Mengharapkan Masjid Ramah Disabilitas di Serambi Madinah
- account_circle Fadhil Hadju
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 45
- print Cetak

Ilustrasi masjid ramah disabilitas dengan fasilitas akses kursi roda, guiding block, dan layanan inklusif bagi seluruh jemaah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun, tentu saja selain telah diprogramkan oleh pemerintah pusat, tidak menutup kemungkinan pemerintah daerah juga mulai merancang fasilitas masjid ramah disabilitas. Terlebih Gorontalo menyandang julukan ‘Serambi Madinah’, dengan falsafah adat yang berlandaskan kitabullah.
Di Aceh, daerah dengan julukan Serambi Makkah terdapat empat masjid yang memenuhi standar layak disabilitas di antaranya : Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Oman Al-Makmur, Masjid Harun Keuchik Leumik, dan Masjid Baitul Musyahadah (Fakhri, dkk. 2024). Keempat masjid tersebut, dinyatakan sudah optimal dalam memberikan pelayanan khusus bagi penyandang disabilitas seperti kursi roda, tempat naik kursi roda, rambu, marka dan tempat parkir bagi disabilitas.
Kondisi masjid memenuhi standar disabilitas itu sudah baik. Setidaknya merunut UU Nomor 16 tahun 2016 tentang Disabilitas. Namun perlu kita ketahui, bahwa ada berbagai jenis disabilitas. Seperti Rieka, melansir DW (2026), yang merupakan seorang individu Tuli. Kondisi tersebut, membuat perempuan ini kesulitan saat menjalani ibadah di masjid, terutama saat menyimak khotbah. “Untuk mengetahui isi khotbah, ia biasanya membaca catatan jemaah lain,” mengutip DW.
Dr. Nurcholish Madjid, dalam bukunya Islam Doktrin dan Peradaban (1992), berpendapat bahwa, dalam sikap kita beragama tidak bisa dijauhkan dari dua kutub : hablum min Allah (hubungan dengan Allah) dan hablum min nas (hubungan dengan sesama manusia). Terhadap hal terakhir ini yang menjadi dasar bagi kita untuk peduli terhadap hak warga disabilitas, sebagai manusia yang punya hak sama seperti kita.
Untuk hubungan yang pertama (hablum min Allah), memang perlu kita perteguh. Sebagai pertanggungjawaban kita kepada-Nya di akhirat nanti. Meski demikian, sebagai manusia, kita tidak boleh melulu terjebak dalam ritus dan simbolisme keagamaan semata. Jangan sampai, kita shalat melulu tapi tidak peduli dengan teman-teman kita, warga disabilitas. Hal ini pernah dituliskan A.A Navis, seorang novelis Indonesia, dalam buku antologi cerpennya berjudul ‘Robohnya Surau Kami’. Dalam cerpen itu, A.A Navis membongkar kebiasaan umat islam yang seringkali terjebak pada ritus ibadah semata, dan melupakan tanggung jawab sosialnya.
Dalam berbagai karyanya, K.H Abdurrahman Wahid, atau yang biasa disapa Gus Dur sering menyinggung perihal Islam Inklusif. Gus Dur menekankan bahwa ajaran agama harus berpusat pada nilai kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan. “Gus Dur secara tegas menekankan bahwa Islam tidak boleh dipahami secara eksklusif dan kaku. Dalam pandangannya, Islam harus dimaknai secara kontekstual, yakni sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi sosial yang dihadapi umat manusia,” (Purnama, dkk. 2025).
Gorontalo sudah mestinya berbenah. Setidaknya ini menurut keyakinan saya. Kota Serambi Madinah harus bisa melayani semua umat, dan semua jenis manusia di dalamnya. Sebagaimana harapan kita semua tentang islam, yakni sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).
- Penulis: Fadhil Hadju

Saat ini belum ada komentar