Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Wajar Tapi Palsu

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
  • visibility 601
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gus Dur pernah bilang, “Yang lebih lucu dari politik adalah orang yang menganggap politik itu serius.” Dalam konteks audit negara, barangkali yang lebih lucu dari korupsi adalah keyakinan bahwa WTP berarti pemerintah sudah beres.

WTP itu sebenarnya sederhana: laporan keuangan tidak melanggar SAP. Titik. Tapi di negeri ini, WTP diperlakukan seperti air zam-zam—disiramkan ke mana-mana agar tampak suci. Padahal, kata Gus Dur, “Yang penting itu bukan tampaknya, tapi isinya.”

Mari kita jujur sambil tertawa pahit. Pemerintah dapat WTP, lalu korupsi jalan terus. DPR dapat WTP lewat laporan negara, tapi anggotanya ada yang ketahuan main anggaran. DPRD dapat WTP versi daerah, tapi sebagian wakil rakyatnya lebih rajin wakil proyek. Ini seperti orang shalatnya rajin, tapi tetangganya tetap kelaparan.

Puncak absurditasnya adalah ketika auditor ikut disuap. Anggota BPK terseret kasus jual beli opini audit. Ini sudah level humor Gus Dur kelas berat: yang menilai kewajaran justru tidak wajar. Kalau begini, jangan-jangan nanti muncul slogan baru: “WTP—Wajar Tapi Palsu.”

Masalahnya bukan pada akuntansinya, tapi pada cara berpikir kita tentang akuntabilitas. Kita terlalu bangga pada angka, tapi lupa pada makna. Terlalu fokus pada neraca, lupa pada nurani. Gus Dur mungkin akan berkata, “Kalau laporan keuangan rapi tapi rakyat sengsara, itu bukan salah akuntansi—itu salah akhlak.”

Karena itu, BPK harus berani berubah. Audit kinerja harus lebih galak daripada audit laporan. Ukur dampak, bukan cuma dokumen. Tanya: apakah anggaran ini bikin rakyat tersenyum, atau cuma bikin pejabat tenang?

Dan terakhir, BPK harus dijauhkan dari politik praktis. Gus Dur pernah mengingatkan, “Kekuasaan itu cenderung korup, tapi audit yang dekat kekuasaan cenderung ikut lupa diri.” Maka auditor negara harus lebih mirip badut jujur di istana: boleh ditertawakan penguasa, asal rakyat tidak ditipu.

Sebab pada akhirnya, negara ini tidak kekurangan WTP, tapi kekurangan kejujuran. Dan seperti kata Gus Dur—yang paling berbahaya bukan orang jahat, tapi orang baik yang diam sambil menganggap semuanya “wajar tanpa pengecualian”.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jurnal Penutup

    Jurnal Penutup

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu datang seperti auditor independen yang tak bisa diajak kompromi. Ia hadir tanpa perlu diundang, membawa kertas kerja bernama “puasa”, dan langsung bertanya: “Sudahkah Anda melakukan penyesuaian?” Maka, sebagaimana lazimnya dalam akuntansi, kita pun terpaksa membuka buku besar kehidupan—yang kadang lebih besar dosanya daripada asetnya. Dalam tradisi akuntansi, ada yang disebut jurnal penutup. Ia […]

  • Siapa Figur Pemecah Kebuntuan di Muktamar NU?

    Siapa Figur Pemecah Kebuntuan di Muktamar NU?

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Sonny Madjid
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Residu polemik Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterima oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diprediksi masih terasa hingga pelaksanaan Muktamar NU 2026, yang dijadwalkan Agustus atau Desember mendatang. Selain persoalan IUP batu bara, kehadiran sejumlah tokoh luar negeri yang diduga pendukung zionis Israel sebagai narasumber dalam kaderisasi NU ikut menjadi masalah. Dua hal tersebut yang […]

  • Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Kerusakan terumbu karang menjadi ancaman nyata bagi ekosistem laut, Salah satunya di dasar laut yang berada di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Barrier Reef (karang penghalang) yang berada disana sudah menjadi patahan karang mati yang kehilangan fungsinya sebagai rumah bagi ribuan biota laut. Kerusakan ini akibat aktivitas manusia, pencemaran, dan perubahan […]

  • PENSIL Periode XXI Resmi Dilantik, Siap Perkuat Literasi dan Keilmuan Santri

    PENSIL Periode XXI Resmi Dilantik, Siap Perkuat Literasi dan Keilmuan Santri

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 230
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Organisasi Pemuda Nusantara Ilmiah (PENSIL) resmi melaksanakan pelantikan dan serah terima jabatan Pengurus Periode XXI Masa Bakti 2026–2027 di Auditorium PKU Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (31/5/2026). Acara yang berlangsung khidmat dan penuh semangat tersebut menandai dimulainya kepengurusan baru yang diharapkan mampu membawa organisasi semakin maju dalam bidang keilmuan, riset, dan pengembangan sumber daya […]

  • Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Aliansi pemuda peduli rakyat Indonesia (APPRI) gelar aksi demonstrasi soal tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di depan kementrian imigrasi dan mabes polri pada Jum’at, 22 Agustus 2025. APPRI mendesak kepada Kapolri dan menteri imigrasi agar melakukan pemeriksaan terhadap oknum pejabat imigrasi Sumatera Utara dan imigrasi kota Medan karena diduga terlibat dalam tindak pidana perdagangan orang. […]

  • Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Nulondalo.com—Koperasi Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Kopma Unhas) kembali menunjukkan perannya sebagai ruang belajar dan inkubator gagasan ekonomi mahasiswa melalui penyelenggaraan Kopma Unhas Fair 2025, yang digelar pada Sabtu, 13 Desember 2025 di Unhas TV. Mengusung tema “Ekonomi Kolektif, Generasi Inovatif”, kegiatan tahunan ini menjadi refleksi semangat Kopma Unhas dalam membangun kesadaran ekonomi berbasis kebersamaan sekaligus mendorong […]

expand_less