Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ritual Rindu Buaya dan Restu Tanah

  • account_circle Suaib Pr
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • visibility 38
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masyarakat Pattae di Dusun Kurra, Desa Kurra Mapilli (Kurma), Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, masih teguh merawat tradisi leluhur mereka yang disebut mappande rindu (ritual memberi makan buaya). Tradisi ini berakar pada keyakinan bahwa di antara manusia terdapat sosok yang bersaudara dengan buaya.

Karena itu, hubungan dengan hewan tersebut dijaga melalui penghormatan dan persembahan, sebagai wujud kesetiaan pada ikatan kosmologis antara manusia dan alam. Menurut keterangan warga setempat, tradisi tersebut tidak dilakukan setiap tahun, melainkan hanya sekali dalam tiga atau empat tahun.

Rangkaian ritual itu dimulai dari seorang sando (dukun) yang sekaligus sebagai tetua adat yang dipercaya menentukan hari baik. Setelah hari baik ditetapkan, kabar disampaikan kepada masyarakat yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pa’bijaga (pawang buaya).

Begitu pengumuman keluar, warga berkumpul untuk bermusyawarah. Ada yang ditugaskan mencari kayu bakar, ada pula yang mengambil bambu muda untuk membuat lamang. Semua orang punya peran. Laki-laki diwajibkan menyediakan ayam jantan merah berkaki putih, jika tidak ada, benang putih harus diikat di kaki ayam sebelum disembelih.

Perempuan pun memiliki kewajiban: menyediakan ayam berkaki putih. Ketika semua persyaratan terpenuhi, masyarakat berkumpul di sebuah tempat yang disebut salo atau linrung tepat di muara sungai.

Pagi hari, pukul tujuh pagi, para lelaki mulai sibuk membuat para-para; rak kayu sederhana sebagai tempat sesaji. Di atasnya, sando melarungkan banno (brondong jagung atau padi), darah ayam, telur, dan nasi.

Sementara itu, para perempuan mencuci beras, memasukkannya ke dalam bambu muda, lalu dibakar oleh para lelaki. Mereka juga membuat nasu kadundung, masakan sederhana yang hanya menggunakan garam, daun kedondong, dan bawang merah, tanpa tambahan penyedap buatan.

Di atas para-para, daun sirih dan pinang wajib hadir. Pinang dibelah menjadi beberapa bagian, lalu dialasi daun sirih, tanpa wadah lain selain daun itu sendiri. Semua ini menjadi simbol kesucian dan penghormatan pada tradisi.

Selain mappande rindu, ada pula tradisi mappande lita’, sebuah ritual yang dilakukan sebelum membuka lahan besar atau mendirikan rumah. Pelaksanaan ritual ini menggunakan ayam berwarna hitam, ditemani sirih dan pinang.

Para pelaku ritual ini percaya bahwa tanah dan pepohonan memiliki penjaga. Karena itu, sebelum menebang hutan atau mendirikan rumah, mereka harus terlebih dahulu meminta izin dengan cara melakukan ritual khusus.

Dalam prosesi tersebut, ayam hitam disembelih sebagai tanda penghormatan kepada penjaga alam, agar manusia tidak merusak tanpa restu. Dengan demikian, kedua tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan cara masyarakat Kurra menjaga hubungan dengan leluhur, sesama, dan alam.

Solidaritas dan Simbol

Jika ditelaah lebih jauh, tradisi atau ritual mappande rindu dan mappande lita’, memperlihatkan bagaimana masyarakat bekerja bersama. Setiap orang punya peran; laki-laki, perempuan, tetua adat, hingga pawang. Ini menunjukkan bahwa ritual bukan sekadar urusan spiritual, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial.

Perangkat ritual, seperti ayam dengan warna tertentu, sirih dan pinang, serta nasi dalam bambu; sarat makna simbolik. Kesederhanaan bahan itu menegaskan kesucian dan penghormatan, sekaligus mengingatkan bahwa hidup mesti dijalani dengan sederhana, jauh dari keserakahan, sebagai wujud hormat kepada alam dan leluhur.

Menurut Ridwan Alimuddin (2026) kearifan lokal masa lampau yang memuliakan buaya sebagai “nenek” atau “saudara” memiliki fungsi ekologis sebagai mekanisme perlindungan habitat yang kini telah runtuh akibat tekanan populasi, alih fungsi lahan, dan praktik perikanan destruktif.

Hal yang sama juga pada tradisi ritual mappande lita’ yang menggambarkan adab ekologis, bahwasanya kendati manusia mempunyai posisi istimewa sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, namun  mereka tidak boleh seenaknya menjarah alam, apalagi dengan pendekatan keserakahan.

Menyelami makna filosofis dibalik tradisi mappande lita’, tidak hanya sekadar mengingatkan bahwa betapa Tanah sangat sakral bagi masyarakat Pattae yang mendiami Dusun Kurra, tetapi juga mengkonfirmasi bahwasanya manusia di atas bumi harus senantiasa mengedepan keadaban dalam berinteraksi, termasuk pada alam.

