Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)

  • account_circle Hamzah Durisa
  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • visibility 612
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di Kenje, tahun 1979, ia membuka usaha jual-beli kopra. Bau kelapa kering memenuhi gudang kecilnya. Dari usaha itu, ia menghidupi keluarganya sekaligus membiayai kegiatan mengajinya. Sebab, di sela-sela kesibukan berdagang, ia mulai mengajar. Awalnya hanya dua orang murid. Dua anak kampung yang datang dengan rasa malu-malu, duduk bersila di beranda rumahnya. Baharuddin tidak pernah mematok bayaran. Ia mengajar dengan hati. Bahkan ia menanggung biaya hidup santrinya yang datang menimba ilmu kepadanya.

“Belajar itu bukan paksaan,” katanya kepada murid-muridnya. “Kalau kalian datang karena takut, ilmunya tak akan tinggal. Tapi kalau datang karena cinta, ilmu itu akan tumbuh sendiri.” Pelan-pelan, muridnya bertambah. Dari dua menjadi lima. Dari lima menjadi belasan. Rumahnya tak lagi cukup menampung. Namun semangatnya tak pernah surut.

Tahun 1979 pula, ia diangkat menjadi imam Masjid Darussalam di Kenje. Tanggung jawab itu ia pikul dengan rendah hati. Ia memimpin salat, menyampaikan khutbah, dan menyapa warga dengan akrab. Ia bukan imam yang berjarak. Ia berjalan dari rumah ke rumah, berdakwah keliling kampung.Ia menikah dengan Hj. Darmi, perempuan sabar yang menjadi penopang langkahnya. Dari pernikahan itu, lahirlah satu anak: Multazam. Kepada anaknya, ia menanamkan prinsip yang sama seperti yang ia ajarkan pada murid-muridnya: belajar dengan melakukan, learning by doing.

Tahun 1980 hingga 1990-an, pengajiannya semakin berkembang. Ia mengajar berbagai kitab terjemahan. Fikih, tauhid, tasawuf—semuanya disampaikan dengan bahasa yang membumi. Ia komunikatif. Ia tidak membentak. Ia tidak menekan. Ia percaya bahwa pendidikan bukanlah soal ketakutan, melainkan keteladanan.

Beberapa muridnya datang dari jauh, bahkan dari Kalimantan. Kenje yang dulu sunyi, perlahan menjadi titik cahaya kecil di pesisir. Beberapa muridnya kelak berhasil melanjutkan studi hingga ke Mesir dan Maroko. Ketika kabar itu sampai kepadanya, ia hanya menunduk haru. “Ilmu itu seperti benih,” katanya pelan. “Aku hanya menanam. Allah yang menumbuhkan.”

Memasuki akhir 1990-an, ia mulai memikirkan sesuatu yang lebih besar. Ia ingin mendirikan lembaga pendidikan yang lebih terstruktur. Ia berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat, salah satunya Dumair Kasim. Mereka duduk berlama-lama, membahas masa depan anak-anak Kenje.

Rencananya ingin dimulai tahun 2000. Namun jalan tak selalu mulus. Ada kendala dana, ada keraguan sebagian orang. Tetapi Baharuddin bukan tipe yang mudah menyerah. Akhirnya, tahun 2001, cita-cita itu benar-benar mulai terwujud. Tahun 2002, ia menginisiasi pembangunan pondok pesantren. Tanah wakaf dari Masyuri menjadi titik awal. Pada Rabu, 16 Februari 2002, pembangunan dimulai. Bangunan dua lantai dengan empat petak ruangan berdiri perlahan, bata demi bata disusun dengan doa.

Pesantren itu diberi nama Al Ihsan Kenje. Ketika bangunan itu mulai digunakan, Baharuddin berdiri di halaman, memandang santri-santri yang datang dengan wajah penuh harap. Ia teringat masa kecilnya di Buttu. Ia teringat jalan panjang dari bukit ke pesisir. “Jangan pernah matikan pesantren ini,” pesannya suatu malam kepada para santri dan warga. “Kalau pesantren mati, cahaya akan redup.”

