Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Sambut Kongres KUPI III 2027, Jaringan GUSDURian Gembleng 30 Kader Muda Ulama Perempuan

  • account_circle Abdul Fajar
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 35
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

YOGYAKARTA, NULONDALO.COM – Menyambut pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) III yang dijadwalkan berlangsung pada 2027, Jaringan GUSDURian menggelar Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan (PKUP) Kategori Penyebar di Griya Gusdurian, Yogyakarta.

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, Jumat (30/10/2026) hingga Minggu (1/11/2026), tersebut diikuti 30 peserta muda berusia 22–35 tahun dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Majelis Musyawarah (MM) KUPI dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan dan memperluas kaderisasi gerakan ulama perempuan.

Program penguatan tersebut dilaksanakan di 10 wilayah Indonesia, dengan target menjangkau 250 peserta dari kalangan perempuan, laki-laki, dan kelompok muda.

Wilayah pelaksanaan program mencakup Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, dan Ternate.

Ketua Panitia Pelaksana, Rifa Mufidah, mengungkapkan tingginya antusiasme generasi muda untuk terlibat dalam gerakan KUPI. Hal itu terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 136 orang, sementara panitia hanya menyediakan 30 tempat bagi peserta.

“Ternyata yang daftar di hari-hari terakhir itu langsung melonjak jadi 136. Kita benar-benar mengurasi keseriusan teman-teman,” ujar Rifa saat pembukaan kegiatan.

KUPI merupakan gerakan yang memperjuangkan keadilan relasi laki-laki dan perempuan berdasarkan perspektif Islam serta konteks sosial masyarakat Indonesia.

Gerakan ini juga menempatkan kepemimpinan perempuan sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah dan perkembangan keilmuan Islam di Indonesia.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak memahami akar epistemologi pengetahuan Islam, metodologi fatwa KUPI, serta perspektif keadilan gender sebagai landasan gerakan.

Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian sekaligus anggota Majelis Musyawarah KUPI, Jay Akhmad, menjelaskan bahwa gerakan KUPI terbuka bagi berbagai kalangan yang memiliki komitmen terhadap keadilan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Ia menyebut terdapat tiga basis utama yang menjadi bagian dari gerakan KUPI, yakni kelompok dengan keilmuan Islam, kelompok yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat terutama terkait perempuan dan anak dengan perspektif keadilan gender, serta kelompok yang memiliki basis keilmuan sosial.

“KUPI menyepakati soal tiga hal. Pertama, orang-orang yang punya basis keilmuan Islam. Kedua, kelompok atau orang-orang yang bekerja dalam pemberdayaan masyarakat, terutama terkait perempuan dan anak, serta punya perspektif keadilan gender yang kuat. Yang ketiga, yaitu orang-orang dengan basis keilmuan sosial,” papar Jay Akhmad.

Jay juga menjelaskan pentingnya memahami perbedaan terminologi perempuan ulama dan ulama perempuan dalam kerangka pemikiran KUPI.

Menurutnya, istilah perempuan ulama lebih merujuk pada identitas biologis, sedangkan ulama perempuan menekankan perspektif, kapasitas keilmuan, serta kerja-kerja keulamaan yang berpihak pada keadilan dan pemberdayaan perempuan.

“Perempuan ulama kata kuncinya adalah biologis. Setiap orang yang berjenis kelamin perempuan, maka bisa dikatakan sebagai perempuan ulama. Sedangkan ulama perempuan menekankan pada perspektif dan kerja-kerja keilmuan yang membela keadilan, punya kapasitas keilmuan keagamaan serta pemberdayaan terkait perempuan dan keadilan gender,” lanjutnya.

Sebagai penguatan perspektif historis, Jay turut mengangkat keteladanan Nyai Khoiriyah Hasyim, pendiri Pondok Pesantren Seblak, Jombang.

Sosok tersebut menjadi salah satu contoh kontribusi dan ketangguhan kepemimpinan ulama perempuan dalam perkembangan pendidikan Islam di Nusantara.

Aspek lain yang menjadi perhatian dalam pelatihan ini adalah pembongkaran bias gender dalam konstruksi pengetahuan dan hukum Islam.

Pakar tafsir, Dr. Nur Rofiah, menekankan bahwa bias gender dalam sistem pengetahuan keislaman tidak dapat dilepaskan dari konstruksi peradaban dan sejarah manusia yang berkembang secara sistemik.

“Sistem pengetahuan yang bias gender dan kelas itu sebenarnya ada akar yang bisa kita lacak. Akar yang sangat penting sekali adalah akar sistem pengetahuan keislaman yang bias, dipengaruhi oleh peradaban sejarah manusia yang bersifat sistemik,” tegas Nur Rofiah dalam kerangka pemikiran KUPI.

