Breaking News
light_mode
Trending Tags

(Korupsi) Bisnis Paling Rasional

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
  • visibility 192
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di negeri ini, senjata api diawasi ketat. Mau punya pistol saja izinnya panjang, bisa lebih panjang dari antrean sembako. Tapi laporan keuangan? Bebas berkeliaran, rapi, wangi, dan sering dielu-elukan, padahal isinya bisa bikin rakyat miskin seumur hidup. Gus Dur mungkin akan bilang, “Senjata itu membunuh orang. Laporan keuangan bisa membunuh akal sehat.”

Korupsi pejabat publik di Indonesia sudah seperti sinetron kejar tayang: judulnya ganti-ganti, pemainnya itu-itu saja. Data KPK menunjukkan pelaku korupsi paling rajin justru mereka yang rajin pidato soal moral: kepala daerah, anggota DPR, pejabat kementerian. Yang bikin sedih, korupsi hari ini bukan dilakukan dengan wajah garang, tapi dengan wajah ramah, jas rapi, dan laporan keuangan yang kelihatan alim.

Dulu orang mencuri pakai karung, sekarang cukup pakai Excel. Angkanya sopan, bahasanya santun, bahkan dapat opini “wajar”. Kalau Gus Dur hidup hari ini, mungkin beliau akan nyeletuk, “Kalau maling pakai laporan keuangan, itu bukan pencuri biasa, itu pencuri terpelajar.”

Soal pengawasan, kita ini sebenarnya kaya. Inspektorat ada, BPK RI ada, BPKP ada, KPK RI ada, Kepolisian ada, Jaksa juga ada. Lengkap, seperti tumpeng tujuh lauk. Masalahnya, lauknya sering cuma pajangan. Temuan ada, rekomendasi ada, seminar juga ada, tapi korupsinya tetap ada. Yang hilang bukan lembaganya, tapi nyalinya.

Lebih lucu lagi, pengawasan kita kadang terlalu paham politik. Kalau yang diperiksa lawan, laporan keuangan bisa berubah jadi kitab dosa. Tapi kalau yang diperiksa kawan, mendadak semua angka terasa “manusiawi”. Di sini berlaku kaidah fiqih baru: “Yang dekat dimaafkan, yang jauh dikeraskan.” Ini bukan audit, ini audisi loyalitas.

Integritas pejabat publik akhirnya jadi barang langka, lebih langka dari minyak goreng saat panik nasional. Semua bicara integritas, tapi sedikit yang mau hidup dengannya. Padahal integritas itu sederhana: tidak mengambil yang bukan haknya. Tapi di negeri ini, yang sederhana justru terasa mustahil.

Korupsi pun terus jadi momok. Bukan karena kita tidak tahu solusinya, tapi karena solusinya sering kalah oleh kepentingan. Laporan keuangan akhirnya hanya jadi lipstik: kelihatan cantik di luar, tapi tidak menyembuhkan penyakit di dalam. Rakyat disuguhi angka pertumbuhan, sementara dompet mereka tetap kurus. Statistik makmur, realitas nyungsep.

Akibatnya jelas: kemiskinan sulit turun, kesenjangan makin santai melebar, pengangguran betah, dan kesejahteraan hanya rajin muncul di pidato. Uang negara bocor, lalu kita heran kenapa bantuan sosial kurang, sekolah rusak, dan rumah sakit antre. Ini seperti ember bocor yang terus diisi, lalu dimarahi karena tidak penuh.

Di sinilah negara dituntut serius, bukan sekadar serius saat konferensi pers. Salah satu uji nyali paling nyata adalah Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset. Tanpa itu, korupsi tetap bisnis yang paling rasional: rugi sebentar, untung seumur hidup. Gus Dur barangkali akan tertawa getir, “Kalau malingnya tetap kaya, itu bukan hukuman, itu cuti.”

RUU Perampasan Aset seharusnya jadi komitmen Presiden, DPR RI, dan partai politik. Kalau semua sepakat ingin rakyat sejahtera, jangan hanya sepakat di spanduk. Negara harus berani memiskinkan koruptor, bukan sekadar memenjarakannya dengan fasilitas mirip kos eksklusif.

