Banggai Ring 1 Panen Nol, Dugaan Gagal Total Program CSR Migas di Kintom
- account_circle Firman
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 118
- print Cetak

Ramli Babasal Saluan/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com, BANGGAI – Dugaan kegagalan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sektor migas mencuat di wilayah Ring 1 Kecamatan Kintom, Kabupaten Banggai. Tiga desa penerima bantuan bibit jagung dilaporkan mengalami gagal panen total atau panen nol.
Bantuan tersebut berupa 45 kilogram bibit jagung yang dibagikan kepada tiga kelompok tani di wilayah sekitar area operasi industri migas. Rinciannya, 15 kilogram untuk Kelompok Mawar di Desa Uling, 15 kilogram untuk Kelompok Potoutusan di Desa Solan, dan 15 kilogram untuk Kelompok Benteng Jaya di Desa Samadoya.
Namun, berdasarkan keterangan Ramli Babasal Saluan, seluruh bantuan tersebut tidak menghasilkan panen.
“Total bantuan 45 kilogram bibit jagung. Total hasil panen: nol. Ini bukan sekadar gagal tanam biasa, tapi patut diduga sebagai kegagalan tata kelola program CSR,” ujar Ramli.
Ia menilai, jika wilayah yang masuk kategori Ring 1—yang seharusnya menjadi prioritas utama penerima manfaat—justru mengalami kegagalan total, maka persoalannya tidak lagi sekadar isu teknis pertanian di tingkat desa.
Menurutnya, kondisi ini memunculkan sejumlah pertanyaan mendasar terkait perencanaan dan pelaksanaan program. Di antaranya, apakah sebelum pembagian bibit telah dilakukan studi kelayakan lahan, apakah ada pendampingan agronomis kepada petani, serta bagaimana mekanisme pengawasan dan evaluasi program berjalan.
“CSR bukan dana pribadi perusahaan. Itu kewajiban sosial yang lahir dari eksploitasi sumber daya alam. Kalau program pemberdayaan berakhir tanpa hasil, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi perusahaan, tapi juga kredibilitas pengawasan pemerintah,” tegasnya.
Ramli juga mempertanyakan apakah bantuan berhenti sebatas distribusi untuk memenuhi laporan tahunan, tanpa memastikan keberlanjutan dan hasil nyata di lapangan.
Ia menilai kasus di Kintom seharusnya menjadi alarm bagi pengelolaan CSR sektor migas secara nasional. Program pemberdayaan, kata dia, tidak boleh bersifat seremonial atau hanya berorientasi pada angka penyaluran.
“Harus ada transparansi anggaran, audit independen, dan pelaporan berbasis hasil. Jika di Ring 1 saja hasilnya nihil, publik berhak bertanya bagaimana dengan wilayah lain,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah terkait penyebab gagal panen tersebut.
Ramli, yang merupakan warga sekaligus aktivis, menegaskan ketika bantuan 45 kilogram bibit jagung berujung pada nol panen, yang hilang bukan hanya hasil pertanian, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap program CSR.
“Pertanyaannya sekarang terbuka untuk publik: apakah CSR benar-benar untuk rakyat, atau hanya untuk laporan?” pungkasnya.
- Penulis: Firman

Saat ini belum ada komentar