Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ingatan, Emosi dan Ilusi Kebenaran

  • account_circle Suaib Prawono
  • calendar_month Senin, 29 Des 2025
  • visibility 470
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ingatan manusia sering kali tertuju pada hal-hal yang dianggap penting. Jika pernyataan ini benar, maka muncul pertanyaan: apakah kecenderungan ini termasuk dalam ranah emosi atau hal yang bersifat rasional?

Banyak yang berpendapat bahwa ini lebih berkaitan dengan emosi. Sebab, ketika seseorang lebih mudah mengingat hal-hal yang bermakna secara pribadi, emosional, atau bernilai subjektif, itu menunjukkan bahwa ingatan dipengaruhi oleh perasaan dan kepentingan pribadi.

Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dikenal sebagai motivated memory atau emotional salience; yakni kecenderungan otak untuk lebih kuat menyimpan informasi yang menyentuh emosi atau relevan secara pribadi dibandingkan informasi yang netral. Hal ini berkaitan erat dengan motivasi, keinginan, dan perasaan semua elemen yang berada dalam ranah emosi.

Sebaliknya, proses rasional merujuk pada cara berpikir yang logis, objektif, dan berbasis analisis. Jika seseorang lebih mengingat informasi karena logika atau akurasi, maka barulah itu masuk dalam kategori rasional. Dengan demikian, kita dapat melihat adanya tipologi manusia dalam mengingat: ada yang cenderung emosional, ada pula yang rasional.

Ingatan emosional bersifat alami dan spontan, sementara ingatan rasional memerlukan strategi belajar agar bertahan lama. Mengulang pelajaran atau membaca ulang adalah bagian dari strategi tersebut.

Asumsusi, Makna dan Konteks

Dari sini, mungkin menarik jika kita melangkah lebih jauh ke persoalan bagaimana makna terbentuk dalam pikiran manusia? Pada umumnya, asumsi memainkan peran penting dalam memaknai dan memahami sesuatu.

Meskipun asumsi merupakan proses kognitif yang berpijak pada dugaan awal tanpa dukungan bukti yang akurat, namun ia tetap memiliki kekuatan untuk membentuk makna, kendati makna yang dihasilkan dari asumsi tersebut belum tentu mencerminkan kebenaran objektif.

Asumsi tumbuh dalam ruang ketidaktahuan, membentuk pemahaman awal yang memberi arah pada persepsi. Namun, makna yang lahir darinya bisa berubah, bergeser, bahkan runtuh, seiring hadirnya pengetahuan baru.

Asumsi adalah benih dari makna, dan makna itu sendiri rapuh, mudah berganti rupa ketika ada informasi baru menyapanya. Karenanya, makna sangat bergantung pada konteks, dan konteks selalu terkait dengan ruang dan waktu.

Misalnya, selembar kertas bekas yang tergeletak di meja bisa dianggap sebagai benda biasa. Namun, ketika dipindahkan ke tempat sampah, ia berubah menjadi sampah. Jika kemudian digunakan untuk membungkus kacang, maknanya pun berubah lagi. Ini menunjukkan bahwa makna tidak statis; ia terus bergerak mengikuti konteks.

Mereka yang mampu memahami konteks dengan luas tidak akan mudah terjebak dalam satu makna yang kaku. Mereka menyadari bahwa makna bersifat dinamis dan bergantung pada sudut pandang serta situasi.

Betapa pentingnya memahami konteks, sebab tidak jarang sebuah narasi memiliki makna ganda. Dalam petuah Mandar, misalnya, terdapat ungkapan: Mate di batang, tammate di pau-pau (Jasadnya telah tiada, namun cerita tentangnya tiada henti).

Bagi sebagian orang Mandar memaknai, ungkapan ini ditujukan kepada mereka yang semasa hidupnya berbuat jahat, sehingga kisah tentang mereka terus bergema dalam nada kecaman. Namun, bagi yang lain, ungkapan tersebut adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang baik yang kisah kebaikannya terus hidup.

Jebakan Asumsi

Kedua tafsir atau pemaknaan tersebut tentu saja sah, karena semuanya berpulang pada konteks yang melatarinya. Inilah mengapa teori the map is not the territory (peta bukan wilayah) menjadi relevan. Peta, asumsi, atau paradigma tidak pernah benar-benar mewakili kenyataan secara utuh.

Ibarat gambar menu makanan, ia tidak akan pernah bisa mewakili rasa yang sesungguhnya. Kita sering kecewa saat makanan yang datang tidak sesuai dengan gambar di menu, disebabkan karena kita terlalu percaya pada asumsi yang terbangun di kepala.

Fakta lain, kita sering kali menghakimi sesuatu berdasarkan pengalaman terbatas. Misalnya, jika pernah makan nasi goreng yang terlalu asin, kita bisa saja reaktif menganggap semua nasi goreng asin. Padahal, itu hanyalah satu pengalaman dari sekian banyak kemungkinan.

Karenanya, untuk mengatasi jebakan asumsi, kita perlu bertanya dan mengalami langsung. Apapun itu, menu bukan rasa, dan Kekecewaan sering kali terjadi bukan semata karena perasaan, melainkan karena kita terlalu percaya pada asumsi yang belum tentu benar. Maka, memahami konteks dan membuka diri terhadap pengalaman baru adalah kunci untuk membebaskan diri dari makna yang menyesatkan.

(Penulis adalah Korwil GUSDURian Sulampapua)

  • Penulis: Suaib Prawono
  • Editor: Suaib Prawono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ustadz “Tuhan Kecil”?

    Ustadz “Tuhan Kecil”?

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Jika ada pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini, maka jawabanya bukan. Ustadz bukan “Tuhan Kecil”. Tuhan yang sesungguhnya adalah dzat Yang Maha Besar dan tidak ada yang melebihi kebesaran-Nya. Kemahabesaran Tuhan ini dibarengi dengan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas termasuk kekuasaan untuk “menghukumi” segala sesuatu. Namun harus dipahami bahwa penghukuman Tuhan kepada segala sesuatu yang termaktub dalam […]

  • Hari Ibu Nasional: Momentum Memperkuat Solidaritas Perempuan, Bukan Seremonial Belaka

    Hari Ibu Nasional: Momentum Memperkuat Solidaritas Perempuan, Bukan Seremonial Belaka

    • calendar_month Kamis, 26 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Kabar Perempuan – Setiap tanggal 22 Desember adalah hari bersejarah buat kaum Ibu atau perempuan di Indonesia. Momentum tersebut diperingati setiap tahunnya. Namun sejauh mana pemaknaan orang-orang terhadap peringatan Hari Ibu Nasional 2024? Akankah perempuan sudah berdaya dan seperti apa problem perempuan hari ini? Redaksi mengulas khusus peringatan Hari Ibu Nasional 2024. Peringatan Hari Ibu Nasional […]

  • GenPI Maros Siap Hadirkan Jambore Pokdarwis Se Kabupaten Maros

    GenPI Maros Siap Hadirkan Jambore Pokdarwis Se Kabupaten Maros

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros– Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Maros siap menghadirkan Jambore Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Maros 2026 yang akan digelar pada pertengahan Juli 2026 di Kawasan Karst Maros-Pangkep. Kegiatan ini menjadi penyelenggaraan jambore Pokdarwis perdana yang mempertemukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), komunitas, pelaku wisata, serta para pemangku kepentingan pariwisata dalam satu wadah kolaborasi. Jambore Pokdarwis […]

  • Politik Citra, Bahasa Rakyat, dan Jalan Panjang Politik Kang Dedi Mulyadi

    Politik Citra, Bahasa Rakyat, dan Jalan Panjang Politik Kang Dedi Mulyadi

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Dedi Mulyadi, nama gubernur baru Jawa Barat. Orang-orang sudah lama memanggilnya Kang Dedi Mulyadi (KDM). Namanya mencuat karena gaya kepemimpinan yang berbeda. Ia kerap turun langsung dan memulai harinya dengan sapaan khas yang begitu membumi, “Kumaha damang?”—bagaimana kabar kalian? Sapaan itu meluncur begitu saja, tanpa protokol, tanpa sekat, hanya dengan senyum lebar dan mata yang […]

  • Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Di antara para sahabat, nama-nama seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib sering dipersepsikan sebagai simbol keberanian, ketegasan, dan kekuatan fisik. Mereka menjadi rujukan bagi banyak generasi sebagai contoh keberanian yang luar biasa. Namun, di balik nama-nama besar itu, terdapat seorang sahabat yang jarang disebut, tetapi memiliki kekuatan fisik dan pengabdian yang tidak […]

  • Jaringan Gusdurian Ajak Gen-Z Merefleksikan Pancasila Lewat Kuliah Umum

    Jaringan Gusdurian Ajak Gen-Z Merefleksikan Pancasila Lewat Kuliah Umum

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Sarjoko
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Yogyakarta- Pergulatan antara Pancasila, agama, dan negara terjadi sepanjang sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Situasi ini dimulai sejak perumusan Pancasila menjelang proklamasi kemerdekaan hingga bagaimana negara berperan dalam memberikan tafsir terhadap ideologi ini. Salah satu perdebatan awal adalah tentang pilihan Indonesia menjadi negara agama dan negara sekuler yang membuat kelompok religius dan nasionalis mengalami ketegangan. […]

expand_less