Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bank Sampah hingga Ketahanan Pangan: Langkah Nyata Ecopesantren di Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
  • visibility 1.522
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Suasana Pondok Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah tampak berbeda pada Senin (8/12/2025) sore itu. Bukan hanya lantunan kajian kitab yang terdengar, tetapi juga dialog hangat tentang sampah, ketahanan pangan, dan masa depan bumi.

Para santri, mahasiswa, hingga perwakilan komunitas duduk bersama menyimak penjelasan tentang bagaimana pesantren dapat menjadi kekuatan besar dalam gerakan pelestarian lingkungan. Hari itu, gerakan Ecopesantren resmi digaungkan di pesantren tersebut lewat kegiatan sosialisasi yang digelar atas kolaborasi Pesantren Burhan Al-Hadharah, Gusdurian Gorontalo, dan Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu.

Di depan para peserta, Djemi Radji Fasilitator Program Ecopesantren, Pembina Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu, sekaligus Co Koordinator Wilayah Gusdurian Sulampapua yang mengawali pemaparannya dengan sebuah pertanyaan sederhana namun mengena:

“Jika kita mencintai Sang Pencipta, mengapa kita merusak ciptaan-Nya?” Kalimat ini langsung mengaitkan konsep pelestarian lingkungan dengan nilai-nilai keislaman. “Pesantren adalah pusat pendidikan karakter. Jika santri memiliki kesadaran ekologis sejak dini, maka mereka bukan hanya menjadi pemimpin spiritual, tetapi juga pelopor pelestarian lingkungan,” tutur Djemi.

Yang menarik, kegiatan ini tidak hanya sehari penuh untuk santri. Keterlibatan masyarakat umum, mahasiswa, dan komunitas menambah warna tersendiri. Djemi menegaskan bahwa setiap peserta , bahkan yang tidak tinggal di pesantren — dapat membawa pulang konsep Ecopesantren untuk diterapkan di rumah, kos-kosan, hingga organisasi pelajar.

Semangatnya jelas: gerakan lingkungan tidak harus menunggu fasilitas besar, tetapi bisa dimulai dari kehidupan paling sehari-hari. Praktik nyata di lingkungan pesantren Ecopesantren bukan sekadar wacana.

Peserta diajak melihat langsung bagaimana konsep ini mulai diterapkan di lingkungan pesantren. Mereka mengelilingi area pondok untuk menyaksikan pendirian Bank Sampah Plastik sebagai wujud dari Gerakan pengurangan sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi untuk pesantren.

Selain itu, peserta diperlihatkan pembuatan Saptitenk Sampah Organik, yakni konsep pengelolaan limbah dapur agar tidak mencemari tanah dan air, termasuk pemanfaatan lahan pesantren untuk menanam sayuran dan buah sebagai bagian dari ketahanan pangan. Sebagai penutup kunjungan lapangan, setiap peserta menerima bibit tanaman. Buah dan sayuran bukan hanya sekadar hadiah, tetapi simbol komitmen.

Abdul Kadir Lawero, Ketua Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu, menyampaikan bahwa pembagian bibit adalah bagian penting dari strategi gerakan. “Kami berharap peserta memanfaatkan pekarangan rumah, kos-kosan, dan ruang terbuka di sekitar mereka untuk menanam tanaman produktif. Langkah kecil ini akan berdampak besar bagi kesadaran dan ketahanan lingkungan.”

Beberapa peserta bahkan langsung berbincang antusias menyusun rencana menanam bersama di halaman kos atau melakukan gerakan menanam di rumah masing-masing.

Sosialisasi ini bukan penutup, melainkan pintu pembuka. Program Ecopesantren akan berlanjut sepanjang Desember 2025 dengan sejumlah agenda, termasuk Penandatanganan MoU antara pengelola pesantren dan Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu, Diskusi Lingkungan, Kelas Gender, dan Peringatan Haul ke-16 Gus Dur.

