Aset Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
- visibility 237
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sebagai akademisi akuntansi, saya melihat perlunya reposisi paradigma. Ramadhan bukan hanya periode akselerasi ibadah, tetapi momen restatement laporan hidup. Kita menilai kembali aset mana yang benar-benar produktif. Apakah jabatan? Apakah popularitas? Atau justru doa ibu yang selama ini kita abaikan? Dalam neraca langit, bisa jadi doa ibu itu adalah aset terbesar yang selama ini tidak pernah kita appraisal.
Humor Gus Dur mengingatkan kita: jangan merasa paling suci hanya karena rajin ibadah. Bisa jadi orang yang kita anggap biasa justru punya deposito pahala lebih besar. Dalam akuntansi, kita diajarkan prinsip materialitas. Jangan meremehkan transaksi kecil. Dalam hidup, senyum kepada tetangga mungkin terlihat remeh, tapi di laporan langit bisa sangat material.
Ramadhan juga mengajarkan pengendalian internal. Puasa adalah sistem kontrol atas nafsu. Tanpa kontrol, perusahaan bisa fraud. Tanpa puasa, jiwa bisa over budget dalam hal amarah dan syahwat. Maka, puasa itu seperti audit internal tahunan—membersihkan potensi penyimpangan sebelum diperiksa lebih jauh.
Pada akhirnya, “Aset Langit” bukan soal berapa banyak amal yang kita tampilkan, tetapi seberapa tulus kita mengelolanya. Akuntansi mengajarkan akuntabilitas. Ramadhan mengajarkan pertanggungjawaban. Keduanya bertemu pada satu titik: integritas.
Maka, mari kita susun laporan keuangan batin dengan jujur. Kurangi manipulasi niat. Tingkatkan transparansi amal. Dan yang paling penting, jangan lupa bahwa laba terbesar bukanlah yang diumumkan di RUPS, melainkan yang diterima di hadapan Allah.
Kalau boleh sedikit bercanda ala pesantren: jangan sampai kita kaya aset dunia tapi miskin aset langit. Nanti di akhirat kita sibuk mencari nota yang hilang, padahal dari awal tidak pernah dicatat.
Selamat mengaudit diri di bulan suci. Semoga setelah Ramadhan, neraca hidup kita lebih seimbang—antara dunia dan langit.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar