Aset Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
- visibility 236
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Humor ala Nahdlatul Ulama mengajarkan kita satu hal penting: hidup jangan terlalu tegang, nanti laporan laba-rugi wajah kita minus senyum. Gus Dur pernah memberi teladan bahwa agama itu bukan sekadar hukum, tapi juga kelapangan hati. Dalam bahasa akuntansi, beliau seperti mengajarkan prinsip going concern spiritual: selama masih ada tawa dan kasih sayang, iman itu insya Allah berkelanjutan.
“Aset langit” sesungguhnya adalah akumulasi dari niat, amal, dan keikhlasan. Ia tidak tercatat dalam buku besar perusahaan, tetapi tercatat dalam “cloud storage” yang tidak pernah error. Tidak perlu khawatir server down. Tidak ada manipulasi laporan. Tidak ada creative accounting. Semua transaksi berbasis niat.
Dalam teori akuntansi, kita mengenal konsep fair value. Nilai wajar ditentukan oleh pasar aktif. Nah, di pasar Ramadhan, nilai wajar sebuah amal sering kali melonjak. Satu ayat dibaca, nilainya berlipat. Satu sedekah kecil, imbal hasilnya tak terhingga. Ini seperti saham yang tiba-tiba auto reject atas—bedanya, ini bukan spekulasi, melainkan janji Ilahi.
Namun, mari kita kritis. Ada juga yang memperlakukan Ramadhan seperti proyek jangka pendek. Ibadah digenjot hanya karena “musim diskon pahala”. Setelah Syawal, grafiknya turun drastis. Kalau ini perusahaan, auditor pasti memberi catatan: sustainability risk. Artinya, entitas bernama “iman” punya risiko keberlanjutan.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar