Di Meja Syukuran, Kita Menemukan Makna Indonesia
- account_circle Ir. Panji Sukma Nugraha S.T., M.M
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 14
- print Cetak

Ketua Jaringan Aktivis Lintas Agama Nusantara (JALAN), Panji Sukma Nugraha (Tengah).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh:
Ir. Panji Sukma Nugraha S.T., M.M Founder Pemuda Nusantara Foundantion
Nulondalo.com – Setiap 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan dengan upacara, pengibaran bendera, perlombaan, dan berbagai kegiatan yang penuh semangat. Namun, di balik kemeriahan itu, ada bentuk perayaan yang jauh lebih sederhana, tetapi menyimpan makna kebangsaan yang dalam.
Di desa-desa dan kampung-kampung, hingga tingkat RT, masyarakat berkumpul untuk berdoa dan melaksanakan syukuran bersama. Ada yang membawa makanan, ada yang membawa sekadarnya, sesuai kemampuan dan keikhlasan. Tidak ada kewajiban untuk membawa sesuatu. Tidak pula ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.
Semua duduk bersama.
Yang punya lebih berbagi dengan yang membutuhkan. Yang tidak membawa apa-apa tetap menjadi bagian dari kebersamaan. Tidak ada sekat status sosial, pekerjaan, maupun kemampuan ekonomi. Yang ada adalah rasa syukur karena kita masih diberi kesempatan untuk hidup bersama sebagai satu bangsa.
Di meja syukuran yang sederhana itu, kita menemukan makna Indonesia.
Sesungguhnya nilai-nilai tersebut bukanlah sesuatu yang baru lahir setelah Indonesia merdeka. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, leluhur dan nenek moyang Nusantara telah mewariskan nilai kehidupan yang menjunjung tinggi gotong royong, musyawarah, kebersamaan, saling membantu, dan hidup dalam harmoni.
Dari kehidupan masyarakat adat, tradisi desa, hingga berbagai kearifan lokal di pelosok Nusantara, kita menemukan satu pesan yang sama: manusia tidak dapat hidup sendiri. Kepentingan bersama harus dijaga, karena kehidupan akan menjadi kuat ketika setiap orang saling menopang.
Nilai-nilai luhur itulah yang kemudian menemukan bentuknya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila memiliki akar yang panjang dalam pengalaman, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Nusantara.
Karena itu, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga merupakan kesempatan bagi kita untuk melanjutkan dan merawat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Pesan untuk Kita Semua
Di tengah kehidupan perkotaan yang semakin individualistis, dan di tengah dunia politik yang terkadang dipenuhi ego, kepentingan, serta ambisi kekuasaan, kita perlu kembali melihat ke akar kita sendiri.
Jangan sampai ambisi untuk menjadi besar justru membuat kita kehilangan nilai-nilai yang dahulu membuat bangsa ini mampu bertahan.
Jangan sampai kepentingan pribadi, kelompok, maupun kekuasaan mengorbankan gotong royong, persaudaraan, musyawarah, kepedulian, dan rasa kemanusiaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan Nusantara selama berabad-abad.
Kita tidak boleh menjadi bangsa yang maju secara pembangunan, tetapi mundur dalam nilai. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang kaya secara sumber daya, tetapi miskin dalam rasa persaudaraan.
Indonesia adalah gen besar Nusantara.
Bangsa yang lahir dari perjalanan panjang peradaban, dengan kekayaan alam, budaya, tradisi, dan kearifan yang luar biasa. Kita adalah bangsa yang besar, kuat, kaya, dan memiliki sejarah panjang untuk dihormati.
Karena itu, menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan akar. Menjadi maju tidak berarti harus melupakan leluhur. Justru bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melangkah ke masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.
Para pahlawan telah memperjuangkan kemerdekaan dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Tugas kita hari ini adalah menjaga apa yang telah mereka perjuangkan sekaligus merawat warisan leluhur: persatuan, gotong royong, musyawarah, kemanusiaan, dan rasa persaudaraan.
Tidak perlu meja yang mewah. Tidak perlu hidangan yang berlimpah.
Cukup ada doa, rasa syukur, keikhlasan, dan kemauan untuk duduk bersama.
Karena di meja syukuran yang sederhana itulah, kita menemukan sesuatu yang jauh lebih besar: Indonesia yang berakar pada nilai luhur Nusantara—Indonesia yang hidup dalam gotong royong, persaudaraan, dan kebersamaan.
Dan mungkin, itulah salah satu cara paling sederhana untuk memahami arti merdeka: tetap menjadi manusia Indonesia yang tidak melupakan akar, tidak kehilangan persaudaraan, dan tidak meninggalkan gotong royong yang telah diwariskan leluhur jauh sebelum republik ini lahir.
- Penulis: Ir. Panji Sukma Nugraha S.T., M.M
- Editor: Risman Lutfi

Saat ini belum ada komentar