Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)

  • account_circle Hamzah Durisa
  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • visibility 437
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tiga tahun berselang, 1969, ia melanjutkan pendidikan agama di Lapeo, setingkat SLTP. Di sanalah cakrawala hidupnya mulai terbuka. Lapeo bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang pembentukan jiwa. Ia berguru kepada Puang Kali Tomadio, seorang alim yang keras dalam prinsip tetapi lembut dalam membimbing. Ia juga belajar pada KH. Mahmud Imam Pappang, yang dikenal luas karena kecerdasan dan kedalaman spiritualnya.

Namun perjalanan Baharuddin tidak berhenti di satu tempat. Pagi hingga siang ia mengaji di Lapeo. Sore hingga malam, ia berpindah ke Kappung Masigi Bonde. Di kampung santri itu, ia kembali duduk bersila, membuka kitab, dan menyimak penjelasan guru. Bertahun-tahun ia menjalani ritme itu—seperti air yang mengalir tanpa keluh, seperti angin yang setia menyusuri lembah.

Orang-orang heran melihat kegigihannya. “Kau tak lelah, Bahar?” tanya seorang kawan. Ia hanya tersenyum. “Kalau niatnya mencari cahaya, bagaimana mungkin aku merasa gelap?” Di antara para gurunya, ada satu nama yang sangat membekas dalam hatinya: KH. Abdul Razak Kenje. Dari beliau, Baharuddin belajar bahwa ilmu bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diamalkan. Bahwa guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pelayan umat. Dan bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang mewah, melainkan hidup yang bermanfaat.

Tahun-tahun berlalu. Baharuddin tumbuh menjadi pemuda yang matang dalam pemikiran dan teguh dalam pendirian. Pada usia 23 tahun, sekitar tahun 1976, ia mengambil keputusan besar: hijrah ke Kenje, sebuah daerah pesisir. Dari bukit ia turun ke laut. Dari dingin kabut ia berpindah ke angin asin pantai. Kenje menyambutnya dengan suara ombak dan perahu-perahu nelayan yang pulang membawa tangkapan. Ia datang bukan dengan harta, melainkan dengan tekad. Di sana, ia memulai hidup dari nol.

Tahun 1970-an, sebelum benar-benar menetap sebagai guru, ia pernah menjalani berbagai pekerjaan. Ia beternak kambing, seperti di kampung halamannya. Ia pernah menjadi buruh. Bahkan sempat merantau hingga menjadi TKI di Malaysia. Hidup mengajarinya arti sabar dengan cara yang keras.

Ia pernah berdagang lipaq sa’be ke Bone. Kain-kain sarung itu dipikulnya dengan penuh harap. Ia juga pernah berdagang kayu. Namun usaha kayu itu tak bertahan lama. Ia berhenti ketika praktik sogok-menyogok mulai marak. “Kalau rezeki harus dibeli dengan harga diri, lebih baik aku mundur,” katanya suatu ketika pada seorang sahabat.

  • Penulis: Hamzah Durisa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Di antara sekian ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, hanya naik haji ke Baitullah yang mendapatkan titel. Gelarnya melekat seumur hidup. Segera setelah seseorang pulang dari berhaji di Tanah Suci, masyarakat pun menyematkan titel mulia itu di depan namanya—Haji Fulan atau Hajjah Fulanah. Gelar ini bukan sekadar sebutan, tetapi simbol dari suatu perjalanan agung, kedalaman […]

  • Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Bagi kita, penggemar sepak bola Indonesia, wajah Timnas Indonesia kini tampak berbeda. Dulu, kita mengenal pemain-pemain yang tumbuh besar di sini, dengan karakter dan ciri khas lokal yang tak bisa dilepaskan. Namun kini, hampir setiap pemain Timnas yang tampil memiliki tubuh tegap, kulit putih, dan seolah membawa cita rasa Eropa, terutama Belanda. Mereka bukanlah anak-anak […]

  • Upaya Membungkam Suara Kritis? Wakil KontraS Disiram Air Keras di Jakarta

    Upaya Membungkam Suara Kritis? Wakil KontraS Disiram Air Keras di Jakarta

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 301
    • 0Komentar

    Pelaku kemudian menyiramkan cairan keras ke arah tubuh korban. Serangan itu membuat Andrie berteriak kesakitan dan terjatuh dari motornya. Korban segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan darurat, terutama pada bagian mata. Berdasarkan informasi yang dihimpun, tidak ada barang milik korban yang hilang atau dirampas saat kejadian. Latar Belakang Aktivitas Andrie Yunus Badan […]

  • Idul Adha: Antara Pengorbanan, Air Mata, dan Harapan Ampunan  Allah

    Idul Adha: Antara Pengorbanan, Air Mata, dan Harapan Ampunan Allah

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Hari raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum agung untuk meneguhkan iman, membersihkan hati, serta merenungi makna pengorbanan dan ketaatan yang diwariskan Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Ismail alaihissalam. Di tengah gemuruh dunia yang sering melalaikan manusia dari Tuhannya, Idul Adha hadir mengingatkan kita bahwa kehidupan sejati bukan tentang siapa yang paling kaya […]

  • Menjaga Kemudi di Tengah Ketidakpastian: Optimisme dan Realitas Ketahanan Ekonomi Indonesia

    Menjaga Kemudi di Tengah Ketidakpastian: Optimisme dan Realitas Ketahanan Ekonomi Indonesia

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Zulia Rahmawati
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Dari sisi pendapatan, reformasi perpajakan dan bea cukai tetap menjadi tulang punggung yang harus diperkuat. Di tengah tren digitalisasi ekonomi, tantangan pemungutan pajak menjadi semakin kompleks. Pemerintah harus mampu menyeimbangkan antara intensifikasi penerimaan dengan iklim investasi yang kondusif. Pengakuan dari lembaga internasional dan investor terhadap fundamental fiskal Indonesia adalah modal kepercayaan (trust) yang sangat mahal […]

  • McDonalisasi PMII…..!!!

    McDonalisasi PMII…..!!!

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Sahabat Senior: ente tahu tanggal 17 April torang akan merayakan HARLAH PMII? Sahabat Yunior: Jelas taulah (sambil tersenyum)…! PMII itu kan singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, ya? Ada apa senior? Sahabat Senior: Iya, butul! Harlah ini bukan hanya sekadar perayaan, tapi juga momen untuk refleksi atas perjuangan dan kontribusi PMII dalam pengembangan kader dan […]

expand_less