Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 28
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Refleksi Antropologis tentang Perbedaan, Kesepakatan, dan Kedewasaan Beragama

Setiap Ramadhan selalu diawali oleh satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang dalam: kapan kita mulai berpuasa? Pertanyaan ini bukan semata soal tanggal, melainkan tentang ketenangan batin, rasa aman dalam beribadah, dan kerinduan untuk menjalani waktu suci secara bersama. Dari tahun ke tahun, saya menyaksikan pertanyaan ini muncul di ruang-ruang yang berbeda, di masjid, di rumah, di ruang publik, bahkan di percakapan santai, dengan satu harapan yang sama: beribadah dengan keyakinan dan tanpa kegaduhan. Di Gorontalo, kegelisahan itu tidak dijawab dengan perdebatan panjang, melainkan dengan sebuah tradisi yang tenang dan bermartabat: Tonggeyamo.

Puasa, dalam pemahaman saya, adalah ibadah yang sangat personal. Niatnya berada di relung hati, pelaksanaannya menjadi urusan individu dengan Allah. Tidak ada ruang bagi manusia untuk mengukur atau menilai kualitas puasa orang lain. Namun, awal dan akhir puasa bukan hanya urusan pribadi. Ia menyentuh kehidupan bersama: kapan masjid memulai tarawih, kapan keluarga bersiap sahur, kapan masyarakat menata ritme sosial selama Ramadhan. Di titik inilah puasa menjadi peristiwa sosial, bukan semata praktik individual.

Al-Qur’an menempatkan puasa dalam bingkai yang sangat manusiawi. Allah berfirman:

“Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumus-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.” (“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”) – (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini selalu mengingatkan saya bahwa puasa bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan jalan pembentukan ketakwaan. Dan ketakwaan, dalam kehidupan sosial, tercermin dari sikap rendah hati, kesabaran, dan kemampuan menahan diri, termasuk menahan ego ketika berhadapan dengan perbedaan.

Perbedaan penetapan awal Ramadhan dan Syawal bukanlah sesuatu yang lahir dari niat saling berseberangan. Ia tumbuh dari tradisi keilmuan Islam yang panjang dan beragam. Setiap metode memiliki dasar dan argumentasi yang berangkat dari semangat yang sama: memastikan ibadah dilakukan pada waktu yang diyakini benar. Dalam pengalaman saya mendampingi masyarakat, perbedaan ini sering kali bukan sumber masalah utama. Yang kerap menjadi persoalan justru cara kita menyikapinya.

Sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di dalam tradisi dan struktur sosial, saya meyakini bahwa perbedaan tidak harus dihapus, tetapi perlu dikelola dengan bijak. Indonesia memberi mandat kepada negara melalui Kementerian Agama untuk menetapkan awal Ramadhan dan Syawal melalui sidang isbat yang melibatkan ulama, pakar, dan organisasi keagamaan. Bagi banyak orang, keputusan ini memberi rasa tertib dan kepastian. Bagi sebagian yang lain, rujukan organisasi atau keyakinan personal memberi ketenangan tersendiri. Kedua sikap ini, sepanjang saya pahami, lahir dari niat baik yang sama dan patut dihormati.

Namun kehidupan bersama membutuhkan satu kesepakatan minimal agar ritme sosial tetap terjaga. Di sinilah Tonggeyamo menemukan tempatnya. Tradisi ini tidak mempersoalkan metode, apalagi mengadili keyakinan. Tonggeyamo adalah cara orang Gorontalo menerima keputusan publik dengan bahasa budaya yang mereka pahami dan hormati. Keputusan yang datang dari pusat tidak berhenti sebagai teks administratif, tetapi dihadirkan kembali melalui musyawarah adat, disampaikan oleh pemangku adat, dihadiri ulama dan pemerintah daerah, dalam ruang yang dimuliakan oleh tradisi.

Saya melihat Tonggeyamo sebagai proses pematangan sosial. Keputusan yang sama bisa terasa berbeda ketika disampaikan dengan cara yang berjarak atau dengan cara yang mengajak. Tonggeyamo memilih jalan kedua. Ia tidak memaksa keseragaman hati, tetapi merawat keselarasan langkah. Ia tidak meniadakan perbedaan, tetapi memastikan perbedaan itu tidak berubah menjadi jarak emosional di tengah masyarakat.

Di balik kesakralannya, Tonggeyamo menyimpan rasionalitas sosial yang kuat. Tanpa kesepakatan waktu, Ramadhan mudah kehilangan dimensi kebersamaannya. Masjid memulai tarawih pada hari yang berbeda, aktivitas sosial berjalan sendiri-sendiri, dan suasana kolektif Ramadhan menjadi terpecah. Tonggeyamo hadir untuk menjaga agar ruang sosial tetap tenang, tertib, dan penuh saling pengertian.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama yang saya hidupi, perbedaan pandangan adalah bagian dari kekayaan keilmuan Islam. Namun menjaga jamaah dan kemaslahatan bersama adalah amanah yang tidak boleh diabaikan. Prinsip inilah yang membuat kesepakatan sosial dipandang sebagai etika bersama, bukan sebagai penyangkalan terhadap keyakinan pribadi. Tonggeyamo, bagi saya, adalah ekspresi kultural dari etika tersebut.

