Ukhuwah Dimulai dari Dalam: Sindiran Gus Mus dan Cermin bagi NU Hari Ini
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month Senin, 15 Des 2025
- visibility 96
- print Cetak

KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus (FOTO: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Salah satu pesan mendalam yang pernah disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) kembali relevan untuk direnungkan hari ini. Dengan gaya khasnya yang lembut, puitis, namun tajam, Gus Mus mengingatkan bahwa ukhuwah tidak bisa dibangun dengan teriakan, melainkan dengan keteladanan dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan itu sederhana, tetapi menggelitik: bagaimana mungkin seseorang berbicara tentang ukhuwah Islamiyah, bahkan ukhuwah basyariyah, jika ukhuwah di lingkup paling dekat, yakni sesama warga Nahdlatul Ulama masih sulit terwujud? Jika di internal NU saja masih saling berkelahi, saling mencopot, dan enggan duduk bersama, maka seruan persaudaraan universal berisiko tinggal jargon.
Logika itu terasa gamblang. Ukhuwah Nahdliyah adalah fondasi. Bila fondasi ini rapuh, ukhuwah Islamiyah sulit ditegakkan. Dan tanpa ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan basyariyah pun akan kehilangan pijakan. Gus Mus, melalui sindirannya, seolah menegaskan bahwa persaudaraan harus dimulai dari lingkaran paling dekat sebelum diperluas ke lingkaran yang lebih besar.
Kondisi tersebut terasa relevan dengan dinamika internal NU hari ini. Konflik di tubuh kepengurusan PBNU menyita perhatian publik. Di satu sisi, ada pihak yang mendorong islah, tabayun, dan musyawarah, dan hal itu telah nilai-nilai yang sejak lama menjadi tradisi NU. Di sisi lain, ajakan duduk bersama kerap berujung penolakan, alasan kesibukan, atau pembenaran sepihak. Iktikad baik untuk merawat kebersamaan pun dipertanyakan.
Tradisi NU sejatinya mengedepankan klarifikasi, bukan tuduhan; mengutamakan musyawarah, bukan pemaksaan. Karena itu, munculnya praktik saling memecat di internal kepengurusan terasa janggal dan menyisakan keprihatinan. NU bukan perusahaan yang semata diatur dengan logika manajerial, melainkan jam’iyah keagamaan yang hidup dari nilai khidmah, ketulusan, dan adab.
Sindiran Gus Mus menjadi cermin: jangan terlalu sibuk mengoreksi orang lain, sementara ego diri sendiri tak pernah disentuh. Jangan lantang menyerukan ukhuwah basyariyah, tetapi gagal mengendalikan ego dalam lingkup persaudaraan terdekat. Ukhuwah bukan soal klaim, melainkan soal sikap.
Pada titik ini, yang dibutuhkan bukan sekadar pernyataan, melainkan perenungan dan introspeksi. Tugas utama warga dan pengurus NU adalah menjaga dan merawat jam’iyah agar tetap utuh, bukan menambah luka dengan ego sektoral dan klaim kebenaran sepihak.
Mungkin inilah pesan paling penting dari sindiran Gus Mus: ukhuwah dimulai dari dalam diri, lalu dari rumah sendiri. Tanpa itu, semua seruan persaudaraan hanya akan berhenti sebagai kata-kata—indah didengar, tetapi hampa makna.
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar