Nuzulul Qur’an: Masjid Istiqlal Jadi Jembatan Peradaban
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 55
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com, Jakarta-Masjid Istiqlal kembali menjadi panggung kebersamaan dan refleksi kebangsaan dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang dipadati puluhan ribu jamaah. Di tengah gemuruh kota, momentum suci ini diposisikan sebagai ruang di mana nilai-nilai Al-Qur’an dipahami bukan hanya sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai ruh yang merekatkan keberagaman dan memperkuat peradaban bangsa.
H. Mas’ud Halimin, Ketua Panitia Nuzulul Qur’an Masjid Istiqlal sekaligus Wakil Kepala Bidang Peribadatan menjelaskan alasan tema yang diusung: “Alasan kami mengambil tema Nuzulul Qur’an ‘Jembatan Peradaban Harmoni’ karena kami meyakini bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan peradaban, tradisi dan budaya”. Ia menambahkan, “Kita berharap nilai-nilai Al Qur’an bisa menjadi semangat dan ruh yang bisa menjadikan Indonesia sebagai negara peradaban yang besar”. Dari panggung itu pula panitia meluncurkan program besar wakaf mushaf Iluminasi Tionghoa, target 100.000 mushaf yang menurutnya telah menerima 3.200 mushaf untuk dibagikan ke seluruh pelosok negeri.
Salah satu momen paling emotif adalah keterlibatan lintas komunitas, termasuk kolaborasi dengan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Ketua Umum organisasi tersebut, Dr. H. Serian Wijatno, menggarisbawahi makna lintas kebudayaan: “Peringatan Nuzulul Qur’an malam ini memperlihatkan bahwa Al Qur’an mampu melewati batas-batas perbedaan dan menjadi jembatan peradaban harmoni lintas kebudayaan, termasuk kebudayaan muslim Tionghoa dan Nusantara”. Ia menegaskan bahwa Masjid Istiqlal menjadi wujud nyata jembatan tersebut.
Sementara itu, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama RI, mengajak jamaah merenungkan sejarah dan dinamika penyebaran Islam: “Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa salah satu agama yang paling cepat berkembang di dunia adalah Islam, itu karena Al Qur’an”. Ia menambahkan bahwa ikatan budaya Tionghoa dengan Nusantara telah lama ada dan menjadi bagian dari warna bangsa. 09/03/2026.
Peringatan ini juga menampilkan seni lukis pasir yang mengisahkan relasi budaya Tionghoa dan Nusantara — sebuah karya visual yang memberi ruang tafakur, hikmah, dan refleksi tentang bagaimana kebudayaan dan agama dapat bersinergi membangun persatuan. Hadir pula para pejabat, antara lain Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ketua KPU RI, Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat mewakili Wakil Gubernur DKI, serta Asisten Kesejahteraan Rakyat Provinsi DKI Jakarta (mewakili Gubernur DKI). Kehadiran mereka memperkuat pesan kebangsaan acara ini.
Di pelataran Masjid Istiqlal, jamaah tampak antusias; banyak yang berswafoto memegang mushaf Iluminasi Tionghoa sebagai simbol harapan bersama. Nuzulul Qur’an kali ini bukan sekadar peringatan ritual—ia menjadi deklarasi bahwa wacana keagamaan dapat menjadi jembatan peradaban yang merangkul seluruh lapisan bangsa.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar