Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Paradoks Pendidikan Papua

  • account_circle Almunauwar Bin Rusli
  • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
  • visibility 292
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ketika film “Pesta Babi : Kolonialisme di Zaman Kita (2026)” muncul di ruang publik, hampir segenap masyarakat sipil Indonesia terperangah dengan model pembangunan di Papua. Terlepas dari pro dan kontra, namun terlihat jelas bahwa infrastruktur pendidikan yang layak masih menjadi barang langka di tanah adat mereka. Di sisi lain, barak militer dan eskavator adalah pemandangan tanpa sensor. Bagi saya,  keterbelakangan Papua bukan disebabkan kutukan Tuhan tapi karena adanya aksi mencurangi konstitusi. Jika masyarakat Papua tidak dihina seperti kera, tak mungkin mereka terus meneriakkan “cukimai” sambil membawa panah, tombak hingga belati tulang kasuari. Jika hasil sumber daya alam Papua tidak dikorupsi oleh pemerintah pusat, daerah dan pengusaha swasta, tak mungkin mereka bernasionalisme ganda lalu minta berpisah. Tulisan ini jangan dianggap sebagai alat provokasi massa melainkan sebuah upaya untuk meninjau kembali arti penting martabat manusia.

Pembangunan Tanpa Kebenaran

Setiap pembangunan selalu berurusan dengan sistem pendidikan. Namun,  Data BPS (2025) memberitahu kita bahwa tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masih didominasi oleh tamatan SD (sekitar 22,27%), sedangkan tamatan perguruan tinggi (Diploma hingga S3) hanya 6,82%. Sedangkan angka anak yang tidak pernah sekolah atau putus sekolah masih cukup tinggi seperti di  Papua Barat (2,12%), dan  Papua (2,0%). Pertanyaannya,  Apakah orang Papua haram mengkritik pembangunan? Apakah karena stigma keterbelakangan sehingga mereka cukup menjadi penonton ketimbang pemain di lapangan? Atau, jangan-jangan karena penampilan mereka yang lusuh sehingga membuat kita jijik untuk bertemu? Memenjarakan masyarakat Papua dalam kebodohan adalah sebuah kejahatan. Marx pernah berujar jika kebodohan tidak akan pernah membantu siapapun.

Dalam perspektif Bank Dunia (2025), kebodohan merupakan cacat karakter personal yang muncul karena ketidaktahuan dan hilangnya potensi manusia akibat kegagalan sistemik dari minimnya pengalaman pembelajaran (suboptimal learning experience) dan kurangnya modal manusia  (human capital deficit). Bangunan yang hampir roboh, fasilitas yang timpang, jarak yang terjal, dan kurangnya tenaga pengajar sering menjadi bayang-bayang kegelisahan Papua. Tentu kita mengerti bahwa kebodohan adalah pintu masuk bagi kemiskinan. Masalah kemiskinan di tengah kekayaan alam Papua betul-betul sulit dipahami oleh akal sehat manusia. Bank Dunia (2025) mendefinisikan kemiskinan sebagai bentuk kehilangan kesejahteraan multidimensi seperti ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup dasar yakni makanan, pakaian, dan perumahan serta minimnya akses ke pendidikan, kesehatan, dan partisipasi dalam masyarakat.

Data BPS (2025) pun menjelaskan jumlah penduduk miskin di Indonesia  sebesar 23,36 juta orang. Adapun wilayah dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia adalah Provinsi Papua Pegunungan dengan angka kemiskinan mencapai 30,03%,  Papua Tengah 28,9%, Papua Barat 20,66%, Papua Selatan 19,71%, dan Papua 19,16%. Kalau memang Prabowo sudah ‘dibaptis’ menjadi presiden sosialis, maka  saya rasa dia cukup berpengetahuan bahwa masalah  ketertinggalan Papua harus diselesaikan dengan tindakan kritis bukan dikaburkan dengan progam makan bergizi gratis. Memberi makan orang memang mulia, tapi merampas aset koruptor jauh lebih berharga. Tanaman petani yang subur tidak perlu diberi pupuk mahal tapi hanya cukup membunuh hama yang nakal.

Menagih Moral Pemerintah 

Dalam Political Order in Changing Societies (1968) Huntington mengatakan bahwa apabila tingginya hasrat masyarakat untuk berpartisipasi dalam politik tidak diimbangi dengan pelembagaan politik yang terstruktur, maka akan memicu kekerasan dan kudeta. Oleh karenanya, sebelum memikirkan bentuk demokrasi, negara-negara berkembang lebih membutuhkan pemerintahan yang kuat, efektif, dan stabil. Sedangkan dalam State-Building: Governance and World Order in the 21st Century (2004), Fukuyama mengatakan jika kapasitas dan peran institusi  negara sangat penting untuk diperkuat. Kebijakan pasar bebas (neo-lib) yang memangkas habis intervensi pemerintah akan memperdalam jurang kemiskinan, konflik sosial, dan runtuhnya layanan publik dasar. Meskipun begitu, Fukuyama mengingatkan kita bahwa yang harus dikuatkan dari negara adalah kapasitasnya dalam menegakkan hukum dan pelayanan, bukan memperluas bidang campur tangannya secara serampangan. Akhirnya, Fukuyama berkesimpulan jika setiap negara mutlak perlu membutuhkan kelembagaan yang kuat, bersih, dan meritokratis agar mampu merespons tantangan keamanan serta kesejahteraan di abad ke-21.