Seiring matahari mulai turun sore itu, peserta meninggalkan pesantren sambil menenteng bibit tanaman. Namun lebih dari itu — mereka pulang membawa gagasan, harapan, dan komitmen kecil untuk menjaga bumi. Dari lingkungan pesantren, sebuah gerakan hijau mulai tumbuh. Perlahan, tetapi pasti.

  • Penulis: Tim Redaksi
  • Sumber: Asrar A

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Bone Bolango Lakukan Rotasi Besar-Besaran Pejabat Eselon II, 24 JPT Pratama Dilantik

    Pemkab Bone Bolango Lakukan Rotasi Besar-Besaran Pejabat Eselon II, 24 JPT Pratama Dilantik

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 97
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Bone Bolango kembali melakukan rotasi besar-besaran terhadap Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) di lingkungan Pemerintah Daerah. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bone Bolango Nomor 821.2/KEP/BUP-BB/12/233/X/2025 tertanggal 14 Oktober 2025, sebanyak 24 pejabat eselon II resmi dilantik dan dirotasi. Pelantikan dan pengambilan sumpah/janji jabatan tersebut berlangsung di Ruang Lupa Lelah, Kantor Bupati Bone […]

  • Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Nulondalo – Organisasi terlarang yang telah dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017 bernama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali bangkit di beberapa titik di Indonesia. Komandan Satuan Koordinasi Nasional Banser PP GP Ansor, H. Syafiq Syauqi menyampaikan bahwa HTI telah dibubarkan Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM karena bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan mengancam keutuhan NKRI. “GP […]

  • Harga Sembako di Gorontalo Terpantau Fluktuatif, Cabai dan Minyak Goreng Catat Pergerakan Signifikan

    Harga Sembako di Gorontalo Terpantau Fluktuatif, Cabai dan Minyak Goreng Catat Pergerakan Signifikan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 143
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Harga sejumlah bahan pokok di Provinsi Gorontalo terus mengalami fluktuasi yang memengaruhi daya beli masyarakat. Pemantauan terbaru menunjukkan beberapa komoditas kebutuhan pokok naik, sementara yang lain cenderung stabil atau turun. Pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat harga beberapa kebutuhan pokok di pasar tradisional Gorontalo antara lain: Cabai rawit sekitar Rp61,7 […]

  • Gusdur Dalam Memori  Mbak Yenny dan Gus Mus

    Gusdur Dalam Memori Mbak Yenny dan Gus Mus

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Riski Hidayat
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Oleh: Riski Hidayat, Mahasiswa Pasca Sarjana UAC Mojokerto Tulisan ini Merupakan Refleksi Penulis pada saat Menghadiri Acara Peringatan Haul Gus Dur ke 16 dan Tasyakuran Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional K.H Abdurrahman Wahid di Tebu Ireng Pada 17 Desember 2025. Berangkat dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak Yenny Wahid. Apa yang membuat Gus Dur begitu istimewa […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Optimalisasi Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan 2025

    Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Optimalisasi Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Optimalisasi Kebutuhan Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan Provinsi Gorontalo 2025”, Jumat (17/10/2025), di kantor Bappeda Provinsi Gorontalo. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, tenaga ahli, akademisi, serta praktisi wisata. FGD ini merupakan bagian dari […]

  • Gorontalo Menyalakan Api Revolusi Lebih Dini: Pendang Kalengkongan dan Sejarah yang Terlupakan

    Gorontalo Menyalakan Api Revolusi Lebih Dini: Pendang Kalengkongan dan Sejarah yang Terlupakan

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 677
    • 0Komentar

    Sejarah, sebagaimana ia ditulis dan diwariskan, tak selalu adil pada semua tokoh yang turut membentuknya. Ada nama-nama yang diabadikan, dipatungkan, dan diajarkan dari generasi ke generasi. Namun ada pula yang perlahan menghilang—bukan karena perannya kecil, melainkan karena narasi tak selalu ramah pada mereka yang bekerja dalam diam. Di Gorontalo, ada satu tanggal yang setiap tahun […]

expand_less