Setan Diikat, Fraud Berlanjut?
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 85
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Konon, setiap Ramadhan setan-setan dibelenggu. Informasi ini begitu populer, bahkan lebih populer daripada promo diskon sirup menjelang buka puasa. Tapi pertanyaannya, kalau setan sudah diikat, kenapa praktik fraud masih saja merajalela? Apakah setannya lolos dari sistem pengendalian internal? Atau jangan-jangan, yang perlu diaudit bukan setan, tapi niat dan sistem kita?
Dalam tradisi pesantren ala Nahdlatul Ulama, kita diajari bahwa Ramadhan adalah madrasah ruhaniyah. Namun, sebagai akademisi akuntansi, saya kadang bertanya dengan gaya nyentrik: kalau Ramadhan adalah madrasah, mengapa laporan keuangan masih penuh “catatan kaki yang misterius”? Mengapa ada selisih yang tidak hanya beda angka, tapi juga beda akhlak?
Fraud, dalam literatur akuntansi modern, sering dijelaskan lewat Fraud Triangle: pressure, opportunity, dan rationalization. Tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Tiga serangkai ini lebih kompak dari panitia takjil dadakan. Tapi dalam konteks Ramadhan, harusnya satu elemen penting bertambah: taqwa. Kalau taqwa hadir, mestinya segitiga itu berubah jadi segi empat yang stabil, bukan segitiga yang licin.
Di sinilah saya teringat gaya humor khas Gus Dur yang pernah mengingatkan bahwa lebih berbahaya dari orang pintar adalah orang pintar yang tidak jujur. Dalam bahasa akuntansi, ini bukan lagi sekadar salah saji, tapi salah niat. Setan boleh diikat, tapi kalau kreativitas manipulasi tetap jalan, jangan-jangan kita sedang menyalahkan makhluk yang sedang cuti tahunan.
Ramadhan sejatinya adalah momentum audit diri. Dalam audit, ada istilah substantive test dan test of control. Banyak dari kita rajin melakukan “test of control” pada orang lain, mengawasi bawahan, mencurigai rekan kerja, memeriksa nota kecil sampai ke receh. Tapi lupa melakukan substantive test pada diri sendiri: apakah saya sudah jujur? Apakah saya sudah amanah?
Lucunya, setiap Ramadhan, masjid penuh. Shaf rapat. Doa panjang. Tapi laporan pertanggungjawaban kegiatan masih sering telat. Ada yang lebih rajin tarawih daripada menyusun rekonsiliasi bank. Ini bukan soal ibadahnya kurang, tapi integrasi antara ibadah dan integritas yang belum klop.
Dalam tradisi Nahdliyin, ada prinsip tawazun (keseimbangan). Seimbang antara habluminallah dan habluminannas. Seimbang antara spiritualitas dan profesionalitas. Jangan sampai puasa menahan lapar, tapi tidak menahan godaan mark-up anggaran. Jangan sampai tilawah lancar, tapi pengadaan barang tetap “terselip” fee siluman.
Sebagian orang berdalih, “Ini cuma praktik kecil, semua juga begitu.” Nah, ini yang dalam Fraud Triangle disebut rationalization. Rasionalisasi itu seperti sambal: sedikit terasa nikmat, kebanyakan bikin sakit perut moral. Ramadhan mestinya mengajari kita bahwa yang kecil-kecil itu justru menentukan kualitas. Bukankah pahala juga dihitung dari yang kecil tapi ikhlas?
Ada yang berkata, “Setan diikat, tapi manusia kan tetap punya nafsu.” Betul. Dalam perspektif tasawuf, musuh terbesar bukan setan eksternal, tapi nafsu internal. Dalam bahasa akuntansi, risiko terbesar bukan hanya pada external threat, tapi internal control weakness. Kalau sistem pengendalian internal lemah, walaupun tidak ada setan pun, fraud bisa tetap jalan. Bahkan bisa jalan lebih cepat, karena tidak perlu kambing hitam.
Ramadhan adalah bulan transparansi spiritual. Kita diajak jujur, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Puasa itu unik: yang tahu kita benar-benar puasa atau tidak, hanya kita dan Allah. Ini seperti sistem self-assessment dalam perpajakan. Negara percaya kita jujur melaporkan. Tuhan pun “percaya” kita jujur berpuasa. Pertanyaannya: apakah kita layak dipercaya?
Sebagai bangsa yang religius, kita sering bangga dengan simbol-simbol. Spanduk Ramadhan megah, kajian ramai, konten dakwah viral. Tapi dalam praktik tata kelola, kita masih sering tergelincir. Seolah-olah akhlak berhenti di mimbar, tidak turun ke meja rapat.
Maka judul tulisan ini bukan tudingan, tapi refleksi. Jangan-jangan yang belum diikat adalah keserakahan kita. Jangan-jangan yang belum dipenjara adalah ego kita. Jangan-jangan yang perlu dibelenggu bukan makhluk gaib, tapi celah-celah dalam sistem dan dalam hati.
Ramadhan mengajarkan muraqabah, merasa diawasi Allah. Dalam audit modern, ini seperti continuous monitoring. Bukan hanya diaudit di akhir tahun, tapi setiap saat sadar bahwa setiap transaksi ada konsekuensi. Kalau kesadaran ini hidup, maka integritas tidak perlu ditunggu ketika auditor datang.
Humor ala NU mengajarkan kita untuk menertawakan diri sendiri sebelum menertawakan orang lain. Maka mari kita tertawa kecil: mungkin selama ini kita terlalu sibuk memastikan setan terikat, tapi lupa memastikan sistem kita tidak bocor. Terlalu sibuk ceramah tentang kejujuran, tapi enggan menyederhanakan prosedur yang membuka peluang manipulasi.
Akhirnya, Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tapi menahan diri dari mengkhianati amanah. Kalau setelah Ramadhan laporan keuangan kita lebih rapi, lebih transparan, dan lebih jujur, berarti puasanya lulus uji materialitas. Tapi kalau fraud tetap jalan, mungkin yang diikat baru setannya, belum egonya.
Semoga Ramadhan tahun ini bukan hanya mengurangi kolesterol, tapi juga mengurangi moral hazard. Karena pada akhirnya, yang paling berat bukan mengikat setan, melainkan mengikat diri sendiri pada nilai kejujuran. Dan itu, sebagaimana kata para kiai, adalah jihad yang paling sunyi, tapi paling menentukan.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar