Breaking News
light_mode
Trending Tags

Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

  • account_circle  Fadli Bina
  • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
  • visibility 99
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mengonsumsi bukan lagi soal pemenuhan kebutuhan melainkan hanya soal hasrat agar tetap eksis. Dewasa ini mengonsumsi sepertinya merupakan hal yang mesti dilakukan agar kita dianggap tetap ada. Karena dalam budaya konsumtif nilai seseorang tidak diukur lagi dari kualitas pengetahuannya melainkan dari apa yang ia konsumsi. Hal ini juga terjadi dalam mengkonsumsi makananan.

Meski kita tidak benar-benar lapar, kita sering membeli makanan hanya karena melihat ada makanan yang lagi viral di media sosial dan kemudian makanan bisa kita buang jika tidak merasa cocok dengan lidah kita.

Kebiasaan mengkonsumsi makanan hanya karena mengikuti sesuatu yang lagi trend. Namun yang tak disadari justeru akan berdampak pada lingkungan. Karena sejatinya, apa yang kita konsumsi meninggalkan sampah sisa makanan.

Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) menemukan, bahwa Makanan yang tidak benar-benar dihabiskan ternyata bisa berdampak pada pemanasan global. Sisa makanan yang kita buang bisa menghasilkan karbon dioksida (CO2) melalui Gas Metana. Hingga tahun 2024 berdasarkan laporan UNEP, bahwa 8-10% sampah sisa makanan berkontribusi pada perubahan iklim.

Di indonesia sendiri berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2024, timbunan sampah nasional diestimasikan mencapai 33,79 hingga 34,26 juta ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, sampah didominasi oleh sampah rumah tangga (50,8%-56,84%) dengan komposisi yang menyumbang sampah terbesar adalah sisa makanan, yakni sekitar 38,94% hingga 39,36%. Besarnya angka tersebut membuat Indonesia saat ini masuk dalam lima besar negara penyumbang sampah sisa makanan terbesar di dunia.

Berdasarkan besarnya angka sampah sisa makanan, hal ini tentu kontradiktif dengan teori dari seorang ekonom, yakni Robert Thomas Malthus (1766-1836). Ia menyebut bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur (geometric : 1,2,4,8,…..) sedangkan produksi pangan mengikuti deret hitung (aritmatik : 1,2,3,4,…).

Melalui teorinya, Malthus memproyeksikan masa depan, bahwa manusia akan mengalami ancaman kekurangan bahan pasok makanan karena pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali (over population). Namun nyatanya, sampai saat ini makanan menjadi penyumbang sampah terbesar di dunia maupun di indonesia.

Sampah Makanan dari Keinginan, bukan Kebutuhan

Budaya konsumtif berperan besar dalam meningkatnya sampah sisa makanan. Karena terpengaruh oleh over saturasi (pengaruh) media.  Kita menjadi terbiasa mengeluarkan uang, bahkan dalam hal-hal yang kita tidak butuhkan.

Makanan di era ini hanya dilihat sebagai komoditas semata. Akan tetapi, makanan tidak lagi dilihat sebagai pemberian alam yang punya perjalanan panjang hingga sampai di meja makan. Hal ini sesuai dengan gagasan Jean Baudrillard seorang filsuf dari Perancis, yang mengatakan bahwa konsumsi di era sekarang hanya sebagai bentuk legitimasi sosial.

Dalam masyarakat kontemporer menurut Jean Baudrillard, yang sering disajikan oleh gambar, tanda dan kode senantiasa menjadi indikator penentu realitas kita. Nilai guna dan nilai tukar suatu makanan tersubordinasi menjadi nilai simbolik. Alhasil, masyarakat tertarik pada suatu makanan dikarenakan ada nilai simbolik yang telah tertanam dalam suatu makanan. Dengan begitu, menunjukan status sosial seseorang.

Trend yang hari ini misalnya, seseorang yang tanpa membeli dan menikmati Mie Gacoan belum sempurna hidupnya. Trend membeli dan menikmati Mie Gacoan bukanlah kebutuhan, melainkan ada nilai simbolik dalam mengkonsumsi dan tak ingin ketinggalan zaman.

Dalam konteks ini, setiap individu kehilangan makna pada makanan. Ia  harus kembali dalam kesadaran diri, bahwa makanan harus dipandang sebagai komoditas yang punya perjalanan panjang hingga sampai di meja makan kita.

