Breaking News
light_mode
Trending Tags

Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

  • account_circle Nurmawan Pakaya
  • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
  • visibility 87
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap 1 Mei, jalan-jalan ibu kota terasa berbeda. Bukan karena kemacetan, tapi karena gema suara buruh yang menggema dari segala penjuru. Mereka datang bukan hanya membawa spanduk dan bendera serikat pekerja sebagai simbol solidaritas, tapi juga harapan yang terus menyala meski kadang redup oleh kenyataan. Hari Buruh Internasional selalu menjadi cermin tentang siapa kita sebagai bangsa, tentang bagaimana negara memperlakukan orang-orang yang sejatinya memutar roda ekonomi setiap hari.

Di tengah riuhnya suara-suara yang menggema di Monas, ada satu pernyataan yang layak dicatat—dari Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi. Bukan pernyataan bombastis. Bukan pula janji politik yang dibalut jargon muluk. Tapi ada nada ketulusan ketika ia menyebut bahwa, “pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap persoalan ketenagakerjaan dan akan terus mencari solusi yang adil dan berkelanjutan bagi semua pihak.” Ini bukan hanya retorika, tapi pengakuan bahwa persoalan buruh bukan bisa diselesaikan lewat seremonial tahunan, melainkan kerja bersama yang konsisten dan serius.

Salah satu refleksi penting dari pernyataan itu adalah soal keberanian negara membuka ruang dialog. Bukan sekadar membuka meja perundingan, tapi juga mendengar dengan sungguh. Pemerintah, dalam beberapa kesempatan, mulai menunjukkan kesediaan untuk hadir di tengah-tengah persoalan konkret—seperti ketika ribuan pekerja menghadapi ketidakpastian karena pemutusan hubungan kerja. Negara turun tangan. Bukan karena diminta, tapi karena memang seharusnya begitu.

Kita juga tak bisa mengabaikan enam tuntutan utama buruh yang terus bergema setiap tahun: menghapus sistem outsourcing, menolak upah murah, mencabut UU Cipta Kerja, menghapus kontrak kerja eksploitatif, mewujudkan jaminan sosial semesta, dan menegakkan kebebasan berserikat. Tahun ini, yang terasa berbeda adalah bagaimana pemerintah meresponsnya. Tidak dengan defensif atau represi, tapi dengan pengakuan terbuka bahwa “aspirasi pekerja merupakan bagian penting dalam merumuskan kebijakan yang adil dan inklusif,” begitu kata Mensesneg.

Pernyataan tersebut, tidak lain dan tidak bukan mencerminkan perubahan pendekatan. Bahwa negara tidak lagi melihat buruh sebagai oposisi, melainkan sebagai mitra. “Kita ingin membangun dialog yang sehat dan setara antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja. Negara hadir bukan sebagai pengatur yang semena-mena, tetapi sebagai penyeimbang,” ujar Mensesneg dalam wawancara singkatnya di Monas. Dan ini bukan hal kecil. Sebab bagaimanapun selama ini, relasi yang terbangun seringkali penuh kecurigaan, bahkan konfrontasi. Dan ketika negara mulai menyapa dengan nada yang lebih setara, bukankah itu adalah tanda yang patut dicatat?

Tentu, masih banyak yang belum selesai. Buruh informal masih terpinggirkan. Upah minimum belum sepenuhnya menjawab kebutuhan hidup layak. Praktik kerja kontrak masih kerap menyisakan ketidakadilan. Tapi arah baru selalu dimulai dari kesediaan mendengar. Dan dalam Hari Buruh tahun ini, suara itu tidak lagi hanya datang dari jalanan, tapi juga dari podium negara.

Sebelum diakhiri, esai ini bukan pujian kosong. Juga bukan rangkuman konferensi pers. Ini catatan kecil dari seorang warga negara yang percaya bahwa keadilan sosial bukan hanya soal angka, tapi juga soal sikap. Dan ketika seorang pejabat tinggi negara mulai bicara tentang buruh sebagai mitra, sebagai rakyat bukankah kita merasa ada alasan untuk tetap berharap. Alih-alih kita bertahan.

