Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

  • account_circle  Fadli Bina
  • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
  • visibility 188
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mengonsumsi bukan lagi soal pemenuhan kebutuhan melainkan hanya soal hasrat agar tetap eksis. Dewasa ini mengonsumsi sepertinya merupakan hal yang mesti dilakukan agar kita dianggap tetap ada. Karena dalam budaya konsumtif nilai seseorang tidak diukur lagi dari kualitas pengetahuannya melainkan dari apa yang ia konsumsi. Hal ini juga terjadi dalam mengkonsumsi makananan.

Meski kita tidak benar-benar lapar, kita sering membeli makanan hanya karena melihat ada makanan yang lagi viral di media sosial dan kemudian makanan bisa kita buang jika tidak merasa cocok dengan lidah kita.

Kebiasaan mengkonsumsi makanan hanya karena mengikuti sesuatu yang lagi trend. Namun yang tak disadari justeru akan berdampak pada lingkungan. Karena sejatinya, apa yang kita konsumsi meninggalkan sampah sisa makanan.

Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) menemukan, bahwa Makanan yang tidak benar-benar dihabiskan ternyata bisa berdampak pada pemanasan global. Sisa makanan yang kita buang bisa menghasilkan karbon dioksida (CO2) melalui Gas Metana. Hingga tahun 2024 berdasarkan laporan UNEP, bahwa 8-10% sampah sisa makanan berkontribusi pada perubahan iklim.

Di indonesia sendiri berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2024, timbunan sampah nasional diestimasikan mencapai 33,79 hingga 34,26 juta ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, sampah didominasi oleh sampah rumah tangga (50,8%-56,84%) dengan komposisi yang menyumbang sampah terbesar adalah sisa makanan, yakni sekitar 38,94% hingga 39,36%. Besarnya angka tersebut membuat Indonesia saat ini masuk dalam lima besar negara penyumbang sampah sisa makanan terbesar di dunia.

Berdasarkan besarnya angka sampah sisa makanan, hal ini tentu kontradiktif dengan teori dari seorang ekonom, yakni Robert Thomas Malthus (1766-1836). Ia menyebut bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur (geometric : 1,2,4,8,…..) sedangkan produksi pangan mengikuti deret hitung (aritmatik : 1,2,3,4,…).

Melalui teorinya, Malthus memproyeksikan masa depan, bahwa manusia akan mengalami ancaman kekurangan bahan pasok makanan karena pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali (over population). Namun nyatanya, sampai saat ini makanan menjadi penyumbang sampah terbesar di dunia maupun di indonesia.

Sampah Makanan dari Keinginan, bukan Kebutuhan

Budaya konsumtif berperan besar dalam meningkatnya sampah sisa makanan. Karena terpengaruh oleh over saturasi (pengaruh) media.  Kita menjadi terbiasa mengeluarkan uang, bahkan dalam hal-hal yang kita tidak butuhkan.

Makanan di era ini hanya dilihat sebagai komoditas semata. Akan tetapi, makanan tidak lagi dilihat sebagai pemberian alam yang punya perjalanan panjang hingga sampai di meja makan. Hal ini sesuai dengan gagasan Jean Baudrillard seorang filsuf dari Perancis, yang mengatakan bahwa konsumsi di era sekarang hanya sebagai bentuk legitimasi sosial.

Dalam masyarakat kontemporer menurut Jean Baudrillard, yang sering disajikan oleh gambar, tanda dan kode senantiasa menjadi indikator penentu realitas kita. Nilai guna dan nilai tukar suatu makanan tersubordinasi menjadi nilai simbolik. Alhasil, masyarakat tertarik pada suatu makanan dikarenakan ada nilai simbolik yang telah tertanam dalam suatu makanan. Dengan begitu, menunjukan status sosial seseorang.

