Breaking News
light_mode
Trending Tags

Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)

  • account_circle Hamzah Durisa
  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • visibility 376
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di Kenje, tahun 1979, ia membuka usaha jual-beli kopra. Bau kelapa kering memenuhi gudang kecilnya. Dari usaha itu, ia menghidupi keluarganya sekaligus membiayai kegiatan mengajinya. Sebab, di sela-sela kesibukan berdagang, ia mulai mengajar. Awalnya hanya dua orang murid. Dua anak kampung yang datang dengan rasa malu-malu, duduk bersila di beranda rumahnya. Baharuddin tidak pernah mematok bayaran. Ia mengajar dengan hati. Bahkan ia menanggung biaya hidup santrinya yang datang menimba ilmu kepadanya.

“Belajar itu bukan paksaan,” katanya kepada murid-muridnya. “Kalau kalian datang karena takut, ilmunya tak akan tinggal. Tapi kalau datang karena cinta, ilmu itu akan tumbuh sendiri.” Pelan-pelan, muridnya bertambah. Dari dua menjadi lima. Dari lima menjadi belasan. Rumahnya tak lagi cukup menampung. Namun semangatnya tak pernah surut.

Tahun 1979 pula, ia diangkat menjadi imam Masjid Darussalam di Kenje. Tanggung jawab itu ia pikul dengan rendah hati. Ia memimpin salat, menyampaikan khutbah, dan menyapa warga dengan akrab. Ia bukan imam yang berjarak. Ia berjalan dari rumah ke rumah, berdakwah keliling kampung.Ia menikah dengan Hj. Darmi, perempuan sabar yang menjadi penopang langkahnya. Dari pernikahan itu, lahirlah satu anak: Multazam. Kepada anaknya, ia menanamkan prinsip yang sama seperti yang ia ajarkan pada murid-muridnya: belajar dengan melakukan, learning by doing.

Tahun 1980 hingga 1990-an, pengajiannya semakin berkembang. Ia mengajar berbagai kitab terjemahan. Fikih, tauhid, tasawuf—semuanya disampaikan dengan bahasa yang membumi. Ia komunikatif. Ia tidak membentak. Ia tidak menekan. Ia percaya bahwa pendidikan bukanlah soal ketakutan, melainkan keteladanan.

Beberapa muridnya datang dari jauh, bahkan dari Kalimantan. Kenje yang dulu sunyi, perlahan menjadi titik cahaya kecil di pesisir. Beberapa muridnya kelak berhasil melanjutkan studi hingga ke Mesir dan Maroko. Ketika kabar itu sampai kepadanya, ia hanya menunduk haru. “Ilmu itu seperti benih,” katanya pelan. “Aku hanya menanam. Allah yang menumbuhkan.”

Memasuki akhir 1990-an, ia mulai memikirkan sesuatu yang lebih besar. Ia ingin mendirikan lembaga pendidikan yang lebih terstruktur. Ia berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat, salah satunya Dumair Kasim. Mereka duduk berlama-lama, membahas masa depan anak-anak Kenje.

Rencananya ingin dimulai tahun 2000. Namun jalan tak selalu mulus. Ada kendala dana, ada keraguan sebagian orang. Tetapi Baharuddin bukan tipe yang mudah menyerah. Akhirnya, tahun 2001, cita-cita itu benar-benar mulai terwujud. Tahun 2002, ia menginisiasi pembangunan pondok pesantren. Tanah wakaf dari Masyuri menjadi titik awal. Pada Rabu, 16 Februari 2002, pembangunan dimulai. Bangunan dua lantai dengan empat petak ruangan berdiri perlahan, bata demi bata disusun dengan doa.

Pesantren itu diberi nama Al Ihsan Kenje. Ketika bangunan itu mulai digunakan, Baharuddin berdiri di halaman, memandang santri-santri yang datang dengan wajah penuh harap. Ia teringat masa kecilnya di Buttu. Ia teringat jalan panjang dari bukit ke pesisir. “Jangan pernah matikan pesantren ini,” pesannya suatu malam kepada para santri dan warga. “Kalau pesantren mati, cahaya akan redup.”

  • Penulis: Hamzah Durisa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 1.097
    • 1Komentar

    Menurut Gus Aniq, jika sejak awal kurban tersebut dinyatakan sebagai kurban negara atau atas nama rakyat Indonesia, maka persoalannya bisa berbeda. Namun ketika dana publik digunakan untuk kurban atas nama pribadi, maka teks tersebut justru tidak relevan dijadikan dasar pembelaan. “Di sinilah problemnya. Teks Al-Fiqhul Manhaji malah memberi isyarat bahwa kurban atas nama pribadi dengan […]

  • Going Concern Ibadah

    Going Concern Ibadah

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Humor ala Gus Dur selalu menyentil tanpa menyakiti. Maka izinkan saya menyentil diri sendiri terlebih dahulu. Kadang kita ini seperti perusahaan yang rajin membuat laporan keberlanjutan (sustainability report), tapi praktiknya masih tambal sulam. Media sosial penuh unggahan ibadah, tetapi tetangga sebelah rumah belum tentu merasakan dampaknya. Padahal dalam tradisi NU, ibadah itu membumi—hablum minallah kuat, […]

  • Supremasi Sipil: Sebuah Refleksi Tentang Realitas dan Harapan

    Supremasi Sipil: Sebuah Refleksi Tentang Realitas dan Harapan

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Di banyak tempat, kita sering mendengar narasi tentang supremasi sipil, sebuah konsep di mana masyarakat sipil—atau masyarakat yang bebas dari pengaruh langsung negara atau militer—dianggap sebagai entitas yang memegang kendali atas jalannya pemerintahan. Idealnya, masyarakat sipil adalah ruang di luar struktur formal negara, tempat kebebasan berkembang dan hak-hak individu dihargai. Namun, bagaimana jika kenyataannya tidak […]

  • Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, menegaskan pentingnya mempertahankan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai lembaga mandiri, menyusul wacana peleburan dengan Dinas Sosial. Penegasan ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan FGD percepatan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pengarusutamaan Gender (PUG) di Kantor Dinas PPPA Provinsi Gorontalo, Selasa (1/6/2025). Dalam sambutannya, Wagub Idah […]

  • Utang Langit

    Utang Langit

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Menariknya, Ramadhan tidak pernah memaksa pelunasan sekaligus. Ia memberi cicilan: tarawih malam ini, sedekah esok pagi, istighfar setiap waktu. Dalam istilah akuntansi, ini restrukturisasi utang dengan skema rahmat. Allah memberi diskon dosa dan bonus pahala. Tinggal kita mau atau tidak menyusun rencana pembayaran. Akhirnya, “Utang Langit” bukan untuk membuat kita cemas, tetapi sadar. Dalam neraca […]

  • Gorontalo Inflasi 0,8 Persen di Juni 2025

    Gorontalo Inflasi 0,8 Persen di Juni 2025

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Pada bulan Juni 2025 Provinsi Gorontalo mengalami inflasi Year on Year (y-on-y) sebesar 0,80 persen. Angka ini disumbangkan dari Kota Gorontalo yang mengalami inflasi sebesar 0,77 persen dan dari Kabupaten Gorontalo mengalami inflasi sebesar 0,81 persen. “Inflasi y-on-y Provinsi Gorontalo terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada delapan kelompok pengeluaran,” kata […]

expand_less