Penutup

Para pengajar sekolah rakyat dan sekolah garuda harus  mencintai orang Papua tanpa tapi-tapi. Mereka harus tahu cara bertahan di gunung dan hutan, bukan hanya di hotel apalagi restoran. Tidak guna kita mendidik orang yang sudah ataupun mendekati pintar namun dengan sadar mengabaikan mereka yang sedangkan membaca A B C D saja susahnya minta ampun. Sekolah harus operasional. Sekolah harus fungsional. Sekolah harus diorganisasikan secara lokal. Sekolah harus berwawasan global. Dan terpenting, sekolah harus membuat murid menyadari siapa dirinya, posisinya, dan akan seperti apa dia kelak.  Berhentilah membicarakan polemik pendidikan negeri ini. Berhentilah memaki keterbelakangan. Berhentilah menjaga jarak dengan mereka yang terpojok di pedalaman. Jangan sampai anjing pelacak tentara lebih pintar daripada anak mama-mama Papua. Ingat, hanya orang-orang sekolah yang berani melawan kejahatan pemerintah. Sekian !

Penulis Dosen IAIN Manado Sulawesi Utara

  • Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Komentar (1)

  • maman

    film Pesta Babi itu gambaran nyata. kesalahan hanya ada di rekaman ijin untuk bikin film. dalih pembukaan lahan. coba kejar tanggapan haji isam.

    Balas3 Agustus 2026 22:31

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MUI Gorontalo Kukuhkan Pengurus Baru Periode 2025–2030

    MUI Gorontalo Kukuhkan Pengurus Baru Periode 2025–2030

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo resmi mengukuhkan kepengurusan baru untuk masa khidmat 2025–2030. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Auditorium Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo, Sabtu (23/8/2025), dan dihadiri para tokoh agama, pejabat pemerintah, serta perwakilan ormas Islam se-Provinsi Gorontalo. Pengukuhan dipimpin langsung oleh Ketua MUI Pusat, Prof. Dr. Hj. Amani Lubis, MA. Dalam sambutannya, […]

  • Pribumisasi: Metode Berpikir Gus Dur

    Pribumisasi: Metode Berpikir Gus Dur

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Catatan dari Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Penulis Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Bagaimana memahami Gus Dur jika kita tak pernah bertemu dengannya? Bagaimana generasi sekarang dapat mendaurulang cara berpikirnya? Warisan Gus Dur sesungguhnya bukan sekedar gagasan, humor, atau praktik terbaik, melainkan metode berpikir yang bisa diterapkan hingga […]

  • Benarkah Surat Garapan Tanah di Boribellayya Maros Dipatok Rp10 Juta?

    Benarkah Surat Garapan Tanah di Boribellayya Maros Dipatok Rp10 Juta?

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Dugaan adanya biaya hingga Rp10 juta dalam pengurusan surat garapan tanah di Kelurahan Boribellayya, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, menjadi perhatian dan memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Informasi tersebut mencuat setelah seorang warga berinisial HZ mengaku mengetahui adanya biaya pembuatan surat garapan yang disebut mencapai Rp10 juta. “10 juta, mau lokasi luas, mau […]

  • Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 211
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros— Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, kesiapsiagaan dan penjagaan keamanan terus diperketat oleh berbagai instansi dan institusi di Kabupaten Maros. Langkah ini dilakukan guna memastikan keamanan, ketertiban, serta kenyamanan masyarakat selama momentum akhir tahun, sejalan dengan Surat Edaran Bupati Maros terkait pengamanan Nataru. Menindaklanjuti surat edaran tersebut, Camat Maros Baru, A. […]

  • Akademisi dan Ulama Soroti Pengadaan MacBook Rp25 Juta untuk Anggota DPRD Gorontalo

    Akademisi dan Ulama Soroti Pengadaan MacBook Rp25 Juta untuk Anggota DPRD Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 403
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Rencana pengadaan laptop merek MacBook Air untuk 45 anggota DPRD Provinsi Gorontalo menuai sorotan dari kalangan akademisi dan ulama. Pengadaan tersebut dianggarkan sekitar Rp25 juta per unit dan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Gorontalo. Kebijakan itu menjadi perbincangan publik setelah muncul pertanyaan mengenai urgensi penggunaan perangkat dengan kategori premium […]

  • Pendamping PKH Pallantikang Klarifikasi Isu Pendataan dan Biaya Administrasi, Tegaskan Bukan Kewenangannya

    Pendamping PKH Pallantikang Klarifikasi Isu Pendataan dan Biaya Administrasi, Tegaskan Bukan Kewenangannya

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 210
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros –  Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kelurahan Pallantikang, Maryam, akhirnya angkat bicara menanggapi pemberitaan yang beredar terkait dugaan permasalahan pendataan penerima bantuan dan isu pemungutan biaya administrasi bantuan sosial. Klarifikasi ini disampaikan secara terbuka sebagai upaya meredam polemik yang dinilai telah mengganggu ketertiban dan ketenangan masyarakat. Maryam menegaskan bahwa proses pendataan penerima manfaat […]

expand_less