Breaking News
light_mode
Trending Tags

Jamaah sebagai Akar, Jamiyah sebagai Mesin: Teori Kekuasaan Versi NU

  • account_circle Pepy al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 22 Des 2025
  • visibility 61
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NU tidak membangun kekuasaan dengan cara merebut pusat. Ia tidak lahir dari istana, parlemen, atau kantor administrasi. NU lahir dari pinggir—dari desa, dari surau kecil, dari pesantren kampung yang jauh dari kota, dari obrolan yang tidak pernah berniat menjadi wacana besar. Karena itu, teori kekuasaan NU sejak awal berlawanan dengan logika kekuasaan modern yang bertumpu pada struktur, komando, dan institusi.

Dalam NU, kekuasaan tidak berada di jamiyah, melainkan di jamaah.

Jamiyah hanyalah mesin. Ia mengatur ritme, mempercepat kerja, memberi bentuk administratif. Tapi mesin bukan sumber tenaga. Dalam teori kekuasaan NU, tenaga datang dari akar sosial—jamaah yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ketika jamiyah lupa pada sumber ini, berarti mengeringkan daya hidupnya sendiri.

Jika kita ingin menyebut ini secara teoretis, kekuasaan NU bukanlah power over (menguasai), melainkan power with (menyatu). Ia bekerja bukan melalui perintah, melainkan melalui kebiasaan. Bukan melalui regulasi, melainkan melalui penerimaan kultural. Di sini NU terlihat lebih dekat pada hegemoni ala Gramsci, tetapi dengan satu perbedaan penting: hegemoni NU tidak dibangun lewat aparatus negara, melainkan lewat ritme hidup jamaah.

Jamiyah sering tergoda untuk memusatkan kekuasaan. Ini wajar. Struktur selalu ingin stabil, ingin permanen, ingin terlihat penting. Namun dalam logika NU, pemusatan kekuasaan justru tanda awal kerapuhan. Kekuasaan yang terlalu terpusat mudah ditarik oleh politik dan ekonomi. Ia menjadi negosiatif, transaksional, dan akhirnya mudah retak. Jamiyah lalu berisik, panas, dan saling mencurigai—ciri klasik mesin yang dipaksa bekerja di luar fungsinya.

Sebaliknya, jamaah NU menjalankan apa yang bisa disebut sebagai kekuasaan tersebar. Ia tidak spektakuler, tidak terlihat di media, tapi bekerja terus-menerus. Inilah yang oleh James C. Scott disebut sebagai infrapolitics, tetapi dalam versi NU ia lebih dari sekadar resistensi diam-diam. Ia adalah cara hidup. Jamaah tidak melawan kekuasaan; mereka membuat kekuasaan menjadi tidak relevan.

Dalam kerangka ini, kopi bukan metafora romantik—ia adalah infrastruktur kekuasaan NU. Kopi kental nan panas memungkinkan pertemuan tanpa hirarki, tanpa podium, tanpa agenda tersembunyi. Semua duduk sejajar. Semua bicara. Semua mendengar. Kekuasaan beredar, bukan ditumpuk. Konsensus lahir bukan dari voting, tetapi dari waktu—kopi yang dibiarkan dingin sambil pembicaraan menemukan bentuknya sendiri.

Inilah sebabnya NU sulit ditaklukkan, tapi juga sulit dikendalikan sepenuhnya. Kekuasaan NU tidak bisa diambil alih dengan mengganti pengurus, karena ia tidak tinggal di sana. Ia hidup di jamaah, di habitus, di ingatan kolektif. Jamiyah bisa berubah, bahkan hancur, tetapi kekuasaan NU tetap ada selama jamaah masih berkumpul, masih berbincang, masih menyeruput kopi bersama.

Maka krisis NU hari ini bukan krisis jamaah, melainkan krisis salah paham tentang kekuasaan. Jamiyah terlalu sering mengira bahwa kekuasaan harus dikelola, diamankan, dan dinegosiasikan. Padahal dalam tradisi NU, kekuasaan justru harus dibiarkan mengalir. Ia hidup ketika tidak dipamerkan, bekerja ketika tidak diklaim.

Jika hari ini jamiyah NU mudah terombang-ambing oleh kepentingan politik dan ekonomi, barangkali itu bukan karena tekanan eksternal semata, melainkan karena mereka meninggalkan teori kekuasaan NU sendiri. Teori yang sederhana, membumi, dan terbukti bertahan hampir satu abad:

duduk bersama, bicara pelan, biarkan kopi dingin, dan jangan pernah merasa paling penting.

Jika jamiyah NU retak hari ini, mungkin mereka lupa satu hal paling mendasar dalam politik NU: ngopi bareng.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepy al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penerapan Prinsip Pembangunan Hijau dalam Kebijakan Pangan dan Energi Nasional

    Penerapan Prinsip Pembangunan Hijau dalam Kebijakan Pangan dan Energi Nasional

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Pemerintahan Presiden Prabowo telah menetapkan Misi lima tahun pembangunan dalam masa pemerintahannya yang dikenal dengan Asta Cita. Berlandaskan pada Prinsip Ekonomi Pancasila, Asta Cita menempatkan ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia sebagai pilar utama pembangunan berlandaskan religiositas kehidupan berbangsa dan persatuan nasional yang kuat. Cita kedua adalah memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong […]

  • Harga Pupuk Subsidi Turun 20%, Tani Merdeka Gorontalo Diminta Awasi Distribusi hingga ke Petani

    Harga Pupuk Subsidi Turun 20%, Tani Merdeka Gorontalo Diminta Awasi Distribusi hingga ke Petani

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Pemerintah Prabowo Subianto  resmi menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen, mulai berlaku Rabu, 22 Oktober 2025. Kebijakan ini menjadi langkah bersejarah pertama di tingkat nasional, Rabu(22/10/2025). Penurunan harga tersebut dilakukan tanpa menambah anggaran subsidi dari APBN, melainkan melalui efisiensi industri dan perbaikan tata kelola distribusi pupuk. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor […]

  • Nusron Wahid Targetkan Semua Rumah Ibadah Bersertipikat: “Jangan Sampai Ada yang Belum”

    Nusron Wahid Targetkan Semua Rumah Ibadah Bersertipikat: “Jangan Sampai Ada yang Belum”

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 0
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Upaya penyelesaian sertipikasi tanah wakaf dan rumah ibadah di Indonesia terus diperkuat dengan melibatkan peran strategis tokoh-tokoh keagamaan. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menegaskan komitmennya untuk mempercepat sertipikasi aset keagamaan demi memberikan kepastian hukum dan mencegah konflik di masa mendatang. “Karena itu Bapak-bapak sekalian, hari ini kita […]

  • Kabar Gembira: Tunjangan Guru PAI Dicairkan Sebelum Lebaran

    Kabar Gembira: Tunjangan Guru PAI Dicairkan Sebelum Lebaran

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Kementerian Agama menegaskan tunjangan profesi bagi 120.067 guru dan pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah akan dicairkan sebelum Idulfitri 1446 H. Pemerintah telah menyiapkan anggaran lebih dari Rp828,1 miliar untuk mendukung pencairan tunjangan selama dua bulan ini, Januari dan Februari 2025. Dirjen Pendidikan Islam Suyitno mengatakan, peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu Asta Cita […]

  • Bukber oleh Funco Tanipu

    Bukber oleh Funco Tanipu

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Asal muasalnya, bukber atau buka puasa bersama dilaksanakan di tiap masjid saat Ramadan. Lambat laun, perkembangannya menjadi lebih transformatif. Bukber bukan saja soal tradisi buka puasa sebagai bagian dari ritus Ramadan. Bukber hari ini berkembang menjadi praktik sosio-religius yang modern. Jika kita pantau dari timeline media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp dan berbagai story media […]

  • Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan Play Button

    Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Rajab selalu datang dengan sunyi yang disengaja. Ia tidak meminta sorak, hanya ruang untuk merenung. Di bulan inilah sebuah budaya tentang kematian bayi di Toraja yang belum tumbuh gigi dan “dipulangkan” ke pohon mengajak kita menimbang ulang makna hidup, iman, dan kemanusiaan. Rajab adalah bulan yang tidak riuh. Ia berdiri tenang di antara kalender hijriah, […]

expand_less