Breaking News
light_mode
Trending Tags

Triliunan Dolar, Kekosongan Tak Terbeli. Fenomena Elon Musk Kesepian di Puncak piramida Kapitalisme

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 1
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kita sering membayangkan bahwa puncak kebahagiaan terletak pada keberlimpahan materi. Sejak kecil, banyak dari kita diajarkan—secara halus maupun terang-terangan—bahwa sukses berarti kaya, terkenal, dan berkuasa. Dalam imajinasi sosial yang dibentuk oleh kapitalisme modern, kekayaan adalah simbol kemenangan. Namun pengakuan Musk menghadirkan celah refleksi: mungkinkah ada sesuatu yang tak bisa dibeli, bahkan oleh orang paling kaya sekalipun?

Pengakuan tentang kesepian yang disampaikan oleh —figur yang oleh pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia dengan kekayaan ratusan miliar dolar menghadirkan sebuah pertanyaan menggangu dalam diskursus kesejahteraan modern: mengapa kelimpahan material tidak otomatis berbanding lurus dengan kebahagiaan eksistensial?

Dalam sejumlah wawancara, termasuk yang dilansir oleh media intrnasional, elon Musk mengakui bahwa ia kerap merasa kesepian, bahkan sering tidur sendiri di malam hari. Pernyataan ini bukan sekadar gosip tentang kehidupan privat seorang miliarder, melainkan fragmen tentang keterasingan yang mungkin menyertai puncak ambisi seseorang.

Kita hidup dalam tatanan global yang menjadikan kekayaan sebagai simbol supremasi keberhasilan. Dalam imajinasi kolektif masyarakat kapitalistik, menjadi orang terkaya di dunia adalah puncak aspirasi. Namun pengakuan Musk membuka ruang untuk mempertanyakan asumsi tersebut. Jika harta dan pengaruh sosial berada pada titik maksimum, mengapa dimensi batin tetap bisa mengalami defisit makna?

kondisi ini dapat dibaca sebagai konsekuensi dari hiper-ambisi dan tekanan struktural. Individu dengan kekuasaan ekonomi dan simbolik yang sangat besar sering kali terperangkap dalam jejaring ekspektasi publik, tanggung jawab moral, serta isolasi sosial yang paradoks. Status sebagai “figur berpengaruh” tidak hanya menghadirkan privilese, tetapi juga membangun dinding tak kasatmata antara diri dan relasi yang autentik.

Dalam banyak studi psikologi sosial, kesepian justru lebih sering ditemukan pada individu dengan posisi hierarkis tinggi karena relasi di sekitarnya cenderung bersifat instrumental, bukan intim. Pada titik ini, menarik untuk merefleksikan kembali kerangka ekonomi-politik yang dirumuskan. Dalam analisis Marx, basis material (economic base) membentuk struktur sosial dan kesadaran. Namun, kupikir pengalaman batin seperti kesepian menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif tidak sepenuhnya dapat direduksi pada kepemilikan sarana produksi atau akumulasi kapital semata.

Artinya, sekalipun kita tidak menafikan pentingnya kondisi ekonomi, ada dimensi eksistensial yang tidak sepenuhnya tunduk pada determinasi material. Maka Kebahagiaan yg terbentuk oleh kualitas kesadaran juga sangat bergantung pada kondisi batin, ketimbang hanya dalam angka-angka neraca kekayaan. Sebab Ia berkaitan dengan kemampuan individu membangun relasi yang bermakna, menemukan tujuan yang melampaui ambisi personal, serta mengelola imajinasi dan hasratnya secara etis. Tanpa fondasi batin yang sehat, kelimpahan justru dapat memperbesar ruang bagi kekosongan.

Kasus epstein yang baru baru terungkap juga memperlihatkan bahwa kekayaan ekstrem tidak otomatis menghadirkan integritas moral. Kasus , misalnya, menunjukkan bagaimana akumulasi kapital dapat berjalan berdampingan dengan kerusakan psikologis dan penyimpangan etis yang serius. Ini bukan sekadar soal individu, melainkan refleksi tentang bagaimana kekuasaan dan hasrat yang tak terkelola bisa menjadi destruktif.
Tulisan ini bukan upaya membandingkan taraf ekonomi dengan tingkat kebahagiaan secara simplistis. Ia justru mengajak kita melihat bahwa problem kesejahteraan manusia bersifat multidimensional.

