Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)

  • account_circle Hamzah Durisa
  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • visibility 436
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di Kenje, tahun 1979, ia membuka usaha jual-beli kopra. Bau kelapa kering memenuhi gudang kecilnya. Dari usaha itu, ia menghidupi keluarganya sekaligus membiayai kegiatan mengajinya. Sebab, di sela-sela kesibukan berdagang, ia mulai mengajar. Awalnya hanya dua orang murid. Dua anak kampung yang datang dengan rasa malu-malu, duduk bersila di beranda rumahnya. Baharuddin tidak pernah mematok bayaran. Ia mengajar dengan hati. Bahkan ia menanggung biaya hidup santrinya yang datang menimba ilmu kepadanya.

“Belajar itu bukan paksaan,” katanya kepada murid-muridnya. “Kalau kalian datang karena takut, ilmunya tak akan tinggal. Tapi kalau datang karena cinta, ilmu itu akan tumbuh sendiri.” Pelan-pelan, muridnya bertambah. Dari dua menjadi lima. Dari lima menjadi belasan. Rumahnya tak lagi cukup menampung. Namun semangatnya tak pernah surut.

Tahun 1979 pula, ia diangkat menjadi imam Masjid Darussalam di Kenje. Tanggung jawab itu ia pikul dengan rendah hati. Ia memimpin salat, menyampaikan khutbah, dan menyapa warga dengan akrab. Ia bukan imam yang berjarak. Ia berjalan dari rumah ke rumah, berdakwah keliling kampung.Ia menikah dengan Hj. Darmi, perempuan sabar yang menjadi penopang langkahnya. Dari pernikahan itu, lahirlah satu anak: Multazam. Kepada anaknya, ia menanamkan prinsip yang sama seperti yang ia ajarkan pada murid-muridnya: belajar dengan melakukan, learning by doing.

Tahun 1980 hingga 1990-an, pengajiannya semakin berkembang. Ia mengajar berbagai kitab terjemahan. Fikih, tauhid, tasawuf—semuanya disampaikan dengan bahasa yang membumi. Ia komunikatif. Ia tidak membentak. Ia tidak menekan. Ia percaya bahwa pendidikan bukanlah soal ketakutan, melainkan keteladanan.

Beberapa muridnya datang dari jauh, bahkan dari Kalimantan. Kenje yang dulu sunyi, perlahan menjadi titik cahaya kecil di pesisir. Beberapa muridnya kelak berhasil melanjutkan studi hingga ke Mesir dan Maroko. Ketika kabar itu sampai kepadanya, ia hanya menunduk haru. “Ilmu itu seperti benih,” katanya pelan. “Aku hanya menanam. Allah yang menumbuhkan.”

Memasuki akhir 1990-an, ia mulai memikirkan sesuatu yang lebih besar. Ia ingin mendirikan lembaga pendidikan yang lebih terstruktur. Ia berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat, salah satunya Dumair Kasim. Mereka duduk berlama-lama, membahas masa depan anak-anak Kenje.

Rencananya ingin dimulai tahun 2000. Namun jalan tak selalu mulus. Ada kendala dana, ada keraguan sebagian orang. Tetapi Baharuddin bukan tipe yang mudah menyerah. Akhirnya, tahun 2001, cita-cita itu benar-benar mulai terwujud. Tahun 2002, ia menginisiasi pembangunan pondok pesantren. Tanah wakaf dari Masyuri menjadi titik awal. Pada Rabu, 16 Februari 2002, pembangunan dimulai. Bangunan dua lantai dengan empat petak ruangan berdiri perlahan, bata demi bata disusun dengan doa.

Pesantren itu diberi nama Al Ihsan Kenje. Ketika bangunan itu mulai digunakan, Baharuddin berdiri di halaman, memandang santri-santri yang datang dengan wajah penuh harap. Ia teringat masa kecilnya di Buttu. Ia teringat jalan panjang dari bukit ke pesisir. “Jangan pernah matikan pesantren ini,” pesannya suatu malam kepada para santri dan warga. “Kalau pesantren mati, cahaya akan redup.”

