Dari Mie Godok hingga Pesan Integritas, Wakil Gubernur Gorontalo Ajak Mahasiswa Melawan Korupsi
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month Jumat, 26 Des 2025
- visibility 18
- print Cetak

Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie di Bumi Cerah Bulontalangi, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (26/12/2025)/FOTO : Humas
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Di tengah sejuknya malam di Bumi Cerah Bulontalangi, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (26/12/2025), pesan tentang integritas disampaikan dengan cara yang sederhana namun berkesan. Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, hadir membuka peringatan Hari Anti Korupsi Dunia (Harkodia) yang digelar Fakultas Ilmu Hukum Universitas Ichsan Gorontalo.
Di hadapan mahasiswa, Idah mengajak generasi muda, khususnya calon penegak hukum, untuk memahami bahwa korupsi bukan sekadar soal uang dalam jumlah besar. Lebih dari itu, korupsi kerap bermula dari kelalaian, kesalahan administrasi, hingga penyalahgunaan kewenangan yang sering kali dianggap sepele.
“Korupsi bisa menjerat siapa saja, dari pejabat tinggi hingga aparatur desa. Ia tidak mengenal jabatan, latar belakang, bahkan citra pribadi,” ujar Idah.
Ia menekankan bahwa integritas dan iman menjadi benteng utama ketika kesempatan untuk berbuat curang terbuka. Banyak kasus, kata Idah, justru melibatkan sosok yang dikenal baik, santun, dan religius. “Ketika ada kesempatan tanpa integritas, siapa pun bisa terjerumus,” katanya.
Sebagai Wakil Gubernur perempuan pertama di Gorontalo, Idah juga berbagi pengalaman personal selama berkecimpung di dunia politik. Ia bersyukur karena dirinya dan keluarga—termasuk sang suami yang pernah menjabat Gubernur Gorontalo dua periode—dapat menjaga diri dari praktik korupsi. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kejujuran, dimulai dari lingkungan keluarga.
Pesan Idah kian relevan bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Hukum yang kelak akan berada di garis depan penegakan hukum. Ia menegaskan pentingnya memahami hukum secara mendalam, termasuk risiko dan konsekuensi dari setiap tindakan hukum. Di pundak generasi muda inilah, harapan menuju Indonesia Emas 2045 diletakkan.
Malam itu, suasana menjadi lebih hangat ketika Idah membawa sendiri Mie Godok buatannya dan membagikannya kepada mahasiswa serta dosen yang hadir. Hidangan sederhana tersebut menjadi simbol keteladanan dan kedekatan—bahwa perjuangan melawan korupsi tidak hanya disampaikan lewat pidato, tetapi juga melalui contoh nyata dan sentuhan kemanusiaan.
Dari sepiring Mie Godok hingga pesan tegas tentang integritas, Harkodia di Gorontalo menjadi pengingat bahwa perang melawan korupsi harus dimulai dari diri sendiri, sejak dini, dan dengan cara yang membumi.
- Penulis: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar