Breaking News
light_mode
Trending Tags

Seratus Tahun NU dan Neo-Postradisionalisme

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
  • visibility 280
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada awal tahun 2000-an, di tubuh Nahdlatul Ulama, muncul satu arus pemikiran penting yang digerakkan terutama oleh anak-anak muda NU di level kultural, yang kemudian dikenal sebagai Postradisionalisme Islam. Gerakan pemikiran ini lahir dan tumbuh dari ruang-ruang intelektual dan kebudayaan yang relatif cair. LKiS di Yogyakarta dan Desantara di Jakarta menjadi dua simpul penting yang menghidupkan wacana ini, bersamaan dengan individu-individu NU yang bergerak di berbagai perguruan tinggi dan komunitas diskusi. Postradisionalisme berkembang sebagai praktik berpikir kolektif yang merespons situasi pasca-reformasi—sebuah periode yang ditandai oleh keterbukaan politik, fragmentasi otoritas keagamaan, dan meningkatnya peran wacana publik di luar institusi negara maupun ormas formal.

Gagasan postradisionalisme mengambil posisi kritis di antara dua kutub pemikiran yang saling berhadapan. Di satu sisi, ia mengajukan kritik terhadap liberalisme keagamaan yang sering tampil progresif, tetapi kerap tercerabut dari basis sosial umat dan tradisi hidup pesantren. Di sisi lain, ia juga menolak konservatisme yang membekukan tradisi sebagai kebenaran final dan menutup ruang tafsir. Postradisionalisme berangkat dari tradisi, tetapi tidak memposisikannya sebagai warisan beku yang harus dilestarikan apa adanya. Tradisi justru dibaca secara reflektif, dinegosiasikan, dan dijadikan sumber daya kritik untuk memahami perubahan sosial yang cepat. Dalam konteks pasca-reformasi, pendekatan ini diyakini sebagai tawaran alternatif bagi NU: sebuah cara merespons modernitas, demokratisasi, dan pluralitas sosial tanpa kehilangan akar historis dan basis kulturalnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, wacana Postradisionalisme Islam perlahan kehilangan bentuk dan daya dorongnya. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Pergeseran aktor—ketika generasi penggeraknya memasuki ruang-ruang baru yang lebih struktural dan pragmatis—atau sebagai keterbatasan ide itu sendiri dalam meruntuhkan sistem berpikir NU yang kian mengeras dalam bentuk ortodoksi. Di saat yang sama, faktor politik juga tidak dapat diabaikan. Menguatnya tarikan politik praktis dan kepentingan kekuasaan di tubuh NU secara perlahan menggeser orientasi wacana dari kritik kultural ke konsolidasi struktural.

Kini, NU telah memasuki usia 100 tahun. Ada tantangan baru yang muncul yaitu media digital. Media digital membentuk rezim kekuasaan baru yang tidak bekerja melalui larangan atau doktrin, melainkan melalui visibilitas, repetisi, dan normalisasi. Algoritma menentukan apa yang layak muncul dan apa yang tenggelam. Ini adalah teknologi kekuasaan yang membentuk subjek secara halus dan berkelanjutan, melampaui teknologi komunikasi.

Media digital telah melahirkan bentuk masyarakat yang baru—sebuah masyarakat virtual—yang berbeda secara mendasar dari masyarakat konvensional. Masyarakat konvensional dibentuk melalui relasi institusional—pesantren, majelis, struktur organisasi. Sedangkan masyarakat digital dibentuk melalui governmentality algoritmik: cara mengatur perilaku, perhatian, dan afeksi ditentukan oleh algoritma. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh otoritas keilmuan, melainkan oleh intensitas kemunculan dan resonansi emosional.

Di titik inilah sistem kepemimpinan NU yang bertumpu pada ketokohan tradisional menghadapi ujian serius. Karisma kiai yang dibangun melalui sanad, keteladanan, dan relasi panjang, kini berhadapan dengan logika relevansi. Dalam rezim digital, otoritas harus terus diproduksi, dipertontonkan, dan dinegosiasikan. Jika tidak, maka ia akan tersingkir bukan karena kalah dan salah, tetapi karena tidak terlihat oleh algoritma.

Neo-postradisionalisme tampak relevan ditawarkan kembali karena menghadapi kontradiksi mendasar antara identitas tradisional dan dinamika masyarakat digital. NU memiliki identitas yang kuat dan melekat pada tradisi, namun relevansi sosial tidak otomatis muncul jika struktur dan praktiknya tetap statis. Struktur syuriah, sebagai pusat otoritas, selama ini bekerja di balik lapisan formal dan ritualistik; visibilitasnya terbatas dan interaksi publik cenderung vertikal. Di masyarakat digital yang nir-otoritas, legitimasi tidak cukup dibangun melalui struktur formal—publik menilai relevansi melalui keterlibatan, konsistensi, dan resonansi konten. Maka, untuk mempertahankan otoritas sekaligus memperluas pengaruh, panggung digital harus disiapkan bagi para syuriah, bukan sekadar sebagai representasi simbolik, tetapi sebagai arena nyata untuk interaksi dan komunikasi yang adaptif.

