Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)
- account_circle Hamzah Durisa
- calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
- visibility 267
- print Cetak

Potret KH. Baharuddin bin Ta’nang bin Shahir, pendiri Pondok Pesantren Al Ihsan Kenje, sosok ulama sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan dakwah di wilayah pesisir Kenje.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tiga tahun berselang, 1969, ia melanjutkan pendidikan agama di Lapeo, setingkat SLTP. Di sanalah cakrawala hidupnya mulai terbuka. Lapeo bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang pembentukan jiwa. Ia berguru kepada Puang Kali Tomadio, seorang alim yang keras dalam prinsip tetapi lembut dalam membimbing. Ia juga belajar pada KH. Mahmud Imam Pappang, yang dikenal luas karena kecerdasan dan kedalaman spiritualnya.
Namun perjalanan Baharuddin tidak berhenti di satu tempat. Pagi hingga siang ia mengaji di Lapeo. Sore hingga malam, ia berpindah ke Kappung Masigi Bonde. Di kampung santri itu, ia kembali duduk bersila, membuka kitab, dan menyimak penjelasan guru. Bertahun-tahun ia menjalani ritme itu—seperti air yang mengalir tanpa keluh, seperti angin yang setia menyusuri lembah.
Orang-orang heran melihat kegigihannya. “Kau tak lelah, Bahar?” tanya seorang kawan. Ia hanya tersenyum. “Kalau niatnya mencari cahaya, bagaimana mungkin aku merasa gelap?” Di antara para gurunya, ada satu nama yang sangat membekas dalam hatinya: KH. Abdul Razak Kenje. Dari beliau, Baharuddin belajar bahwa ilmu bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diamalkan. Bahwa guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pelayan umat. Dan bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang mewah, melainkan hidup yang bermanfaat.
Tahun-tahun berlalu. Baharuddin tumbuh menjadi pemuda yang matang dalam pemikiran dan teguh dalam pendirian. Pada usia 23 tahun, sekitar tahun 1976, ia mengambil keputusan besar: hijrah ke Kenje, sebuah daerah pesisir. Dari bukit ia turun ke laut. Dari dingin kabut ia berpindah ke angin asin pantai. Kenje menyambutnya dengan suara ombak dan perahu-perahu nelayan yang pulang membawa tangkapan. Ia datang bukan dengan harta, melainkan dengan tekad. Di sana, ia memulai hidup dari nol.
Tahun 1970-an, sebelum benar-benar menetap sebagai guru, ia pernah menjalani berbagai pekerjaan. Ia beternak kambing, seperti di kampung halamannya. Ia pernah menjadi buruh. Bahkan sempat merantau hingga menjadi TKI di Malaysia. Hidup mengajarinya arti sabar dengan cara yang keras.
Ia pernah berdagang lipaq sa’be ke Bone. Kain-kain sarung itu dipikulnya dengan penuh harap. Ia juga pernah berdagang kayu. Namun usaha kayu itu tak bertahan lama. Ia berhenti ketika praktik sogok-menyogok mulai marak. “Kalau rezeki harus dibeli dengan harga diri, lebih baik aku mundur,” katanya suatu ketika pada seorang sahabat.
- Penulis: Hamzah Durisa

Saat ini belum ada komentar