Breaking News
light_mode
Trending Tags

Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Serius

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 59
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menilai demokrasi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius yang berpotensi melemahkan prinsip-prinsip dasar demokrasi, mulai dari kebebasan sipil, supremasi sipil, hingga kebebasan pers.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2026, yang digelar di Grha Pemuda, Kompleks Gereja Katedral, Jalan Katedral No. 7B, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026), dan disiarkan secara langsung.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh lintas agama dan tokoh bangsa, di antaranya Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M. Quraish Shihab, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, Omi Komaria Nurcholish Madjid, Romo Franz Magnis-Suseno SJ, Pdt. Gomar Gultom, Erry Riyana Hardjapamekas, Pdt. Jacky Manuputty, Laode M. Syarif, Komaruddin Hidayat, Ery Seda, Romo A. Setyo Wibowo SJ, Lukman Hakim Saifuddin, dan Alissa Q. Wahid.

Skor Demokrasi Indonesia Stagnan

Dalam pernyataan sikapnya, GNB merujuk laporan Economist Intelligence Unit (EIU) 2025, yang mencatat skor kualitas demokrasi Indonesia berada di angka 6,30 dari skala 10.

“Pemilihan umum berjalan relatif baik, namun masih terdapat persoalan serius pada budaya politik, penghormatan terhadap kebebasan sipil, serta fungsi lembaga-lembaga pemerintahan,” ujar Omi Komaria Nurcholish Madjid saat membacakan pernyataan GNB.

Pernyataan sikap tersebut dibacakan secara bergiliran oleh para tokoh GNB, antara lain Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, Pdt. Jacky Manuputty, Pdt. Gomar Gultom, Romo Franz Magnis-Suseno, Lukman Hakim Saifuddin, dan Alissa Q. Wahid.

Represi terhadap Kebebasan Sipil Meningkat

GNB mencatat sepanjang 2025 terjadi peningkatan signifikan ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi. Pemenjaraan, teror, serta intimidasi terhadap warga negara yang menyampaikan kritik masih terus berlangsung.

Pasca aksi massa menuntut perbaikan kondisi bangsa pada Agustus 2025, yang disertai perusakan fasilitas publik, ribuan orang dilaporkan ditangkap dan ditahan, termasuk aktivis demokrasi dan pegiat hak asasi manusia.

“Hingga awal Desember 2025, penangkapan terhadap penggerak komunitas demokrasi lokal masih terus terjadi di sejumlah daerah,” demikian catatan GNB.

Selain itu, teror juga dialami akademisi dan influencer yang mengkritik penanganan bencana di Sumatera pada akhir November 2025.

Kebebasan Pers Memburuk

Kemunduran demokrasi juga tercermin dari memburuknya kebebasan pers. Jurnalis yang bersikap kritis dilaporkan mengalami berbagai bentuk intimidasi, mulai dari penghalangan kerja jurnalistik, perampasan alat liputan, hingga tekanan aparat penegak hukum dan keamanan.

GNB menilai pernyataan sejumlah pejabat publik yang menekan independensi media turut memperparah situasi. Bentuk teror yang dialami jurnalis, aktivis, akademisi, dan pemengaruh meliputi pengiriman bangkai binatang, perusakan kendaraan, doxing di ruang digital, hingga aksi kekerasan fisik seperti pelemparan bom molotov ke rumah.

GNB juga menyoroti kecenderungan negara menggunakan pendekatan represif dalam merespons tuntutan warga. Kekerasan dilaporkan terjadi dalam berbagai isu strategis, seperti pembahasan RUU TNI, aksi buruh, konflik Proyek Strategis Nasional, situasi di Papua, hingga polemik tunjangan anggota DPR.

“Meritokrasi birokrasi semakin terpinggirkan oleh kepentingan politik, sementara partai politik cenderung lebih menyuarakan kepentingan elite dibanding kepentingan publik,” kata Pdt. Gomar Gultom, Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

Krisis Lingkungan Jadi Ancaman Bangsa

Selain persoalan demokrasi, GNB menilai krisis lingkungan hidup sebagai ancaman serius bagi masa depan Indonesia. Berdasarkan data FAO, luas kawasan hutan Indonesia menyusut drastis dari 118,5 juta hektare pada 1990 menjadi 92,1 juta hektare pada 2020.

Eksploitasi alam yang tidak berkelanjutan dan lemahnya penegakan hukum memicu bencana ekologis di berbagai wilayah, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa.