Selamat Hari Buruh!

Kita masih punya jalan panjang, tapi setidaknya, kita mulai melangkah ke arah yang lebih adil.

  • Penulis: Nurmawan Pakaya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inilah Kelompok Pemberi Sumbangan Inflasi Gorontalo

    Inilah Kelompok Pemberi Sumbangan Inflasi Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juni 2025 di Provinsi Gorontalo secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Gorontalo terjadi inflasi y-on-y sebesar 0,80 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,87 pada Juni 2024 menjadi 107,72. Selain itu Provinsi Gorontalo mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,37 persen dan […]

  • Banjir Rusak Jembatan Darurat di Galela Utara, Kementerian PU Turunkan Alat Berat

    Banjir Rusak Jembatan Darurat di Galela Utara, Kementerian PU Turunkan Alat Berat

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 107
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Curah hujan tinggi yang melanda Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, memicu serangkaian bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah. Beberapa sungai meluap, longsor terjadi di berbagai titik, rumah warga terendam banjir, hingga infrastruktur vital mengalami kerusakan. Dampak terparah terjadi di Kecamatan Galela Utara, tepatnya di Kali Aru yang berada di perbatasan Desa Bobisingo dan Desa […]

  • Tarawih Tanpa Manipulasi

    Tarawih Tanpa Manipulasi

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan fenomena tahunan yang menarik untuk diamati dengan kacamata akuntansi: masjid penuh, saf rapat, parkir meluber, dan sandal kadang tertukar sebuah metafora kecil tentang risiko pengendalian internal. Namun yang paling menarik adalah tarawih: ibadah malam yang khusyuk, sekaligus ladang potensial “manipulasi spiritual”. Dalam dunia akuntansi, manipulasi bisa terjadi ketika laporan keuangan disusun bukan […]

  • Marhaban Ya Ramadhan

    Marhaban Ya Ramadhan

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu 
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Dalam salah satu bukunya yang masuk kategori best seller yakni Lentera Al-Qur’an, kisah dan hikmah kehidupan, salah satu tema yang dikupas Prof Quraish adalah menyangkut ramadhan. Ada dua kata yang digunakan untuk menyambut tamu yang datang, yakni marhaban dan ahlan wa sahlan, keduanya berarti selamat datang, tapi beda dalam penggunaan kalimat tersebut. Menurut Prof Quraish, […]

  • Ketika Simbol Diserang: Analisis Sosiologi Politik atas Tuduhan Ijazah Palsu Presiden Jokowi

    Ketika Simbol Diserang: Analisis Sosiologi Politik atas Tuduhan Ijazah Palsu Presiden Jokowi

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Oleh : Mukari – (Dosen Sosiologi Fisipol Undar) Perdebatan sengit tentang kredibilitas ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mewarnai ruang publik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun beberapa klarifikasi resmi telah diberikan, masalah ini terus muncul, terutama melalui media sosial dan jaringan komunikasi alternatif. Fenomena ini menunjukkan bahwa tuduhan tersebut telah menjadi bagian dari pertarungan […]

  • Ringankan Beban Lansia, BUMDes Dulohupa Berbagi di Bulan Puasa photo_camera 2

    Ringankan Beban Lansia, BUMDes Dulohupa Berbagi di Bulan Puasa

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 154
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dulohupa Desa Buti, Kecamatan Mananggu, menyalurkan paket sembako kepada sejumlah warga lanjut usia (lansia) di Desa Buti. Program sosial ini menyasar para lansia yang dinilai membutuhkan perhatian lebih, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pokok selama menjalankan ibadah puasa. Direktur BUMDes Dulohupa, Akram Talibana, menjelaskan bahwa paket yang dibagikan berisi […]

expand_less