Dari Mandulnya Intelektual hingga Salah Paham Membaca Dunia
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
- visibility 161
- print Cetak

Muhammad Kamal, Penulis. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
China sering dipuji karena pertumbuhan ekonominya, infrastrukturnya, atau kemampuan teknologinya. Tapi semua itu bukan berdiri di ruang hampa. Ada kerangka berpikir yang menopangnya. Di sana, Partai Komunis Tiongkok tidak sekadar menjadikan Marxisme sebagai slogan, tapi sebagai alat baca realitas—yang kemudian diadaptasi sesuai kondisi mereka sendiri, atau yang dikenal sebagai “socialism with Chinese characteristics”.
Artinya sederhana: mereka tidak memperlakukan ideologi sebagai dokumen mati, tapi sebagai alat kerja. Bahkan ketika mereka membuka pasar dan bermain dalam logika kapitalisme global, itu tetap dibingkai sebagai strategi dalam tahap pembangunan sosialisme mereka. Kita boleh setuju atau tidak, tapi di sana ada konsistensi antara pengetahuan, ideologi, dan kebijakan.
Bandingkan dengan kita. Di sini, pengetahuan sering berhenti di ruang seminar. Ia tidak benar-benar menjadi fondasi kebijakan, apalagi menjadi sikap politik. Intelektual bicara teori, negara jalan dengan logika sendiri. Keduanya tidak bertemu.
Hal yang sama bisa dilihat pada Iran. Banyak orang melihatnya hanya dari konflik geopolitik atau ketegangannya dengan Barat. Tapi kalau tidak memahami Syiah sebagai basis spiritual dan politik, kita akan kehilangan inti ceritanya. Dalam tradisi Syiah, ada narasi panjang tentang ketertindasan, pengorbanan, dan perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap zalim. Itu bukan sekadar ajaran agama, tapi menjadi energi sosial dan politik yang nyata.
Dari situlah lahir daya tahan mereka—baik dalam menghadapi sanksi, tekanan internasional, maupun konflik internal. Negara itu tidak hanya berjalan dengan kalkulasi rasional, tapi juga dengan keyakinan yang hidup di masyarakatnya. Kita bisa melihat kontras yang cukup menyedihkan untuk indonesia kita, China punya ideologi yang terus diolah. Iran punya keyakinan yang terus dihidupkan. Sementara kita? Pengetahuan sering kali kehilangan keberanian untuk menjadi dasar sikap. Ia rapi di atas kertas, tapi ragu ketika harus berdiri di dunia nyata.
Fenomena ini agaknya memang akibat mandulnya keberpihakan intelektual. Karena ketika pengetahuan tidak punya keberanian untuk menjadi fondasi—baik dalam kebijakan maupun dalam keberpihakan moral—ia akan mudah tergelincir menjadi alat legitimasi. Ia bisa dipakai untuk membenarkan apa saja, selama cukup rapi secara argumen.
Akhirnya, kita jadi bangsa yang gemar mengomentari negara lain, tapi enggan membedah diri sendiri. Kita kagum pada hasil, tapi alergi pada proses. Kita ingin kemajuan, tapi tidak siap berhadapan dengan konsekuensi ideologisnya.
Padahal pelajarannya sederhana, meski tidak mudah dijalankan: tidak ada kemajuan yang lahir dari kekosongan gagasan. Dan selama pengetahuan kita terus netral, terus aman, dan terus menjaga jarak dari realitas—maka ia tidak akan pernah benar-benar menjadi kekuatan. Ia hanya akan jadi penonton, sementara arah sejarah ditentukan oleh mereka yang berani berpikir sekaligus berpihak.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar