial. Karena itu, Londo Ireng sejak awal tidak sekadar menunjuk pada profesi atau identitas, melainkan pada sebuah pilihan politik, berpihak kepada kekuasaan yang menindas bangsanya sendiri.

Hari ini, istilah itu tidak lagi kita pakai untuk menyebut serdadu KNIL. Namun contohnya masih terasa beragam dan dekat. Londo Ireng dapat dibaca sebagai metafora bagi siapa pun yang menjadikan kepentingan publik sebagai barang yang bisa ditukar dengan jabatan, proyek, akses, atau keuntungan pribadi. Bukan karena mereka berkebangsaan asing, melainkan karena keberpihakannya perlahan menjauh dari rakyat.

Kita tidak sulit menemukan gejala semacam itu. Hutan ditebang atas nama investasi, pesisir direklamasi atas nama pembangunan, tanah masyarakat dialihkan demi proyek strategis, sementara mereka yang kehilangan ruang hidup justru diminta memahami bahwa semua itu adalah konsekuensi dari kemajuan. Yang dipersoalkan bukan lagi apakah kebijakan itu adil, melainkan seberapa cepat ia dapat dijalankan.

pemikiran Edward Said Melalui Orientalism, Said memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga membentuk cara orang melihat kenyataan. Pengetahuan, bahasa, dan narasi bukan sesuatu yang netral. Semuanya dapat dipakai untuk menentukan siapa yang dianggap penting, siapa yang boleh didengar, dan siapa yang harus disingkirkan.

Analisa said terasa relevan ketika kita menyaksikan bagaimana kata-kata seperti pembangunan, investasi, hilirisasi, atau kepentingan nasional begitu mudah memperoleh tempat dalam perdebatan publik. Tentu istilah-istilah itu tidak salah. Persoalannya muncul ketika kata-kata tersebut dipakai sebagai tameng untuk menghindari pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang menanggung akibatnya?

Tidak sedikit masyarakat yang kehilangan tanah karena proyek pembangunan. Nelayan kehilangan wilayah tangkap akibat reklamasi. Hutan yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan berubah menjadi konsesi perusahaan. Anehnya, mereka yang mempertanyakan keadaan itu justru sering dicap sebagai anti-kemajuan atau penghambat investasi. Bahasa akhirnya tidak lagi sekadar menjelaskan kenyataan, tetapi ikut menentukan kenyataan mana yang dianggap sah untuk dipercaya.

Edward Said mengulik bahwa dominasi akan bertahan selama ia berhasil membentuk cara orang memahami dunia. Sebuah kebijakan yang merugikan masyarakat dapat diterima sebagai sesuatu yang lumrah apabila terus-menerus dibungkus dengan narasi tentang pertumbuhan ekonomi dan kepentingan nasional. Lama-kelamaan, yang semula terasa janggal berubah menjadi kebiasaan.

Maka makna Londo Ireng perlu dibaca kembali. Ia bukan lagi tentang seragam KNIL atau sejarah kolonial semata. Ia adalah sikap yang menempatkan kepentingan segelintir orang di atas kepentingan bersama. Ia hadir ketika jabatan dipandang sebagai jalan menuju kekayaan, bukan sebagai amanah. Ia muncul ketika sumber daya alam diperlakukan semata-mata sebagai komoditas, bukan sebagai warisan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Yang membuat keadaan ini semakin rumit ialah kenyataan bahwa semuanya sering dibungkus dengan simbol-simbol kebangsaan. Pidato dipenuhi kata “rakyat”, “Indonesia”, dan “nasionalisme”. Namun ukuran keberpihakan tidak pernah ditentukan oleh seberapa sering kata-kata itu diucapkan. Ia terlihat dari keputusan yang diambil ketika kepentingan rakyat berbenturan dengan kepentingan modal atau kekuasaan.

Karena itu, kritik tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi negara. Justru kritik adalah cara agar negara tidak kehilangan arah. Edward Said pernah menulis bahwa tugas seorang intelektual adalah menyampaikan kebenaran di hadapan kekuasaan, bukan menyesuaikan kebenaran agar terasa nyaman bagi penguasa. Ketika pengetahuan hanya dipakai untuk membenarkan keputusan yang sudah dibuat, ia kehilangan fungsi etiknya.

