Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)
- account_circle Hamzah Durisa
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 97
- print Cetak

Potret KH. Baharuddin bin Ta’nang bin Shahir, pendiri Pondok Pesantren Al Ihsan Kenje, sosok ulama sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan dakwah di wilayah pesisir Kenje.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di sebuah lekuk perbukitan yang bernama Buttu, yang lebih familiar dengan Buttu Da’ala, pada tahun 1953, lahirlah seorang anak lelaki dari rahim perempuan sederhana bernama Ruhana. Anak itu diberi nama Baharuddin. Kelak, orang-orang akan mengenalnya sebagai AGH. Baharuddin bin Ta’nang bin Shahir, seorang guru yang tidak sekadar mengajar, tetapi menanam masa depan.
Buttu adalah kampung yang akrab dengan desir angin bukit dan suara dedaunan kelapa yang beradu pelan. Di sana, kebun kelapa memanjang seperti hamparan doa yang tak pernah selesai. Di belahan bukit lainnya tumbuh bawang yang ditanam dengan tangan penuh harap, dan di kandang-kandang sederhana, kambing-kambing mengembik memecah pagi. Baharuddin kecil tumbuh di antara aroma tanah basah, getah kelapa, dan suara kambing yang lapar.
Ayahnya, Ta’nang bin Shahir, adalah lelaki pekerja keras. Petani, peternak kambing, dan sesekali menjadi buruh di kebun orang lain. Hidup tak pernah mudah. Namun, dalam rumah panggung sederhana itu, ada satu hal yang tak pernah kekurangan: semangat untuk belajar. Ruhana, ibunya, adalah perempuan yang wajahnya teduh seperti senja. Ia tak banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya seperti embun yang jatuh tepat di akar. “Nak, ilmu itu cahaya. Kalau kau tak punya apa-apa, punya ilmu saja sudah cukup untuk menuntunmu pulang,” katanya suatu sore ketika Baharuddin kecil duduk memandangi bukit yang mulai diselimuti kabut.
Tahun 1966, Baharuddin bersekolah di SD Buttu. Bangunan sekolah itu sederhana, dindingnya papan, lantainya masih tanah keras. Namun di situlah ia mulai mengenal huruf-huruf yang kelak akan mengantarkannya pada kitab-kitab tebal. Ia bukan anak yang banyak bicara. Ia lebih sering menyimak, memperhatikan, lalu mengulang pelajaran sendiri di rumah, ditemani lampu minyak dan suara jangkrik.
Tiga tahun berselang, 1969, ia melanjutkan pendidikan agama di Lapeo, setingkat SLTP. Di sanalah cakrawala hidupnya mulai terbuka. Lapeo bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang pembentukan jiwa. Ia berguru kepada Puang Kali Tomadio, seorang alim yang keras dalam prinsip tetapi lembut dalam membimbing. Ia juga belajar pada KH. Mahmud Imam Pappang, yang dikenal luas karena kecerdasan dan kedalaman spiritualnya.
Namun perjalanan Baharuddin tidak berhenti di satu tempat. Pagi hingga siang ia mengaji di Lapeo. Sore hingga malam, ia berpindah ke Kappung Masigi Bonde. Di kampung santri itu, ia kembali duduk bersila, membuka kitab, dan menyimak penjelasan guru. Bertahun-tahun ia menjalani ritme itu—seperti air yang mengalir tanpa keluh, seperti angin yang setia menyusuri lembah.
Orang-orang heran melihat kegigihannya. “Kau tak lelah, Bahar?” tanya seorang kawan. Ia hanya tersenyum. “Kalau niatnya mencari cahaya, bagaimana mungkin aku merasa gelap?” Di antara para gurunya, ada satu nama yang sangat membekas dalam hatinya: KH. Abdul Razak Kenje. Dari beliau, Baharuddin belajar bahwa ilmu bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diamalkan. Bahwa guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pelayan umat. Dan bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang mewah, melainkan hidup yang bermanfaat.
Tahun-tahun berlalu. Baharuddin tumbuh menjadi pemuda yang matang dalam pemikiran dan teguh dalam pendirian. Pada usia 23 tahun, sekitar tahun 1976, ia mengambil keputusan besar: hijrah ke Kenje, sebuah daerah pesisir. Dari bukit ia turun ke laut. Dari dingin kabut ia berpindah ke angin asin pantai. Kenje menyambutnya dengan suara ombak dan perahu-perahu nelayan yang pulang membawa tangkapan. Ia datang bukan dengan harta, melainkan dengan tekad. Di sana, ia memulai hidup dari nol.
Tahun 1970-an, sebelum benar-benar menetap sebagai guru, ia pernah menjalani berbagai pekerjaan. Ia beternak kambing, seperti di kampung halamannya. Ia pernah menjadi buruh. Bahkan sempat merantau hingga menjadi TKI di Malaysia. Hidup mengajarinya arti sabar dengan cara yang keras.
Ia pernah berdagang lipaq sa’be ke Bone. Kain-kain sarung itu dipikulnya dengan penuh harap. Ia juga pernah berdagang kayu. Namun usaha kayu itu tak bertahan lama. Ia berhenti ketika praktik sogok-menyogok mulai marak. “Kalau rezeki harus dibeli dengan harga diri, lebih baik aku mundur,” katanya suatu ketika pada seorang sahabat.