Dalam tradisi lokal masyarakat Pattae, relasi manusia dengan alam adalah relasi suci yang erat kaitannya dengan perilaku manusia. Karena itu, dalam tradisi lisan, sering diucapkan nasihat yang sekaligus menjadi mantra kehidupan mereka, berbunyi:

“Papiai ampemu, papiai kedomu, anna teka loppona lita, turunni madokona lita nasaba makanjjai ampemu, makanjjai kedomu, makanjai gau-gau’mu,”. (Perbaiki akhlakmu, sikap dan perilakumu saat berjalan di muka bumi, maka malaikat tanah ikut bergembira. Sehingga suburnya tanah senantiasa terjaga karena akhlak, sikap dan perilakumu”.

Pada akhirnya, tradisi atau ritual mappande rindu dan mampande lita’, tidak sekadar dokumentasi budaya, tetapi juga refleksi kritis. Ia mengingatkan bahwa tradisi yang mungkin dianggap “mistis” sebenarnya menyimpan logika ekologis dan etika sosial yang sangat relevan untuk masa kini. Apalagi di era modern, pesan “hidup selaras dengan alam” terasa semakin mendesak.

  • Penulis: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Board of Peace Tuai Kritik Akademisi, Dinilai Abaikan Palestina dan Melembagakan Ketidakadilan

    Board of Peace Tuai Kritik Akademisi, Dinilai Abaikan Palestina dan Melembagakan Ketidakadilan

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 292
    • 0Komentar

    nulondalo.com –Pembentukan Board of Peace (BoP) oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai mekanisme perdamaian dan rekonstruksi Gaza menuai kritik tajam dari kalangan akademisi dan intelektual Indonesia. Lembaga yang diklaim sebagai terobosan perdamaian global itu dinilai justru mengabaikan prinsip keadilan, hukum internasional, serta keterlibatan substantif rakyat Palestina sebagai pihak paling terdampak konflik. Kritik keras salah […]

  • Piagam Menara Gading

    Piagam Menara Gading

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Ruang berpendingin malam itu tidak kuasa menyingkirkan keringat yang terus merembes keluar dari pori-poriku. Adrenalin yang terpacu memaksa hormon-hormon dalam tubuhku memproduksi keringat dalam udara yang disemprot AC. Seiring dengan gemuruh aula megah itu, adrenalinku terasa makin bergerak cepat ketika namaku disebut. Dr. Maulana  Eka  Rasyid  Arfan  Saputra  Alamsyah  Taufik  Abdullah  Hafidz Umar, MA, M.Si, […]

  • Negara Untung di Atas Kertas, Rakyat Rugi di Kehidupan Nyata?

    Negara Untung di Atas Kertas, Rakyat Rugi di Kehidupan Nyata?

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle M. Ja'far Ali Reza
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Setiap tahun, laporan keuangan pemerintah disajikan dengan rapi. Angka-angka tersusun sistematis, realisasi anggaran tercatat dengan detail, dan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kembali diraih dari Badan Pemeriksa Keuangan. Dari sudut pandang administratif, ini adalah gambaran ideal dari tata kelola keuangan negara yang tertib dan profesional. Tidak sedikit yang menjadikan capaian ini sebagai bukti bahwa sistem […]

  • Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik

    Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 279
    • 0Komentar

    Setiap peringatan Hari Buruh, perhatian publik hampir selalu bergerak ke kawasan industri, jalanan yang dipenuhi massa aksi, tuntutan kenaikan upah, jaminan kerja, dan penolakan terhadap pemutusan hubungan kerja sepihak. Gambaran itu tentu penting, sebab sejarah Hari Buruh memang lahir dari pergulatan panjang kelas pekerja menghadapi ketidakadilan dalam dunia produksi. Namun ada satu ruang yang jarang […]

  • Bupati Maros Tinjau RS Jantung Paramarta Bandung, Percepat Digitalisasi Layanan Kesehatan

    Bupati Maros Tinjau RS Jantung Paramarta Bandung, Percepat Digitalisasi Layanan Kesehatan

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, BANDUNG — Komitmen Pemerintah Kabupaten Maros dalam mempercepat transformasi digital sektor kesehatan kembali ditunjukkan. Bupati Maros, Chaidir Syam, melakukan kunjungan kerja ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJP) Paramarta Bandung, Rabu (24/12/2025). Kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat langsung penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Transmedic, sistem digital yang telah lebih dulu diimplementasikan […]

  • Merayakan Kemerdekaan dalam Bayang Disparitas

    Merayakan Kemerdekaan dalam Bayang Disparitas

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Setiap Agustus, kita seperti punya kebiasaan yang sama: mengecat ulang kampung, memasang bendera, menyalakan lagu-lagu perjuangan, lalu sibuk mengingatkan satu sama lain bahwa kita pernah merdeka. Anak-anak berlarian mengejar hadiah lomba, ibu-ibu menyiapkan acara kampung, pemuda sibuk memasang umbul-umbul, dan para pejabat bergantian bicara tentang persatuan. Semuanya terasa akrab karena memang sudah kita lakukan bertahun-tahun. […]

expand_less