Sambut Kongres KUPI III 2027, Jaringan GUSDURian Gembleng 30 Kader Muda Ulama Perempuan
- account_circle Abdul Fajar
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 37
- print Cetak

Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian sekaligus anggota Majelis Musyawarah KUPI, Jay Akhmad, pada Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan (PKUP) di Griya Gusdurian, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan kaderisasi dan persiapan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) III 2027. Foto: Jaringan GUSDURian.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
YOGYAKARTA, NULONDALO.COM – Menyambut pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) III yang dijadwalkan berlangsung pada 2027, Jaringan GUSDURian menggelar Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan (PKUP) Kategori Penyebar di Griya Gusdurian, Yogyakarta.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, Jumat (30/10/2026) hingga Minggu (1/11/2026), tersebut diikuti 30 peserta muda berusia 22–35 tahun dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Majelis Musyawarah (MM) KUPI dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan dan memperluas kaderisasi gerakan ulama perempuan.
Program penguatan tersebut dilaksanakan di 10 wilayah Indonesia, dengan target menjangkau 250 peserta dari kalangan perempuan, laki-laki, dan kelompok muda.
Wilayah pelaksanaan program mencakup Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, dan Ternate.
Ketua Panitia Pelaksana, Rifa Mufidah, mengungkapkan tingginya antusiasme generasi muda untuk terlibat dalam gerakan KUPI. Hal itu terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 136 orang, sementara panitia hanya menyediakan 30 tempat bagi peserta.
“Ternyata yang daftar di hari-hari terakhir itu langsung melonjak jadi 136. Kita benar-benar mengurasi keseriusan teman-teman,” ujar Rifa saat pembukaan kegiatan.
KUPI merupakan gerakan yang memperjuangkan keadilan relasi laki-laki dan perempuan berdasarkan perspektif Islam serta konteks sosial masyarakat Indonesia.
Gerakan ini juga menempatkan kepemimpinan perempuan sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah dan perkembangan keilmuan Islam di Indonesia.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak memahami akar epistemologi pengetahuan Islam, metodologi fatwa KUPI, serta perspektif keadilan gender sebagai landasan gerakan.
Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian sekaligus anggota Majelis Musyawarah KUPI, Jay Akhmad, menjelaskan bahwa gerakan KUPI terbuka bagi berbagai kalangan yang memiliki komitmen terhadap keadilan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menyebut terdapat tiga basis utama yang menjadi bagian dari gerakan KUPI, yakni kelompok dengan keilmuan Islam, kelompok yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat terutama terkait perempuan dan anak dengan perspektif keadilan gender, serta kelompok yang memiliki basis keilmuan sosial.
“KUPI menyepakati soal tiga hal. Pertama, orang-orang yang punya basis keilmuan Islam. Kedua, kelompok atau orang-orang yang bekerja dalam pemberdayaan masyarakat, terutama terkait perempuan dan anak, serta punya perspektif keadilan gender yang kuat. Yang ketiga, yaitu orang-orang dengan basis keilmuan sosial,” papar Jay Akhmad.
Jay juga menjelaskan pentingnya memahami perbedaan terminologi perempuan ulama dan ulama perempuan dalam kerangka pemikiran KUPI.
Menurutnya, istilah perempuan ulama lebih merujuk pada identitas biologis, sedangkan ulama perempuan menekankan perspektif, kapasitas keilmuan, serta kerja-kerja keulamaan yang berpihak pada keadilan dan pemberdayaan perempuan.
“Perempuan ulama kata kuncinya adalah biologis. Setiap orang yang berjenis kelamin perempuan, maka bisa dikatakan sebagai perempuan ulama. Sedangkan ulama perempuan menekankan pada perspektif dan kerja-kerja keilmuan yang membela keadilan, punya kapasitas keilmuan keagamaan serta pemberdayaan terkait perempuan dan keadilan gender,” lanjutnya.
Sebagai penguatan perspektif historis, Jay turut mengangkat keteladanan Nyai Khoiriyah Hasyim, pendiri Pondok Pesantren Seblak, Jombang.
Sosok tersebut menjadi salah satu contoh kontribusi dan ketangguhan kepemimpinan ulama perempuan dalam perkembangan pendidikan Islam di Nusantara.
Aspek lain yang menjadi perhatian dalam pelatihan ini adalah pembongkaran bias gender dalam konstruksi pengetahuan dan hukum Islam.
Pakar tafsir, Dr. Nur Rofiah, menekankan bahwa bias gender dalam sistem pengetahuan keislaman tidak dapat dilepaskan dari konstruksi peradaban dan sejarah manusia yang berkembang secara sistemik.
“Sistem pengetahuan yang bias gender dan kelas itu sebenarnya ada akar yang bisa kita lacak. Akar yang sangat penting sekali adalah akar sistem pengetahuan keislaman yang bias, dipengaruhi oleh peradaban sejarah manusia yang bersifat sistemik,” tegas Nur Rofiah dalam kerangka pemikiran KUPI.
Selama tiga hari, peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari penelusuran jejak ulama perempuan, anatomi gerakan KUPI, hingga pemahaman Trilogi KUPI yang meliputi Ma’ruf, Mubadalah (kesalingan), dan Keadilan Hakiki.
Materi lainnya mencakup pencegahan kekerasan berbasis gender serta penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) kepemimpinan untuk diterapkan di ruang pengabdian dan komunitas masing-masing.
Melalui pelatihan ini, Jaringan GUSDURian dan Majelis Musyawarah KUPI berharap lahir kader-kader muda yang tidak hanya memiliki pemahaman keilmuan, tetapi juga mampu menyebarluaskan nilai keadilan, kesalingan, dan kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat.
Pelatihan di Griya Gusdurian tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan gerakan dan menyiapkan generasi penerus yang akan mengambil peran dalam menyukseskan agenda Kongres KUPI III 2027.
- Penulis: Abdul Fajar
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar