Jejak Gus Dur di Pambusuang
- account_circle Suaib Pr
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 45
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nulondalo.com, Polewali Mandar — Ketua Lesbumi NU Sulbar, Ahmad Zaki, mengatakan bahwa jejak Gus Dur di Pambusuang dapat ditelusuri melalui program Bina Desa. Gus Dur tidak hanya menjalin persahabatan dengan tokoh agama, pemuda, dan masyarakat di Pambusuang, tetapi juga aktif mendorong pendampingan bagi warga setempat.
Sejumlah nama yang dikenal akrab dengan Gus Dur antara lain Syekh Jafar Almahdaly, Drs. Ridwan, Dra. Nursiah, dan H. Zainal Abidin. “Ayah saya (Syekh Jafar Almahdaly) sepuluh tahun menjadi anggota dewan, tetapi tak pernah ke Jakarta. Baru setelah ikut program Bina Desa, beliau bertemu langsung dengan Gus Dur di Jakarta,” ujar Ahmad Zaki, Kamis, 12 Februari 2026.
Dalam peringatan Haul ke-16 Gus Dur yang dirangkaikan dengan doa bersama untuk almarhum Mayjen (Purn) Salim Mengga, Zaki juga menyampaikan bahwa Jenderal Salim sebenarnya bersemangat untuk hadir. Ia ingin berbagi kisah keakrabannya dengan Gus Dur, KH. Maemoen Zubair, KH. Mustafa Bisri, dan KH. Sahal Mahfud saat bertugas sebagai Asospol di Jawa Tengah.
Kala itu, Jenderal Salim menjamin keamanan Gus Dur yang sempat dilarang berceramah karena kisruh dengan Abu Hasan. Namun, kisah itu tak sempat ia sampaikan. Pada 31 Januari 2026, Jenderal Salim berpulang, membawa serta cerita yang kini hanya tinggal kenangan.
Gus Dur dan Jenderal Salim hadir sebagai teladan: keberanian yang berpadu dengan kejujuran, serta cinta pada tradisi yang tak lekang oleh waktu. Karena itu, menurut Zaki, haul yang digelar di depan Masjid At-Taqwa Pambusuang bukan sekadar ritual doa, melainkan ruang pertemuan antara sejarah, bahasa, dan integritas.
- Penulis: Suaib Pr

Saat ini belum ada komentar