Pada akhirnya, laporan keuangan tidak salah. Yang salah adalah ketika ia dipakai tanpa hati nurani. Tanpa integritas, laporan keuangan bukan alat transparansi, tapi senjata senyap. Ia tidak berbunyi, tidak berdarah, tapi pelan-pelan membunuh keadilan. Dan seperti kata humor NU yang paling jujur: “Kalau angka sudah berdusta, ceramah apa pun hanya jadi pengantar tidur.”

Penulis adalah Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puzzle Terakhir Demokrasi: Partisipasi Publik di Media Digital

    Puzzle Terakhir Demokrasi: Partisipasi Publik di Media Digital

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Indonesia sudah lama menerima demokrasi sebagai bentuk. bahkan sejak awal diproklamirkan, demokrasi diterima sebagai instrumen politik utama. Tetapi entah kenapa, selalu terasa ada yang kurang lengkap. Seolah ada satu puzzle yang hilang dan membuat demokrasi kita tak utuh. Yaitu partisipasi publik yang subtantif. Padahal, partisipasi publik adalah mandat utama demokrasi. Selama bertahun-tahun, partisipasi publik dalam […]

  • Pemuda Kaltim Bersuara: Sudah Cukup, Tuntut Keadilan Lingkungan 

    Pemuda Kaltim Bersuara: Sudah Cukup, Tuntut Keadilan Lingkungan 

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 64
    • 0Komentar

    “Sudah cukup” Seruan itu menggema dari hati rakyat Kalimantan Timur sebagai bentuk kekecewaan sekaligus kepedulian mendalam terhadap kerusakan lingkungan yang terus berlangsung tanpa henti. Masyarakat menyerukan keadilan ekologis dan menolak eksploitasi yang menggerus alam serta merusak kehidupan mereka. Hal ini disampaikan oleh Usamah Ahmad Syahid, Wasekjend DPP GENINUSA (Gerakan Santriprenuer Nusantara), yang menyuarakan keresahan warga […]

  • Gorontalo Kawal Keberlanjutan Hiu Paus Lewat Program LAUTRA

    Gorontalo Kawal Keberlanjutan Hiu Paus Lewat Program LAUTRA

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Sebagai bentuk implementasi Program Oceans for Prosperity Project – Laut untuk Kesejahteraan (LAUTRA), Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar melaksanakan kegiatan monitoring habitat Hiu Paus (Rhincodon typus) di Kawasan Konservasi Wilayah Perairan Teluk Gorontalo pada tahun 2025, Kamis, 3/7/2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program LAUTRA Komponen 1, yang berfokus pada pengembangan […]

  • Jalan Poros Moncongloe–BTP Rusak Parah, Lubang Menganga Ancam Keselamatan Pengendara

    Jalan Poros Moncongloe–BTP Rusak Parah, Lubang Menganga Ancam Keselamatan Pengendara

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 127
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Kondisi Jalan Poros Moncongloe–BTP mengalami kerusakan parah dan memicu keluhan warga. Kerusakan tersebut berada tepat di sekitar Kantor Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, atau persis di depan SPBU 7490517. Pantauan di lokasi menunjukkan badan jalan utama dipenuhi lubang-lubang dalam yang menganga lebar. Saat hujan deras mengguyur, lubang tersebut tertutup genangan air […]

  • Tradisi Doa Tolak Bala di Hari Asyura

    Tradisi Doa Tolak Bala di Hari Asyura

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Mubarak Idrus
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Tepat pukul 20.00 wita, jamaah Tarekat Khalwatiyah mulai memadati halaman masjid Baitul Izzah yang terletak di Jl. Baji Bicara 7. Beberapa di antaranya menenteng makanan yang akan disajikan selepas acara doa asyura dan tolak bala. Doa Asyura dan Tolak Bala merupakan salah satu amalan yang rutin dilakukan oleh Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassari. Seperti tahun-tahun […]

  • Sedekah Tanpa Batas: Menag Dorong Filantropi Islam Universal

    Sedekah Tanpa Batas: Menag Dorong Filantropi Islam Universal

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Nulondalo.com- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberikan penekanan khusus mengenai optimalisasi filantropi Islam dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah pada 24 Februari 2026. Menag mengajak umat Islam, khususnya kelompok kaya (aghniya), untuk tidak terjebak pada pemenuhan standar minimal kewajiban agama dalam pembayaran zakat, tapi memperluas kontribusinya melalui instrumen sedekah, infak, hibah, dan wakaf. Hal itu disampaikan […]

expand_less