  • Penulis: Hamzah Durisa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Respons Berbeda soal Pandji: PKS Sebut Kritik Sehat, FPI Nilai Penistaan Agama

    Respons Berbeda soal Pandji: PKS Sebut Kritik Sehat, FPI Nilai Penistaan Agama

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 367
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sikap berbeda ditunjukkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Front Persaudaraan Islam (FPI) dalam merespons materi stand-up comedy Mens Rea yang dibawakan komika Pandji Pragiwaksono. PKS menilai materi tersebut sebagai bagian dari kritik yang sehat dalam demokrasi, sementara FPI menilai sebagian isi pertunjukan mengandung penistaan agama dan layak diproses hukum. Sekretaris Jenderal PKS, Muhammad […]

  • Perjalanan Spiritual Nabi

    Perjalanan Spiritual Nabi

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 411
    • 0Komentar

    Kita kini berada di penghujung bulan Rajab, bulan ketujuh dalam kalender Hijriah, sebuah bulan yang dimuliakan dan sarat dengan pesan persiapan ruhani. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram dan memelihara, sementara Ramadhan adalah bulan memetik hasil. Maka, akhir Rajab seharusnya menjadi ruang muhasabah: sejauh mana benih-benih kebaikan telah kita […]

  • Wahsyi ibn Harb: Plot Twist yang Unik (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #13)

    Wahsyi ibn Harb: Plot Twist yang Unik (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #13)

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 338
    • 0Komentar

    Tahun-tahun berlalu. Islam menyebar, dan Makkah akhirnya ditaklukkan tanpa pertumpahan darah besar. Wahsyi merasa terancam; ia tahu siapa dirinya dalam ingatan kaum Muslimin. Ia sempat melarikan diri, namun kemudian mendengar bahwa Nabi Muhammad membuka pintu tobat bagi siapa pun yang datang dengan iman. Harapan itu membawanya kembali. Ia menghadap Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Nabi menerima […]

  • KH. Adam Zakaria: Ulama Tanpa Pesantren yang Melahirkan Banyak Ulama

    KH. Adam Zakaria: Ulama Tanpa Pesantren yang Melahirkan Banyak Ulama

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Moh. Rodney Neu
    • visibility 367
    • 0Komentar

    Barangkali tidak semua orang mengenal sosok ulama masyhur Gorontalo yang satu ini. Namun di kalangan para santri, guru agama, dan tokoh masyarakat, nama KH. Adam Zakaria dikenang sebagai ulama yang tak pernah berhenti belajar, mengajar, dan berkhidmat untuk Islam. Ia adalah cerminan nyata dari kegigihan menuntut ilmu, meski tanpa pernah mencicipi pendidikan formal di pesantren. […]

  • Veteran Marinir Protes di Sidang Senat AS, Insiden Pengamanan Picu Perdebatan

    Veteran Marinir Protes di Sidang Senat AS, Insiden Pengamanan Picu Perdebatan

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 325
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah insiden terjadi dalam sidang Senate Armed Services Committee di Washington D.C. pada 4 Maret 2026, ketika seorang veteran Marinir Amerika Serikat, Brian McGinnis, melakukan aksi protes terkait kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Dalam sidang tersebut, McGinnis berdiri dan meneriakkan penolakan terhadap potensi perang yang menurutnya dipicu oleh dukungan […]

  • Mahasiswa KKN-T Unhas Sosialisasikan Pencegahan PMK dan Bagikan Obat Cacing di Desa Bontomanurung

    Mahasiswa KKN-T Unhas Sosialisasikan Pencegahan PMK dan Bagikan Obat Cacing di Desa Bontomanurung

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Pemberdayaan Desa Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan sosialisasi pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) secara door to door di Desa Bontomanurung, Kabupaten Maros. Kegiatan ini dirangkaikan dengan pembagian obat cacing bagi masyarakat yang memiliki ternak. Program kerja individu tersebut dilaksanakan oleh Rifqah Nabila Rasyid, mahasiswa Program Studi […]

expand_less