Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)

  • account_circle Hamzah Durisa
  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • visibility 438
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di Kenje, tahun 1979, ia membuka usaha jual-beli kopra. Bau kelapa kering memenuhi gudang kecilnya. Dari usaha itu, ia menghidupi keluarganya sekaligus membiayai kegiatan mengajinya. Sebab, di sela-sela kesibukan berdagang, ia mulai mengajar. Awalnya hanya dua orang murid. Dua anak kampung yang datang dengan rasa malu-malu, duduk bersila di beranda rumahnya. Baharuddin tidak pernah mematok bayaran. Ia mengajar dengan hati. Bahkan ia menanggung biaya hidup santrinya yang datang menimba ilmu kepadanya.

“Belajar itu bukan paksaan,” katanya kepada murid-muridnya. “Kalau kalian datang karena takut, ilmunya tak akan tinggal. Tapi kalau datang karena cinta, ilmu itu akan tumbuh sendiri.” Pelan-pelan, muridnya bertambah. Dari dua menjadi lima. Dari lima menjadi belasan. Rumahnya tak lagi cukup menampung. Namun semangatnya tak pernah surut.

Tahun 1979 pula, ia diangkat menjadi imam Masjid Darussalam di Kenje. Tanggung jawab itu ia pikul dengan rendah hati. Ia memimpin salat, menyampaikan khutbah, dan menyapa warga dengan akrab. Ia bukan imam yang berjarak. Ia berjalan dari rumah ke rumah, berdakwah keliling kampung.Ia menikah dengan Hj. Darmi, perempuan sabar yang menjadi penopang langkahnya. Dari pernikahan itu, lahirlah satu anak: Multazam. Kepada anaknya, ia menanamkan prinsip yang sama seperti yang ia ajarkan pada murid-muridnya: belajar dengan melakukan, learning by doing.

Tahun 1980 hingga 1990-an, pengajiannya semakin berkembang. Ia mengajar berbagai kitab terjemahan. Fikih, tauhid, tasawuf—semuanya disampaikan dengan bahasa yang membumi. Ia komunikatif. Ia tidak membentak. Ia tidak menekan. Ia percaya bahwa pendidikan bukanlah soal ketakutan, melainkan keteladanan.

Beberapa muridnya datang dari jauh, bahkan dari Kalimantan. Kenje yang dulu sunyi, perlahan menjadi titik cahaya kecil di pesisir. Beberapa muridnya kelak berhasil melanjutkan studi hingga ke Mesir dan Maroko. Ketika kabar itu sampai kepadanya, ia hanya menunduk haru. “Ilmu itu seperti benih,” katanya pelan. “Aku hanya menanam. Allah yang menumbuhkan.”

Memasuki akhir 1990-an, ia mulai memikirkan sesuatu yang lebih besar. Ia ingin mendirikan lembaga pendidikan yang lebih terstruktur. Ia berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat, salah satunya Dumair Kasim. Mereka duduk berlama-lama, membahas masa depan anak-anak Kenje.

Rencananya ingin dimulai tahun 2000. Namun jalan tak selalu mulus. Ada kendala dana, ada keraguan sebagian orang. Tetapi Baharuddin bukan tipe yang mudah menyerah. Akhirnya, tahun 2001, cita-cita itu benar-benar mulai terwujud. Tahun 2002, ia menginisiasi pembangunan pondok pesantren. Tanah wakaf dari Masyuri menjadi titik awal. Pada Rabu, 16 Februari 2002, pembangunan dimulai. Bangunan dua lantai dengan empat petak ruangan berdiri perlahan, bata demi bata disusun dengan doa.

Pesantren itu diberi nama Al Ihsan Kenje. Ketika bangunan itu mulai digunakan, Baharuddin berdiri di halaman, memandang santri-santri yang datang dengan wajah penuh harap. Ia teringat masa kecilnya di Buttu. Ia teringat jalan panjang dari bukit ke pesisir. “Jangan pernah matikan pesantren ini,” pesannya suatu malam kepada para santri dan warga. “Kalau pesantren mati, cahaya akan redup.”

