Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)
- account_circle Hamzah Durisa
- calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
- visibility 266
- print Cetak

Potret KH. Baharuddin bin Ta’nang bin Shahir, pendiri Pondok Pesantren Al Ihsan Kenje, sosok ulama sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan dakwah di wilayah pesisir Kenje.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di Kenje, tahun 1979, ia membuka usaha jual-beli kopra. Bau kelapa kering memenuhi gudang kecilnya. Dari usaha itu, ia menghidupi keluarganya sekaligus membiayai kegiatan mengajinya. Sebab, di sela-sela kesibukan berdagang, ia mulai mengajar. Awalnya hanya dua orang murid. Dua anak kampung yang datang dengan rasa malu-malu, duduk bersila di beranda rumahnya. Baharuddin tidak pernah mematok bayaran. Ia mengajar dengan hati. Bahkan ia menanggung biaya hidup santrinya yang datang menimba ilmu kepadanya.
“Belajar itu bukan paksaan,” katanya kepada murid-muridnya. “Kalau kalian datang karena takut, ilmunya tak akan tinggal. Tapi kalau datang karena cinta, ilmu itu akan tumbuh sendiri.” Pelan-pelan, muridnya bertambah. Dari dua menjadi lima. Dari lima menjadi belasan. Rumahnya tak lagi cukup menampung. Namun semangatnya tak pernah surut.
Tahun 1979 pula, ia diangkat menjadi imam Masjid Darussalam di Kenje. Tanggung jawab itu ia pikul dengan rendah hati. Ia memimpin salat, menyampaikan khutbah, dan menyapa warga dengan akrab. Ia bukan imam yang berjarak. Ia berjalan dari rumah ke rumah, berdakwah keliling kampung.Ia menikah dengan Hj. Darmi, perempuan sabar yang menjadi penopang langkahnya. Dari pernikahan itu, lahirlah satu anak: Multazam. Kepada anaknya, ia menanamkan prinsip yang sama seperti yang ia ajarkan pada murid-muridnya: belajar dengan melakukan, learning by doing.
Tahun 1980 hingga 1990-an, pengajiannya semakin berkembang. Ia mengajar berbagai kitab terjemahan. Fikih, tauhid, tasawuf—semuanya disampaikan dengan bahasa yang membumi. Ia komunikatif. Ia tidak membentak. Ia tidak menekan. Ia percaya bahwa pendidikan bukanlah soal ketakutan, melainkan keteladanan.
Beberapa muridnya datang dari jauh, bahkan dari Kalimantan. Kenje yang dulu sunyi, perlahan menjadi titik cahaya kecil di pesisir. Beberapa muridnya kelak berhasil melanjutkan studi hingga ke Mesir dan Maroko. Ketika kabar itu sampai kepadanya, ia hanya menunduk haru. “Ilmu itu seperti benih,” katanya pelan. “Aku hanya menanam. Allah yang menumbuhkan.”
Memasuki akhir 1990-an, ia mulai memikirkan sesuatu yang lebih besar. Ia ingin mendirikan lembaga pendidikan yang lebih terstruktur. Ia berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat, salah satunya Dumair Kasim. Mereka duduk berlama-lama, membahas masa depan anak-anak Kenje.
Rencananya ingin dimulai tahun 2000. Namun jalan tak selalu mulus. Ada kendala dana, ada keraguan sebagian orang. Tetapi Baharuddin bukan tipe yang mudah menyerah. Akhirnya, tahun 2001, cita-cita itu benar-benar mulai terwujud. Tahun 2002, ia menginisiasi pembangunan pondok pesantren. Tanah wakaf dari Masyuri menjadi titik awal. Pada Rabu, 16 Februari 2002, pembangunan dimulai. Bangunan dua lantai dengan empat petak ruangan berdiri perlahan, bata demi bata disusun dengan doa.
Pesantren itu diberi nama Al Ihsan Kenje. Ketika bangunan itu mulai digunakan, Baharuddin berdiri di halaman, memandang santri-santri yang datang dengan wajah penuh harap. Ia teringat masa kecilnya di Buttu. Ia teringat jalan panjang dari bukit ke pesisir. “Jangan pernah matikan pesantren ini,” pesannya suatu malam kepada para santri dan warga. “Kalau pesantren mati, cahaya akan redup.”
- Penulis: Hamzah Durisa

Saat ini belum ada komentar