Data BNPB per 11 Januari 2026 mencatat, bencana banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumatera menyebabkan 1.180 orang meninggal dunia, 145 orang hilang, dan sekitar 238 ribu orang mengungsi.

Sebagai gerakan etis dan nonpartisan, GNB mengajak seluruh elemen bangsa untuk melakukan upaya bersama demi mewujudkan Indonesia yang adil, demokratis, dan bermartabat.

“Nilai-nilai agama, Pancasila, dan UUD 1945 harus menjadi landasan etik dalam menjalankan amanah kekuasaan publik,” tegas Alissa Q. Wahid.

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja.

    Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja.

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 185
    • 0Komentar

    (Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Pernyataan Gus Ulil bahwa “menolak zero mining adalah goblok” secara teknis memang benar. Zero mining itu mustahil. Peradaban modern tidak berdiri tanpa mineral—ponsel, kendaraan listrik, panel surya, hingga kabel listrik di rumah kita semuanya lahir dari aktivitas tambang. Tidak ada yang membantah itu. […]

  • Rencana Industri Panas Bumi di Halmahera Barat, Ketua SEMA-HABAR : Saya Menyarankan Pemda dan DPRD Untuk Mengkaji Ulang

    Rencana Industri Panas Bumi di Halmahera Barat, Ketua SEMA-HABAR : Saya Menyarankan Pemda dan DPRD Untuk Mengkaji Ulang

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Nulondalo – Riwan Basir, Ketua Umum Sentral Mahasiswa Halmahera Barat (SEMA-HABAR) menyampaikan pandangannya soal rencana masuknya industri panas bumi di kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Ia menilai, meskipun industri ini berpotensi meningkatkan pendapatan daerah, pemerintah daerah harus mempertimbangkan dampak negatifnya terhadap lingkungan dan masyarakat. “Saat ini, Halmahera Barat mengalami tekanan ekonomi dengan pendapatan APBD yang […]

  • Bahaya Gambar Telanjang Palsu Buatan AI: Netizen Perlu Waspada

    Bahaya Gambar Telanjang Palsu Buatan AI: Netizen Perlu Waspada

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membuka banyak peluang positif dalam dunia digital. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga menghadirkan ancaman serius terhadap privasi dan martabat manusia. Salah satu bentuk penyalahgunaan yang kini menjadi sorotan global adalah pembuatan gambar telanjang palsu atau berpakaian minim menggunakan AI, tanpa persetujuan subjeknya. Isu ini kembali […]

  • Kritik Pelindo atas Kemacetan Tanjung Priok, Wasekjen PII: Gagal dalam Manajemen Sistem Logistik

    Kritik Pelindo atas Kemacetan Tanjung Priok, Wasekjen PII: Gagal dalam Manajemen Sistem Logistik

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Panji Sukma Nugraha, menyampaikan kritik tajam terhadap manajemen PT Pelindo seiring kemacetan parah yang terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok beberapa hari terakhir. Menurutnya, insiden ini merupakan bentuk nyata dari kegagalan perencanaan dan pengendalian sistem logistik nasional yang semestinya dapat diantisipasi sejak awal. “Ini bukan sekadar kemacetan lalu […]

  • UNU Gorontalo Dampingi Petani Atasi Konflik Satwa

    UNU Gorontalo Dampingi Petani Atasi Konflik Satwa

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Gorontalo yang melakukan penanaman papaya di batas ladang Masyarakat dengan kawasan hutan. Penanaman buah ini merupakan upaya untuk meredam konflik satwa liar dan petani yang hingga kini belum mampu diatasi. Mahasiswa ini menanam bibit papaya dengan jarak tertentu pada bidang lahan, sehingga saat pohon besar dan berbuah nanti kawasan ini […]

  • Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar FGD: Penataan Kembali Wilayah Aglomerasi sebagai Strategi Akselerasi Pembangunan Regional

    Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar FGD: Penataan Kembali Wilayah Aglomerasi sebagai Strategi Akselerasi Pembangunan Regional

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Urgensi Penataan Kembali Wilayah Aglomerasi: Sebuah Strategi Akselerasi Pembangunan Regional, Pemerataan, dan Peningkatan Kinerja Central Place”. Kegiatan berlangsung di Aula Prof. Kadir Abdussamad, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo, Kamis (6/11/2025). Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Wahyudin A. Katili, yang hadir mewakili Gubernur Provinsi […]

expand_less