I’tikaf: Kontemplasi dan Reorientasi Diri
- account_circle Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 44
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kontemplasi dalam i’tikaf dimulai dengan proses muhasabah atau evaluasi diri secara menyeluruh.
Dalam keheningan dinding masjid, jauh dari gangguan gadget dan hiruk pikuk pasar, seorang hamba diajak untuk berdialog dengan dirinya sendiri.
Narasi kontemplasi ini mencakup peninjauan kembali atas segala tindakan yang telah dilakukan di masa lalu.
Seseorang mulai mengingat dosa-dosa kecil maupun besar yang mungkin selama ini tertutup oleh kesombongan atau kelalaian.
Di saat inilah, air mata pertobatan (istighfar) menjadi penyejuk jiwa.
Kontemplasi ini juga menyentuh aspek eksistensial: “Siapa saya?”, “Untuk apa saya hidup?”, dan “Akan ke mana saya setelah ini?”.
Keheningan i’tikaf membantu manusia menyadari bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara, dan fokus utama seharusnya tertuju pada pengabdian kepada Allah.
Setelah fase kontemplasi berhasil membongkar kesalahan dan kelemahan diri, i’tikaf berlanjut pada tahap reorientasi.
- Penulis: Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna

Saat ini belum ada komentar