Selama tiga hari, peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari penelusuran jejak ulama perempuan, anatomi gerakan KUPI, hingga pemahaman Trilogi KUPI yang meliputi Ma’ruf, Mubadalah (kesalingan), dan Keadilan Hakiki.

Materi lainnya mencakup pencegahan kekerasan berbasis gender serta penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) kepemimpinan untuk diterapkan di ruang pengabdian dan komunitas masing-masing.

Melalui pelatihan ini, Jaringan GUSDURian dan Majelis Musyawarah KUPI berharap lahir kader-kader muda yang tidak hanya memiliki pemahaman keilmuan, tetapi juga mampu menyebarluaskan nilai keadilan, kesalingan, dan kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat.

Pelatihan di Griya Gusdurian tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan gerakan dan menyiapkan generasi penerus yang akan mengambil peran dalam menyukseskan agenda Kongres KUPI III 2027.

  • Penulis: Abdul Fajar
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kevin Lapendos Soroti Dugaan Wacana Dialog Seluruh Unsur Pimpinan Forkopimda Gorontalo, Menjelang Satu Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.”

    Kevin Lapendos Soroti Dugaan Wacana Dialog Seluruh Unsur Pimpinan Forkopimda Gorontalo, Menjelang Satu Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.”

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Pemuda Gorontalo Kevin Lapendos kembali mengeluarkan pernyataan kritisnya terhadap dugaan wacana kegiatan dialog publik Forkopimda Provinsi Gorontalo yang disebut-sebut akan digelar pada 20 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Isu yang beredar menyebutkan, kegiatan tersebut akan dihadiri seluruh unsur pimpinan Forkopimda dan diarahkan untuk menyampaikan dukungan penuh terhadap berbagai program […]

  • Banjir Bandang Biau Belum Usai, Rumah Zakat Bertahan di Garis Depan Kemanusiaan

    Banjir Bandang Biau Belum Usai, Rumah Zakat Bertahan di Garis Depan Kemanusiaan

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 225
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana Iduladha yang seharusnya diselimuti suka cita dan kekhusyukan ibadah kurban, berubah menjadi ujian berat bagi warga Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara. Banjir bandang menerjang wilayah tersebut pada Selasa (26/5/2026), tepat satu hari sebelum perayaan Hari Raya Iduladha 1447 H. Sejak awal bencana terjadi, lembaga kemanusiaan Rumah Zakat bergerak cepat di garda terdepan. […]

  • Map Is Not Territory

    Map Is Not Territory

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Oleh : Pepy Albayqunie (Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah) Dalam kegiatan orientasi atau pelatihan Moderasi Beragama, ada satu latihan sederhana yang sering memantik diskusi selanjutnya. Peserta diminta menggambar denah perjalanan dari rumah menuju lokasi pelatihan. Tidak perlu akurat, tidak […]

  • Camat Bontoa Kukuhkan 25 Anggota Paskibraka Kecamatan Bontoa Tahun 2026

    Camat Bontoa Kukuhkan 25 Anggota Paskibraka Kecamatan Bontoa Tahun 2026

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Bontoa — Camat Bontoa, Muh. Maudu, S.Hut., M.Si., secara resmi mengukuhkan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, pada 16 Agustus 2026. Prosesi pengukuhan berlangsung di Aula Kantor Camat Bontoa. Sebanyak 25 pelajar putra dan putri terbaik dari SMA/MA se-Kecamatan Bontoa dikukuhkan setelah melalui proses seleksi dan pelatihan intensif selama […]

  • Disaksikan Presiden Prabowo, MUI Kukuhkan Pengurus Baru. Berikut Susunannya

    Disaksikan Presiden Prabowo, MUI Kukuhkan Pengurus Baru. Berikut Susunannya

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 356
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi mengukuhkan susunan pengurus masa khidmah 2025–2030 dalam sebuah prosesi di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026). Pengukuhan dipimpin langsung Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan disaksikan Presiden RI Prabowo Subianto bersama sejumlah tokoh nasional. Acara yang dirangkaikan dengan kegiatan “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa” itu dihadiri […]

  • Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Terkait penanganan sejumlah kasus korupsi di Kota Gorontalo yang dinilai lamban, ratusan massa aksi seruduk Kantor Wali Kota Gorontalo, pada Senin (17/3/2025). Pemerintahan Wali Kota Adhan Dambea dan Wakil Wali Kota Indra Gobel diminta untuk tidak tinggal diam dalam penanganan kasus korupsi di Kota Gorontalo yang telah merugikan negara ratusan rupiah. Meski sibuk dalam penanganan […]

expand_less