Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)
- account_circle Hamzah Durisa
- calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
- visibility 263
- print Cetak

Potret KH. Baharuddin bin Ta’nang bin Shahir, pendiri Pondok Pesantren Al Ihsan Kenje, sosok ulama sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan dakwah di wilayah pesisir Kenje.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di sebuah lekuk perbukitan yang bernama Buttu, yang lebih familiar dengan Buttu Da’ala, pada tahun 1953, lahirlah seorang anak lelaki dari rahim perempuan sederhana bernama Ruhana. Anak itu diberi nama Baharuddin. Kelak, orang-orang akan mengenalnya sebagai AGH. Baharuddin bin Ta’nang bin Shahir, seorang guru yang tidak sekadar mengajar, tetapi menanam masa depan.
Buttu adalah kampung yang akrab dengan desir angin bukit dan suara dedaunan kelapa yang beradu pelan. Di sana, kebun kelapa memanjang seperti hamparan doa yang tak pernah selesai. Di belahan bukit lainnya tumbuh bawang yang ditanam dengan tangan penuh harap, dan di kandang-kandang sederhana, kambing-kambing mengembik memecah pagi. Baharuddin kecil tumbuh di antara aroma tanah basah, getah kelapa, dan suara kambing yang lapar.
Ayahnya, Ta’nang bin Shahir, adalah lelaki pekerja keras. Petani, peternak kambing, dan sesekali menjadi buruh di kebun orang lain. Hidup tak pernah mudah. Namun, dalam rumah panggung sederhana itu, ada satu hal yang tak pernah kekurangan: semangat untuk belajar. Ruhana, ibunya, adalah perempuan yang wajahnya teduh seperti senja. Ia tak banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya seperti embun yang jatuh tepat di akar. “Nak, ilmu itu cahaya. Kalau kau tak punya apa-apa, punya ilmu saja sudah cukup untuk menuntunmu pulang,” katanya suatu sore ketika Baharuddin kecil duduk memandangi bukit yang mulai diselimuti kabut.
Tahun 1966, Baharuddin bersekolah di SD Buttu. Bangunan sekolah itu sederhana, dindingnya papan, lantainya masih tanah keras. Namun di situlah ia mulai mengenal huruf-huruf yang kelak akan mengantarkannya pada kitab-kitab tebal. Ia bukan anak yang banyak bicara. Ia lebih sering menyimak, memperhatikan, lalu mengulang pelajaran sendiri di rumah, ditemani lampu minyak dan suara jangkrik.
- Penulis: Hamzah Durisa

Saat ini belum ada komentar