  • Penulis: Hamzah Durisa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Haairunnisah
    • visibility 210
    • 0Komentar

    Lebih jauh, subsidi yang terlalu besar juga membuka ruang terjadinya moral hazard. Harga energi yang relatif murah mendorong konsumsi berlebih dan mengurangi insentif untuk berhemat. Dalam jangka panjang, pola ini tidak hanya membebani anggaran, tetapi juga menghambat upaya menuju penggunaan energi yang lebih efisien. Kritik publik terhadap pengelolaan APBN pun tidak bisa diabaikan. Isu pembengkakan […]

  • Sekjen PP MBS Persoalkan Hubungan Ketua Bawaslu Padang Lawas Dengan Bupati Yang Diduga Melanggar Kode Etik 

    Sekjen PP MBS Persoalkan Hubungan Ketua Bawaslu Padang Lawas Dengan Bupati Yang Diduga Melanggar Kode Etik 

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Akun pribadi TikTok Komisioner Bawaslu Padang Lawas, Alex Nasution pada saat live yang memunculkan wajah bupati Padang Lawas, Putra Mahkota Alam Hasibuan, dikritik Sekretaris Pengurus Pusat Mahasiswa Bebas Merdeka (Sekjen PP MBS), Hamzah Siddik Harahap. Hamzah menganggap Fenomena yang tergambar dalam tangkapan layar ini memperlihatkan sebuah persoalan serius dalam ranah etika dan integritas lembaga penyelenggara […]

  • Prabowo Kelakar PKB “Harus Diawasi”, Cak Imin: Itu Bercanda

    Prabowo Kelakar PKB “Harus Diawasi”, Cak Imin: Itu Bercanda

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 226
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan soliditas koalisi partai pendukung pemerintah saat menyampaikan taklimat awal tahun 2026 dalam sesi pembuka retret Kabinet Merah Putih di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Selasa (6/1/2026), dikutip nulondalo.com Dalam suasana santai, Prabowo sempat melontarkan kelakar dengan menyebut Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) “harus diawasi terus”. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo […]

  • Gorontalo Masuk Daftar Aksi Bela Palestina Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    Gorontalo Masuk Daftar Aksi Bela Palestina Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Nulondalo – Aksi Bela Palestina digelar serentak di sejumlah kota di Indonesia. Ratusan massa aksi terun ke jalan menyuarakan kependulian untuk Palestina. Kota – kota di Indonesia yang menggelar aksi bela  Palestina menggunakan simbol organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) diantaranya; Kota Palembang, Surabaya, Yogyakarta dan Gorontalo, Senin (3/2/2025). Namun aksi bela Palestina dinilai ditunggangi […]

  • Isra Mi’raj Bukan Sekadar Kisah Mukjizat, Ini Pesan Gus Aniq Nawawi Play Button

    Isra Mi’raj Bukan Sekadar Kisah Mukjizat, Ini Pesan Gus Aniq Nawawi

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 391
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tidak semata-mata dimaknai sebagai kisah mukjizat perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra Mi’raj menyimpan pesan mendalam tentang iman, proses perjuangan, dan makna tawakal dalam kehidupan umat Islam. Pesan tersebut disampaikan KH Abdullah Aniq Nawawi, MA atau Gus Aniq dalam […]

  • Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik

    Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Kampus hari ini juga semakin dekat dengan logika korporasi. Banyak perguruan tinggi dikelola dengan ukuran-ukuran manajerial: target jumlah mahasiswa, efisiensi anggaran, produktivitas publikasi, ranking internasional, akreditasi, dan citra kelembagaan. Semua hal itu tidak salah pada dirinya sendiri. Masalahnya muncul ketika manusia yang bekerja di dalam sistem dianggap sekadar instrumen pencapai target. Dosen dihitung dari jumlah […]

expand_less