Breaking News
light_mode
Trending Tags

Meong Palo Karellae dalam Pusaran Modernisasi

  • account_circle Muh. Akbar
  • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
  • visibility 171
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masyarakat Sulawesi Selatan memiliki cerita rakyat yang cukup terkenal. Cerita rakyat ini termuat dalam salah satu episode dalam sureq La Galigo. Cerita rakyat tersebut dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan dengan sebutan Meong Palo Karellae, kisah yang mengandung nilai moral, kesabaran, keikhlasan, dan penghormatan.

Meong Palo Karellae mengisahkan seekor kucing belang tiga yang menemani Sangiangseri (Dewi Padi) dalam perjalanan menyebarkan kemakmuran pertanian di Sulawesi Selatan. Nasihat serta pantangan-pantangannya dianggap mampu menyuburkan serta melindungi pertanian dari serangan hama.

Siapa sosok Sangiangseri (Dewi Padi)

Cerita lisan yang berkembang di Sulawesi Selatan menjadikan sosok Sangiangseri tidak luput dari pembicaraan masyarakat. Dalam naskah La Galigo, Sangiangseri merupakan puteri dari sepasang suami istri Batara Guru dan We Nyilik Timo yang wafat setelah tiga hari kelahiran.

We Oddang Riu adalah nama yang diberikan setelah kelahirannya, namun karena berselang beberapa hari setelah wafatnya, makam puterinya banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan yang kelihatannya asing, sehingga Batara Guru mengadu kepada Datu’ Patotoq (Raja Botting Langi), dari penjelasan Datu’ Patotoq yang tumbuh di makam We Oddang Riu disebut sebagai padi. We Oddang Riu menjelma menjadi Dewi Padi Sangiangseri atas kehendak Datu’ Patotoq (Penentu Takdir).

Sangiangseri ditakdirkan untuk memberikan kehidupan bagi masyarakat Sulawesi Selatan, diyakini sebagai penjamin kemakmuran, pemberi hasil panen yang melimpah, dan pelindung tanaman padi dari hama. Pemujaan dan penghormatan terhadap sangiangseri sering diwujudkan dalam tradisi adat Sulawesi Selatan, seperti Maddoja Bine, dan Mappadendang saat upacara panen. Itu semua dilakukan karena Sangiangseri (Dewi Padi) merupakan asal usul padi di Sulawesi Selatan.

Kisah Meong Palo Karellae

Meong Palo Karellae adalah sebutan untuk kucing jantan dengan mempunyai bulu tiga warna, hitam, putih, dan coklat, yang pada umumnya sulit untuk menemukan kucing dengan warna tersebut. Kisah kucing tersebut sering dikaitkan dengan mitos diberbagai budaya. Di masyarakat Bugis sendiri, Meong Palo Karellae dikisahkan merupakan pengawal setia Sangiangseri (Dewi Padi).

Meong Palo Karellae awalnya yang bermukim di Wage (sekarang Wajo) hidup dengan bahagia, tentram, tidak pernah mengalami siksaan atau penderitaan dari tuannya. Hidupnya mulai berubah secara drastis ketika masyarakat setempat tidak lagi menghormati Sangiangseri, nasihat dan pantangan-pantangannya tidak lagi didengar oleh masyarakat setempat.

Disisi lain, Meong Palo Karellae mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, di tempat tersebut Meong Palo Karellae mulai merasakan penderitaan dan kepedihan dari tuannya. Atas nasihat dan pamali yang tidak didengar akibatnya padi dimakan tikus di siang hari, dan dipatuk ayam di malam hari. Dengan keadaan demikian, Sangiangseri memutuskan meninggalkan tempat tersebut.

Sangiangseri memutuskan melakukan pengembaraan mencari tempat dimana mereka diterima dengan baik, di dudukkan ditempat yang agung. Dalam pengembaraannya mereka tiba di Enrekang, kemudian ke Maiwa, selanjutnya ke Soppeng, Langkemme, Kessi, lisu, hingga sampai ke Barru dan menetap disana.

Dalam rute perjalanannya yang melewati Enrekang hingga ke Lisu, mereka selalu merasakan penderitaan ditempat yang mereka singgahi. Bukan hanya itu, kelakuan dan sifat masyarakat terhadap padi tidak menempatkan ditempat yang agung, membiarkan nasi jatuh ke tanah dan tidak dipungut oleh masyarakat.
Ketika masuk di wilayah Barru, mereka menemukan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan dalam perjalanan. Sangiangseri dan Meong Palo Karellae disambut dengan baik, diagungkan dan ditempatkan ditempat yang layak. Semua masyarakatnya jujur, ramah dan berlaku adil, sehingga Sangiangseri dan Meong Palo Karellae merasa nyaman tinggal di daerah tersebut.

Saat menetap di daerah Barru, Sangiangseri memberikan nasihat, pesan, pamali yang berkaitan dengan cara penanaman padi, serta adat dalam memperlakukan tanaman padi sehingga masyarakat hidup dalam kebaikan. Masyarakat Barru kemudian percaya bahwa ketika mereka malaksanakan apa yang diperintahkan Sangiangseri, maka mereka akan merasakan kebaikan dan tidak akan ditinggalkan oleh Sangiangseri.