Ekonomi adalah fondasi penting, tetapi bukan satu-satunya determinan makna hidup. Kekeringan batin, alienasi sosial, dan kegagalan membangun relasi autentik dapat menjadi faktor fundamental yang menggerogoti kebahagiaan, bahkan di tengah limpahan harta, feenomena elon Musk mengingatkan kita bahwa modernitas sering kali keliru menyamakan kemakmuran dengan kebahagiaan. Padahal, kesejahteraan sejati barangkali terletak pada harmoni antara capaian eksternal dan kedalaman internal—antara ambisi dan keheningan, antara kekuasaan dan kerendahan hati.

kesepian elon Musk bukan sekadar problem personal, melainkan gejala dari sistem yang menjadikan hasrat tak pernah selesai. Kapitalisme, dalam pembacaan Žižek yang berakar pada psikoanalisis Lacanian, memproduksi kekurangan (lack) secara terus-menerus agar hasrat tetap bergerak. Maka, bahkan di puncak kelimpahan, subjek tetap merasakan celah yang tak terisi. Di sanalah kita diingatkan bahwa kebahagiaan sejati mungkin bukan terletak pada pemenuhan total, melainkan pada kemampuan berdamai dengan ketidaklengkapan, menerima bahwa menjadi manusia berarti selalu berada di antara keterbatasan.

Penulis: Alumni Pascasarjanan UIN SUKA Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Julman Hente
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Oleh: Julman Hente, SH., MH (Penulis) Demokrasi kita hari ini seperti pohon yang tumbuh tanpa akar. Tampak hijau di permukaan, penuh daun dan ranting yang menjulang, tetapi mudah roboh ketika angin kencang datang. Ia berdiri di atas tanah yang semakin rapuh, tanah yang terus terkikis oleh keputusan-keputusan yang mengatasnamakan rakyat tetapi mengkhianati bumi tempat rakyat […]

  • Anggaran BLP3G Rp2,5 M, 80 Persen Sudah Disalurkan

    Anggaran BLP3G Rp2,5 M, 80 Persen Sudah Disalurkan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Dalam rangka memberikan perlindungan sosial dan kebutuhan dasar masyarakat, Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Sosial pada tahun anggaran 2025 memprogramkan bantuan sosial barang yang diberikan kepada keluarga dalam bentuk Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G). Pemberian bantuan bahan pangan yang telah memasuki tahun ke-4 sejak 2021 silam ini, menjangkau 76 kecamatan, 652 desa dan kelurahan di 5 Kabupaten […]

  • Tradisi Memperingati 1 Muharram di Gorontalo: Perpaduan Spiritualitas dan Budaya

    Tradisi Memperingati 1 Muharram di Gorontalo: Perpaduan Spiritualitas dan Budaya

    • calendar_month Kamis, 5 Jun 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Bulan Muharram, khususnya tanggal 1 Muharram, bukan hanya menandai tahun baru dalam kalender Islam, tetapi juga menjadi momen penting refleksi dan spiritualitas bagi masyarakat Gorontalo. Di wilayah ini, peringatan Muharram tidak sekadar seremonial, namun sarat dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal. Tradisi Buruda di Makam-makam Aulia Salah satu tradisi yang masih dilestarikan adalah Buruda atau […]

  • Demokrasi dan Distribusi Keadilan

    Demokrasi dan Distribusi Keadilan

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Oleh: Siti Sara Malase Demokrasi merupakan salah satu sistem pemerintahan yang paling banyak diadopsi di dunia modern. Sejak akhir Perang Dingin, demokrasi menjadi standar legitimasi politik bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Secara konseptual, demokrasi didefinisikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Namun, dalam praktiknya, demokrasi kerap mengalami penyempitan makna dengan direduksi hanya […]

  • Kevin Lapendos Soroti Dugaan Wacana Dialog Seluruh Unsur Pimpinan Forkopimda Gorontalo, Menjelang Satu Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.”

    Kevin Lapendos Soroti Dugaan Wacana Dialog Seluruh Unsur Pimpinan Forkopimda Gorontalo, Menjelang Satu Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.”

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Pemuda Gorontalo Kevin Lapendos kembali mengeluarkan pernyataan kritisnya terhadap dugaan wacana kegiatan dialog publik Forkopimda Provinsi Gorontalo yang disebut-sebut akan digelar pada 20 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Isu yang beredar menyebutkan, kegiatan tersebut akan dihadiri seluruh unsur pimpinan Forkopimda dan diarahkan untuk menyampaikan dukungan penuh terhadap berbagai program […]

  • Bappeda Dorong Rekomendasi Tegas Dalam Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam

    Bappeda Dorong Rekomendasi Tegas Dalam Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Seminar Akhir Kajian Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi, Selasa (25/11/2025)  bertempat di Naffil Cafe dan Resto. Kegiatan ini menghadirkan tim peneliti yang terdiri atas Dr. Raghel Yunginger, M.Si, Dr. Ir. Sri Sutarni Arifin, S.Hut., M.Si, Ivana Butolo, SE., MP, Ayub […]

expand_less