Trend yang hari ini misalnya, seseorang yang tanpa membeli dan menikmati Mie Gacoan belum sempurna hidupnya. Trend membeli dan menikmati Mie Gacoan bukanlah kebutuhan, melainkan ada nilai simbolik dalam mengkonsumsi dan tak ingin ketinggalan zaman.

Dalam konteks ini, setiap individu kehilangan makna pada makanan. Ia  harus kembali dalam kesadaran diri, bahwa makanan harus dipandang sebagai komoditas yang punya perjalanan panjang hingga sampai di meja makan kita.

Makanan harus dilihat sebagai pemberian alam dan tidak begitu saja bisa dikonsumsi oleh kita. Makanan punya proses berlapis dan panjang. Dimulai melihat tanda alam dalam menanam, petani membajak lahan, memupuk, dan memanen yang tidak membutuhkan waktu sedikit.

Budaya Konsumtif tanpa kita sadari sedang mengabaikan rantai pasok sebuah makanan, dan tanpa kita sadari pula kita sedang merusak bumi dari sampah sisa makanan kita sendiri. Tidak sulit merubah mindset ini, bukan?

Penulis : Penggerak Gusdurian, Alumni Kelas Menulis Gusdurian, tinggal di Kelurahan Tenilo Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo

  • Penulis:  Fadli Bina
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lestari Moerdijat Dorong Kesehatan Mental Masuk Kurikulum Nasional

    Lestari Moerdijat Dorong Kesehatan Mental Masuk Kurikulum Nasional

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 248
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, menilai kesehatan mental harus menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan nasional. Hal ini menyusul kondisi darurat kesehatan mental yang tengah dihadapi anak dan remaja di Indonesia. “Penanganan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah kesehatan mental anak dan remaja sangat krusial, demi menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa,” […]

  • Ukhuwah Dimulai dari Dalam: Sindiran Gus Mus dan Cermin bagi NU Hari Ini

    Ukhuwah Dimulai dari Dalam: Sindiran Gus Mus dan Cermin bagi NU Hari Ini

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 157
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Salah satu pesan mendalam yang pernah disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) kembali relevan untuk direnungkan hari ini. Dengan gaya khasnya yang lembut, puitis, namun tajam, Gus Mus mengingatkan bahwa ukhuwah tidak bisa dibangun dengan teriakan, melainkan dengan keteladanan dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pesan itu sederhana, tetapi menggelitik: bagaimana mungkin […]

  • Khutbah Jumat : Kemenangan Hanya Dapat Diraih dengan Persatuan

    Khutbah Jumat : Kemenangan Hanya Dapat Diraih dengan Persatuan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Ada satu ironi besar dalam tubuh umat Islam hari ini: kita sering berbicara tentang kemenangan, tetapi berjalan di jalan yang menjauhkannya. Kita berdoa agar umat ini kuat, namun pada saat yang sama kita sibuk memperlemah satu sama lain. Kita berharap Islam kembali berjaya, tetapi energi kita habis untuk memperdebatkan hal-hal yang sejak dahulu telah diperselisihkan […]

  • Dosa karena Sombong Sulit Diampuni, KH. Muhyidin Zeni Ungkap Perbedaannya Play Button

    Dosa karena Sombong Sulit Diampuni, KH. Muhyidin Zeni Ungkap Perbedaannya

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 269
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Muhyidin Zeni, menegaskan bahwa dosa yang bersumber dari kesombongan memiliki dampak spiritual yang jauh lebih berbahaya dibanding dosa yang lahir dari dorongan syahwat. Hal ini disampaikan dalam pengajian rutin yang tayang di Nutizen TV, yang disadur dari Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani yang berisi […]

  • Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium. Berguru pada Tauhid ala […]

  • Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 182
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menguat di kalangan elite politik nasional. Usulan ini memantik perdebatan luas karena dinilai berpotensi menyempitkan hak politik rakyat dan menandai kemunduran demokrasi pasca-Reformasi. Lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998 dan hampir 20 tahun sejak pilkada langsung pertama kali digelar […]

expand_less