Neo-postradisionalisme di era digital menekankan kreativitas sebagai prasyarat relevansi sosial. Secara teoritik, pendekatan ini dapat dipahami sebagai upaya menyeimbangkan dua dimensi: kontinuitas dan adaptasi. Kontinuitas dijaga melalui syuriah, yang tetap berfungsi sebagai pusat legitimasi internal dan pengawal tradisi, sedangkan adaptasi diwujudkan melalui keterlibatan di ranah digital, yang berperan sebagai mekanisme eksternal untuk memperluas pengaruh, membangun visibilitas, dan memastikan resonansi pesan dengan masyarakat kontemporer.

Pendekatan ini mengubah pemahaman otoritas tradisional: otoritas tidak lagi hanya soal posisi formal, tetapi juga kemampuan untuk tetap hadir, relevan, dan berpengaruh dalam ruang sosial yang cair, nir-otoritas, dan berkecepatan tinggi. Dengan demikian, neo-postradisionalisme menawarkan model transformasi struktural dan kultural, menjembatani tradisi dengan tuntutan masyarakat digital.

Seratus tahun NU adalah momen yang tepat untuk pembaruan. Kita sedang menghadapi tantangan baru: bagaimana tetap relevan, menjaga legitimasi syuriah, dan hadir di ruang masyarakat modern dan digital secara konsisten,

Jayalah NU.

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Melayani Tamu Allah; Kisah di Balik Terminal Fast Track Haji

    Melayani Tamu Allah; Kisah di Balik Terminal Fast Track Haji

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Pagi itu, langit di atas Bandara Soekarno-Hatta cerah tak biasa. Terminal 2F yang biasanya menjadi tempat pertemuan pesawat dan penumpang, hari itu menjelma menjadi panggung sejarah baru. Presiden Prabowo Subianto meresmikan Terminal Khusus Haji dan Umrah—simbol transformasi besar pelayanan ibadah di Indonesia, lengkap dengan sistem fast track imigrasi Arab Saudi. Namun, di balik kemegahan acara […]

  • Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja

    Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 252
    • 0Komentar

    (Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Pernyataan Gus Ulil bahwa “menolak zero mining adalah goblok” secara teknis memang benar. Zero mining itu mustahil. Peradaban modern tidak berdiri tanpa mineral—ponsel, kendaraan listrik, panel surya, hingga kabel listrik di rumah kita semuanya lahir dari aktivitas tambang. Tidak ada yang membantah itu. […]

  • Gerakan Kebudayaan, Titik Akupuntur dalam Krisis Demokrasi

    Gerakan Kebudayaan, Titik Akupuntur dalam Krisis Demokrasi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 75
    • 0Komentar

    (Catatan naratif peta loop Komisi Media, Budaya, dan Masyarakat Sipil pada Sarasehan Gerakan Nurani Bangsa, 8 Juni 2025) Demokrasi Indonesia sedang mengalami paradoks . Secara prosedural, mekanisme demokrasi berjalan—pemilu dilaksanakan, lembaga negara berfungsi—namun secara substansial, demokrasi mengalami defisit. Kebebasan sipil menyusut, ruang berpikir kritis menyempit, dan masyarakat sipil kehilangan pijakan simbolik untuk mendorong perubahan. Dengan […]

  • Demokrasi dan Distribusi Keadilan

    Demokrasi dan Distribusi Keadilan

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Siti Sara Malase
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Penulis : Siti Sara Malase Demokrasi merupakan salah satu sistem pemerintahan yang paling banyak diadopsi di dunia modern. Sejak akhir Perang Dingin, demokrasi menjadi standar legitimasi politik bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Secara konseptual, demokrasi didefinisikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Namun, dalam praktiknya, demokrasi kerap mengalami penyempitan makna dengan direduksi […]

  • Wagub Tegaskan PLTMH Poduwoma Tetap Dituntaskan Meski Ditolak Warga

    Wagub Tegaskan PLTMH Poduwoma Tetap Dituntaskan Meski Ditolak Warga

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 89
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menegaskan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Desa Poduwoma, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, tetap akan dituntaskan meski sempat mendapat penolakan dari sejumlah warga. Penegasan tersebut disampaikan usai Idah meninjau langsung lokasi proyek PLTMH Poduwoma pada Minggu (8/2/2025). Kunjungan itu turut didampingi Kepala Dinas […]

  • Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Konon, setiap Ramadhan setan-setan dibelenggu. Informasi ini begitu populer, bahkan lebih populer daripada promo diskon sirup menjelang buka puasa. Tapi pertanyaannya, kalau setan sudah diikat, kenapa praktik fraud masih saja merajalela? Apakah setannya lolos dari sistem pengendalian internal? Atau jangan-jangan, yang perlu diaudit bukan setan, tapi niat dan sistem kita? Dalam tradisi pesantren ala Nahdlatul […]

expand_less