Di Kenje, tahun 1979, ia membuka usaha jual-beli kopra. Bau kelapa kering memenuhi gudang kecilnya. Dari usaha itu, ia menghidupi keluarganya sekaligus membiayai kegiatan mengajinya. Sebab, di sela-sela kesibukan berdagang, ia mulai mengajar. Awalnya hanya dua orang murid. Dua anak kampung yang datang dengan rasa malu-malu, duduk bersila di beranda rumahnya. Baharuddin tidak pernah mematok bayaran. Ia mengajar dengan hati. Bahkan ia menanggung biaya hidup santrinya yang datang menimba ilmu kepadanya.
“Belajar itu bukan paksaan,” katanya kepada murid-muridnya. “Kalau kalian datang karena takut, ilmunya tak akan tinggal. Tapi kalau datang karena cinta, ilmu itu akan tumbuh sendiri.” Pelan-pelan, muridnya bertambah. Dari dua menjadi lima. Dari lima menjadi belasan. Rumahnya tak lagi cukup menampung. Namun semangatnya tak pernah surut.
Tahun 1979 pula, ia diangkat menjadi imam Masjid Darussalam di Kenje. Tanggung jawab itu ia pikul dengan rendah hati. Ia memimpin salat, menyampaikan khutbah, dan menyapa warga dengan akrab. Ia bukan imam yang berjarak. Ia berjalan dari rumah ke rumah, berdakwah keliling kampung.Ia menikah dengan Hj. Darmi, perempuan sabar yang menjadi penopang langkahnya. Dari pernikahan itu, lahirlah satu anak: Multazam. Kepada anaknya, ia menanamkan prinsip yang sama seperti yang ia ajarkan pada murid-muridnya: belajar dengan melakukan, learning by doing.
Tahun 1980 hingga 1990-an, pengajiannya semakin berkembang. Ia mengajar berbagai kitab terjemahan. Fikih, tauhid, tasawuf—semuanya disampaikan dengan bahasa yang membumi. Ia komunikatif. Ia tidak membentak. Ia tidak menekan. Ia percaya bahwa pendidikan bukanlah soal ketakutan, melainkan keteladanan.
Beberapa muridnya datang dari jauh, bahkan dari Kalimantan. Kenje yang dulu sunyi, perlahan menjadi titik cahaya kecil di pesisir. Beberapa muridnya kelak berhasil melanjutkan studi hingga ke Mesir dan Maroko. Ketika kabar itu sampai kepadanya, ia hanya menunduk haru. “Ilmu itu seperti benih,” katanya pelan. “Aku hanya menanam. Allah yang menumbuhkan.”
Memasuki akhir 1990-an, ia mulai memikirkan sesuatu yang lebih besar. Ia ingin mendirikan lembaga pendidikan yang lebih terstruktur. Ia berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat, salah satunya Dumair Kasim. Mereka duduk berlama-lama, membahas masa depan anak-anak Kenje.
Rencananya ingin dimulai tahun 2000. Namun jalan tak selalu mulus. Ada kendala dana, ada keraguan sebagian orang. Tetapi Baharuddin bukan tipe yang mudah menyerah. Akhirnya, tahun 2001, cita-cita itu benar-benar mulai terwujud. Tahun 2002, ia menginisiasi pembangunan pondok pesantren. Tanah wakaf dari Masyuri menjadi titik awal. Pada Rabu, 16 Februari 2002, pembangunan dimulai. Bangunan dua lantai dengan empat petak ruangan berdiri perlahan, bata demi bata disusun dengan doa.
Pesantren itu diberi nama Al Ihsan Kenje. Ketika bangunan itu mulai digunakan, Baharuddin berdiri di halaman, memandang santri-santri yang datang dengan wajah penuh harap. Ia teringat masa kecilnya di Buttu. Ia teringat jalan panjang dari bukit ke pesisir. “Jangan pernah matikan pesantren ini,” pesannya suatu malam kepada para santri dan warga. “Kalau pesantren mati, cahaya akan redup.”
Ia tetap sederhana. Tetap sosial. Ia hadir di tengah masyarakat bukan hanya sebagai ulama, tetapi sebagai sahabat. Jika ada warga yang sakit, ia datang menjenguk. Jika ada yang berduka, ia hadir melayat. Dakwahnya bukan hanya di mimbar, tetapi di kehidupan sehari-hari.
Pada Selasa, 5 Februari 2008, pukul 18.00, waktu seakan berhenti. Baharuddin mengembuskan napas terakhirnya. Kenje kehilangan imamnya. Pesantren kehilangan pendirinya. Namun warisan tak ikut terkubur. Pesantren Al Ihsan Kenje terus berjalan, diteruskan oleh anaknya, Ustaz Multazam. Suara mengaji tetap terdengar setiap pagi dan malam. Santri-santri tetap datang dari berbagai penjuru.
Di Buttu, bukit masih berdiri. Di Kenje, ombak masih bergulung. Tetapi di antara bukit dan laut itu, ada satu nama yang tak pernah hilang dari ingatan: KH. Baharuddin bin Ta’nang bin Shahir. Ia adalah lelaki yang percaya bahwa usaha adalah jalan pendidikan. Bahwa berdagang kopra, beternak kambing, menjadi buruh, bahkan merantau, semuanya adalah bagian dari sekolah kehidupan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan tak lahir dari kemewahan, melainkan dari ketekunan. dan setiap kali azan berkumandang di Kenje, orang-orang seperti mendengar gema suaranya: lembut, tegas, dan penuh harap. “Jangan matikan pesantren.”.
Penulis : Pegiat Literasi/Penggerak GUSDURian
- Penulis: Hamzah Durisa

Saat ini belum ada komentar