Tradisi ini juga mengajarkan sikap saling menghormati pilihan individu. Setiap orang berhak berpegang pada keyakinan yang diyakininya benar. Pada saat yang sama, kita diajak untuk menjaga adab sosial agar perbedaan tidak melukai persaudaraan. Inilah kedewasaan beragama yang sesungguhnya: keyakinan yang teguh, tetapi hati yang lapang.

Dari Gorontalo, kita belajar bahwa tradisi lokal mampu memberi pelajaran penting bagi kehidupan berbangsa. Tonggeyamo menunjukkan bahwa harmoni tidak selalu lahir dari keseragaman pandangan, melainkan dari kesediaan untuk menyepakati waktu bersama demi kebaikan yang lebih luas. Ia bekerja dengan cara yang sunyi, tanpa gaduh, tanpa saling menyalahkan, tetapi justru efektif merawat ketenteraman.

Pada akhirnya, puasa bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menahan ego, termasuk ego untuk merasa paling benar. Ramadhan mengajarkan bahwa ketakwaan tumbuh seiring kemampuan kita menjaga hubungan dengan sesama. Tonggeyamo, dalam kesederhanaannya, mengingatkan saya dan barangkali kita semua bahwa menyambut puasa bukan hanya soal tanggal, melainkan tentang cara kita merawat kebersamaan, menghormati perbedaan, dan menumbuhkan kedewasaan beragama di ruang publik.

Penulis : Antropolog, Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU  Gorontalo

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 68
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros— Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, kesiapsiagaan dan penjagaan keamanan terus diperketat oleh berbagai instansi dan institusi di Kabupaten Maros. Langkah ini dilakukan guna memastikan keamanan, ketertiban, serta kenyamanan masyarakat selama momentum akhir tahun, sejalan dengan Surat Edaran Bupati Maros terkait pengamanan Nataru. Menindaklanjuti surat edaran tersebut, Camat Maros Baru, A. […]

  • MACPLAM-9 Integrasikan Pengetahuan dan Kerjasama

    MACPLAM-9 Integrasikan Pengetahuan dan Kerjasama

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo mendorong pentingnya sinergi dan kolaborasi antarwilayah dalam penguatan layanan laboratorium klinik dan diagnostik. Hal ini disampaikan Asisten III Setda Provinsi Gorontalo, Misranda Nalole, saat mewakili Gubernur Gusnar Ismail pada pembukaan Maluku, Celebes, Papua Clinical Pathology and Laboratory Medicine Annual Meeting (MACPLAM-9) di Ballroom Hotel Aston, Jumat (4/7/2025). Mengangkat tema “Integrating Knowledge, Enhancing […]

  • Presiden Prabowo Lantik Dewan Energi Nasional, Bahlil Tegaskan Babak Baru Kedaulatan Energi

    Presiden Prabowo Lantik Dewan Energi Nasional, Bahlil Tegaskan Babak Baru Kedaulatan Energi

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 137
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik keanggotaan Dewan Energi Nasional (DEN) dari unsur pemerintah dan pemangku kepentingan, Rabu (28/1/2026), di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan ini menandai dimulainya babak baru dalam pengelolaan energi nasional yang lebih terarah, berdaulat, dan berkelanjutan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian DEN, Bahlil Lahadalia, menegaskan […]

  • PBB Maros Capai 84 Persen, Camba Tertinggi; Moncongloe Terendah Akibat Kendala Sertifikat

    PBB Maros Capai 84 Persen, Camba Tertinggi; Moncongloe Terendah Akibat Kendala Sertifikat

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 61
    • 0Komentar

    nulondilon.com, Maros – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Maros menggelar rapat evaluasi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) per 26 November 2025. Rapat yang dipimpin Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, digelar di ruang rapatnya, Senin (1/12/2025), dan memaparkan capaian terkini realisasi PBB-P2 di 14 kecamatan. Hingga akhir November, realisasi penerimaan PBB-P2 Maros […]

  • Membunuh ‘tuhan’ dengan Puasa

    Membunuh ‘tuhan’ dengan Puasa

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Secara tidak sadar, manusia telah merancang ‘tuhan’ di altar persembahannya, memuja ilusi yang lahir dari tangannya sendiri, dan puasa hadir untuk membunuhnya. Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah ritual penyucian jiwa yang mendalam. Di balik setiap detik penantian dan keheningan, tersimpan makna esoterik memerangi dan memusnahkan segala bentuk penyembahan terhadap duniawi […]

  • Menari dalam Belantara Simulacra

    Menari dalam Belantara Simulacra

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Lebaran, seperti biasa, datang bukan hanya membawa ketupat dan peluk maaf. Ia datang membawa gelombang kegembiraan yang melompat-lompat dari dapur ibu sampai ke beranda digital. Di kampung-kampung kecil yang debunya masih hangat oleh langkah kaki anak-anak, hingga ke rumah-rumah mewah yang tak pernah tidur oleh lampu-lampu sorot interior—suasana keriangan tumpah ruah. Tahun ini, kegembiraan itu […]

expand_less