Makanan harus dilihat sebagai pemberian alam dan tidak begitu saja bisa dikonsumsi oleh kita. Makanan punya proses berlapis dan panjang. Dimulai melihat tanda alam dalam menanam, petani membajak lahan, memupuk, dan memanen yang tidak membutuhkan waktu sedikit.

Budaya Konsumtif tanpa kita sadari sedang mengabaikan rantai pasok sebuah makanan, dan tanpa kita sadari pula kita sedang merusak bumi dari sampah sisa makanan kita sendiri. Tidak sulit merubah mindset ini, bukan?

Penulis : Penggerak Gusdurian, Alumni Kelas Menulis Gusdurian, tinggal di Kelurahan Tenilo Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo

  • Penulis:  Fadli Bina
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Paguyaman dan Paguyaman Pantai Juga Dapat Bantuan

    Warga Paguyaman dan Paguyaman Pantai Juga Dapat Bantuan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) juga telah dinikmati warga Kecamatan Paguyaman dan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo. Penyaluran bantuan ini dilakukan oleh Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah. Idah Syahidah menjelaskan kuota penerima BLP3G di tahun ini mengalami penyesuaian signifikan. Hal ini imbas dari efisiensi anggaran seluruh pemerintah daerah termasuk Provinsi Gorontalo. “Kalu tahun-tahun sebelumnya penerima bantuan […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Optimalisasi Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan 2025

    Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Optimalisasi Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Optimalisasi Kebutuhan Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan Provinsi Gorontalo 2025”, Jumat (17/10/2025), di kantor Bappeda Provinsi Gorontalo. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, tenaga ahli, akademisi, serta praktisi wisata. FGD ini merupakan bagian dari […]

  • Kenakalan Remaja, Pembusuran, Dan Kegagalan Sosial Mendidik Manusia

    Kenakalan Remaja, Pembusuran, Dan Kegagalan Sosial Mendidik Manusia

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Oleh: Andi Afsar (Ketua Bidang Kaderisasi dan Pendidikan HPPMI Komisariat Pelajar) Maraknya aksi kenakalan remaja seperti tawuran, pembusuran, dan kekerasan jalanan kembali menyita perhatian publik. Fenomena ini kerap dipahami secara dangkal sebagai kemerosotan moral generasi muda. Remaja dijadikan kambing hitam tunggal, sementara masyarakat dan negara tampil sebagai hakim yang merasa paling benar. Padahal, dalam perspektif […]

  • Polda Sumut Amankan Dua Ekskavator Diduga untuk PETI di Madina

    Polda Sumut Amankan Dua Ekskavator Diduga untuk PETI di Madina

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 90
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim gabungan dari Kepolisian Daerah Sumatera Utara mengamankan dua unit alat berat jenis ekskavator yang diduga akan digunakan untuk aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Senin (2/3/2026) pagi. Penindakan dilakukan sekitar pukul 06.00 WIB oleh personel Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) bersama Satuan Brimob di dua […]

  • Puluhan Ulama Perempuan Isi Pengajian Ramadan yang digagas KUPI

    Puluhan Ulama Perempuan Isi Pengajian Ramadan yang digagas KUPI

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) baru saja meluncurkan (launching) program Ngaji KUPI Ramadan 1446 Hijriah pada Jumat, 28 Februari 2025. Acara pembukaan tersebut digelar secara daring melalui Zoom Meeting yang dihadiri oleh puluhan ulama perempuan dan lembaga jejaring KUPI. Pertemuan dipandu langsung oleh penulis dan pegiat isu gender, Kalis Mardiasih. Melalui rangkaian pengajian yang digelar […]

  • Dari Gedung IP-DDI, PMII Maros Tetapkan Alif Al Isra sebagai Ketua Umum

    Dari Gedung IP-DDI, PMII Maros Tetapkan Alif Al Isra sebagai Ketua Umum

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Konferensi Cabang (Konfercab) ke-IX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Maros sukses digelar di Gedung IP-DDI Maros, Sabtu, 25 Januari 2026. Forum tertinggi organisasi di tingkat cabang ini berlangsung khidmat, dinamis, dan penuh semangat kaderisasi. Dalam forum tersebut, M. Alif Al Isra resmi terpilih sebagai Ketua Umum PMII Cabang Maros periode 2026–2027, […]

expand_less