Sejatinya, Londo Ireng bukanlah sosok yang tinggal di masa lalu. Ia adalah kemungkinan yang selalu hadir dalam setiap zaman. Ia muncul setiap kali kepentingan rakyat disisihkan demi keuntungan segelintir orang. Ia hidup ketika bahasa dipakai untuk menutupi ketidakadilan, ketika kekuasaan lebih sibuk menjaga dirinya sendiri daripada melayani masyarakat.

Kemerdekaan tidak cukup dipahami sebagai peristiwa yang diperingati setiap bulan Agustus. Kemerdekaan juga harus terus diperjuangkan dalam cara kita menyusun kebijakan, mengelola kekayaan alam, dan menentukan kepada siapa negara benar-benar berpihak. Sebab sebuah bangsa tidak hanya dapat kehilangan kedaulatannya karena diduduki oleh bangsa lain. Ia juga dapat kehilangan makna kemerdekaannya ketika kekuasaan yang lahir dari bangsanya sendiri perlahan menjauh dari rakyat yang seharusnya dilayaninya.

Penulis Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wali Kota Palu Tinjau Titik Banjir di Tawaeli, Instruksikan Penanganan Menyeluruh

    Wali Kota Palu Tinjau Titik Banjir di Tawaeli, Instruksikan Penanganan Menyeluruh

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 261
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wali Kota Palu, H. Hadianto Rasyid, S.E., didampingi sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, meninjau langsung sejumlah titik banjir di wilayah Kecamatan Tawaeli, Minggu malam (11/1/2026). Peninjauan tersebut merupakan bentuk respons cepat Pemerintah Kota Palu terhadap dampak banjir yang merendam beberapa kawasan permukiman warga akibat curah hujan tinggi. Adapun lokasi yang dikunjungi […]

  • 360 Mahasiswa KKN Tematik Unhas Terjun ke Maros, Fokus Inovasi Desa dan Pendampingan Program PUPR

    360 Mahasiswa KKN Tematik Unhas Terjun ke Maros, Fokus Inovasi Desa dan Pendampingan Program PUPR

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Sebanyak 360 mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di Kabupaten Maros. Kegiatan pengabdian masyarakat ini akan berlangsung selama hampir dua bulan, mulai 22 Desember 2025 hingga 14 Februari 2026. Ratusan mahasiswa tersebut disebar di 11 kecamatan dan 35 desa/kelurahan di wilayah Kabupaten Maros. Kehadiran peserta KKN Tematik […]

  • Ringankan Beban Lansia, BUMDes Dulohupa Berbagi di Bulan Puasa photo_camera 2

    Ringankan Beban Lansia, BUMDes Dulohupa Berbagi di Bulan Puasa

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 262
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dulohupa Desa Buti, Kecamatan Mananggu, menyalurkan paket sembako kepada sejumlah warga lanjut usia (lansia) di Desa Buti. Program sosial ini menyasar para lansia yang dinilai membutuhkan perhatian lebih, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pokok selama menjalankan ibadah puasa. Direktur BUMDes Dulohupa, Akram Talibana, menjelaskan bahwa paket yang dibagikan berisi […]

  • Sah! Ini dia Badan Usaha yang Bisa Memiliki Izin Pertambangan

    Sah! Ini dia Badan Usaha yang Bisa Memiliki Izin Pertambangan

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 140
    • 0Komentar

    DPR RI resmi mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) perubahan keempat Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) menjadi UU. Hal tersebut dilakukan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-13 Masa Persidangan II Tahun Sidang 2024-2025 hari ini, Selasa (18/2). Dalam Rapat Paripuurna tersebut, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Achmad Doli Kurnia Tanjung […]

  • Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Bupati Halmahera Timur, Maluku Utara, Ubaid Yakub diwakili Nurdin Hadi Asisten ll Bidang Administrasi, dengan resmi membuak kegiatan Kursusu Wasit Bola Voli Lisensi Dasar. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Halmahera Timur di Aula Penginapan Rahmat, Desa Soagimalaha, Kecamatan Kota Maba, Rabu (26/11/2025). Dalam kesempatan tersebut. Nurdin Hadi dalam sambutannya mengatakan, atas […]

  • BNPB Imbau Warga Waspada Pasca Gempa M 7,6 dan Potensi Gelombang Susulan photo_camera 2

    BNPB Imbau Warga Waspada Pasca Gempa M 7,6 dan Potensi Gelombang Susulan

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 345
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada pascagempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah laut di tenggara Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, pada Kamis (2/4) pukul 06.48 WIB. Gempa tersebut dirasakan sangat kuat di Kota Bitung dan sekitarnya, serta hingga ke Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Guncangan yang […]

expand_less