Pertanian Modern yang Melupakan Warisan Leluhur

Meong Palo Karellae, walaupun hanya sebatas cerita rakyat dan mempunyai unsur mitos, namun cerita tersebut sarat dengan nilai yang terkandung di dalamnya. Banyak memberikan pengajaran bagi masyarakat Sulawesi Selatan lebih khususnya masyarakat Bugis.

Dalam dunia yang serba modern hari ini, tentunya terasa kuno atau ketinggalan zaman ketika melakukan aktivitas bercocok tanam masih menggunakan cara tradisional atau model-model lama. Fenomena seperti ini tidak jarang kita temui di Sulawesi Selatan, pengetahun bercocok tanam yang diwariskan leluhur kita tidak lagi di terapkan di dunia pertanian. Padahal para leluhur telah mewariskan pengetahuan lokal mulai awal pembibitan hingga melakukan panen.

Pengetahuan lokal tentang pertanian dimuat dalam beragam tradisi, ritual atau upacara adat yang berkembang di masyarakat, seperti Maddoja Bine yang berhubungan dengan pembacaan sureq Meong Palo Karellae. Sureq tersebut dibacakan untuk menghormati Sangiangseri sebagai Dewi Padi, upacara ini rutin dilakukan sebelum penanaman dengan tujuan agar padi tumbuh subur dan kelak hasil panen melimpah dan berhasil.

Namun sekarang, seiring berkembangnya zaman, tradisi dan ritual seperti pembacaan sureq Meong Palo Karellae sudah jarang dilakukan. Terjadinya perubahan nilai-nilai dalam masyarakat, hingga penemuan bahan kimia yang mampu menyuburkan dan melindungi tanaman dari hama menjadi salah satu faktor jarangnya masyarakat melakukan tradisi dan ritual tersebut. Padahal selain memberikan manfaat pada tanaman, pembacaan sureq Meong Palo Karellae merupakan salah satu bentuk kesusastraan Bugis yang perlu dilestarikan.

Penulis : Ketua Kaderisasi PMII Cabang Barru, Pemimpin PMII Gerbong Dekol

  • Penulis: Muh. Akbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Refleksi atas Sambutan Menag pada Acara Peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, tampaknya menaruh perhatian yang sangat serius pada gagasan ekoteologi. Dalam berbagai forum resmi Kementerian Agama, beliau secara konsisten memperkenalkan dan mengelaborasi konsep ini. Hampir setiap sambutan selalu membicarakan relasi agama dan lingkungan sebagai tema utama atau tema […]

  • WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 118
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai perpanjangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan Inc terkait kelanjutan operasi PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga seumur cadangan tembaga dan emas di Papua sebagai kebijakan yang berpotensi melanjutkan krisis ekologis dan kemanusiaan di Tanah Papua. Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even […]

  • Sedekah Tanpa Batas: Menag Dorong Filantropi Islam Universal

    Sedekah Tanpa Batas: Menag Dorong Filantropi Islam Universal

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Nulondalo.com- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberikan penekanan khusus mengenai optimalisasi filantropi Islam dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah pada 24 Februari 2026. Menag mengajak umat Islam, khususnya kelompok kaya (aghniya), untuk tidak terjebak pada pemenuhan standar minimal kewajiban agama dalam pembayaran zakat, tapi memperluas kontribusinya melalui instrumen sedekah, infak, hibah, dan wakaf. Hal itu disampaikan […]

  • McDonalisasi PMII…..!!!

    McDonalisasi PMII…..!!!

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Sahabat Senior: ente tahu tanggal 17 April torang akan merayakan HARLAH PMII? Sahabat Yunior: Jelas taulah (sambil tersenyum)…! PMII itu kan singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, ya? Ada apa senior? Sahabat Senior: Iya, butul! Harlah ini bukan hanya sekadar perayaan, tapi juga momen untuk refleksi atas perjuangan dan kontribusi PMII dalam pengembangan kader dan […]

  • Abu Sa’id al-Khudri dan Surah Al-Fatihah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #24)

    Abu Sa’id al-Khudri dan Surah Al-Fatihah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #24)

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Nama lengkapnya Sa‘d bin Malik bin Sinan bin ‘Ubayd bin Tha‘labah al-Khazraji al-Anshari. Ia berasal dari suku Khazraj, salah satu dari dua suku besar Anshar di Madinah bersama suku Aus. Karena berasal dari keluarga Bani Khudrah di lingkungan Khazraj, ia dikenal dengan nisbah al-Khudri. Abu Sa’id lahir di Madinah sebelum kedatangan Nabi. Ayahnya, Malik bin […]

  • Prahara Republik Merah Putih (Fakta dan Imajinasi di Jantung Negeri)

    Prahara Republik Merah Putih (Fakta dan Imajinasi di Jantung Negeri)

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Penulis : Asrul G.H. Lasapa (Da’i dan Pemerhati Sosial Keagamaan) Suasana semakin genting. Pergerakan massa sudah tidak terkendali. Teriakan demi teriakan menggelinding hingga ke petala langit. Suara dentuman benda keras menghantam genteng dan kaca bangunan megah seakan berlomba dengan suara letusan senjata aparat keamanan. Kobaran api semakin membara. Gumpalan asap hitam membumbung pekat ke angkasa […]

expand_less