  • Penulis: Hamzah Durisa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Resolusi 2026: Memindahkan energi, memperluas Jejaring Play Button

    Resolusi 2026: Memindahkan energi, memperluas Jejaring

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 260
    • 0Komentar

    Periode 2019–2025, saat saya memimpin Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), menjadi fase penting dalam pembelajaran kepemimpinan dan pengelolaan program pengembangan sumber daya manusia keagamaan. Berbagai program yang dilaksanakan—mulai dari MB Speak Up, Sekolah Penguatan Moderasi Beragama, hingga Klinik Moderasi Beragama—menjadi laboratorium bagi pengembangan strategi, inovasi, dan implementasi kebijakan moderasi beragama di tingkat operasional. Pengalaman memimpin […]

  • Antara Opini WTP dan Realitas Publik: Menguji Makna Akuntabilitas Negara

    Antara Opini WTP dan Realitas Publik: Menguji Makna Akuntabilitas Negara

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Nuruma banyal
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Namun, berbagai isu yang muncul menunjukkan bahwa ketiga aspek tersebut belum sepenuhnya berjalan. Pembengkakan biaya proyek mengindikasikan masalah ekonomi, ketidakseimbangan antara anggaran dan hasil menunjukkan persoalan efisiensi, dan kritik terhadap program sosial mencerminkan rendahnya efektivitas. Ini berarti bahwa klaim keberhasilan pengelolaan anggaran perlu dilihat lebih kritis, tidak hanya dari angka, tetapi juga dari dampaknya. Selain […]

  • Keutamaan Shalat Subuh Menurut Syekh Nawawi al-Bantani

    Keutamaan Shalat Subuh Menurut Syekh Nawawi al-Bantani

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Syekh Nawawi al-Bantani, salah satu ulama besar Nusantara yang menjadi rujukan keilmuan di dunia Islam, banyak membahas keutamaan ibadah, termasuk shalat Subuh, dalam berbagai karya tulisnya, terutama dalam kitab Nihayatuz Zain, Tafsir Marah Labid (Tafsir Munir)_, dan Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadramiyyah. Dikutip dari berbagai sumber, keutamaan shalat  Subuh menurut Syekh Nawawi al-Bantani, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitabnya […]

  • Menakar Hari Jadi Molalahu Mulolo (Sebuah Tawaran Interpretatif)

    Menakar Hari Jadi Molalahu Mulolo (Sebuah Tawaran Interpretatif)

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Momy Hunowu
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Karena itu, prosesnya perlu dilakukan secara bertahap, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tahap pertama adalah FGD dengan menghadirkan narasumber yang kompeten serta seluruh pemangku kepentingan Molalahu Mulolo. Forum ini menjadi ruang untuk menggali berbagai usulan hari lahir dari sisi sejarah, adat, pemerintahan, dan ingatan kolektif masyarakat. Tahap berikutnya adalah ziarah ke makam aulia Poliduhelo atau Ta […]

  • Menag Pimpin Peningkatan Profesionalisme Pegawai UPQ

    Menag Pimpin Peningkatan Profesionalisme Pegawai UPQ

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 138
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., membuka secara resmi kegiatan Tazkiyatun Nafs: Pembinaan Ruhani dan Profesionalisme Pegawai UPQ yang diselenggarakan Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Kementerian Agama pada 10–13 November 2025 di Ciawi, Kabupaten Bogor. Agenda ini menjadi bagian dari upaya strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia UPQ seiring target besar […]

  • Mengapa Suara Perdamaian Lebih Nyaring dari Arah Komunitas, Bukan Pemerintah?

    Mengapa Suara Perdamaian Lebih Nyaring dari Arah Komunitas, Bukan Pemerintah?

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Dalam dinamika sosial Indonesia, satu hal yang menarik untuk diamati adalah bahwa suara-suara yang paling lantang menyuarakan kerukunan dan perdamaian justru lebih sering datang dari organisasi masyarakat sipil—terutama ormas keagamaan, sosial, dan komunitas-komunitas akar rumput—bukan dari pemerintah. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ia berakar pada perbedaan mendasar dalam cara berpikir, atau yang sering disebut sebagai […]

expand_less