Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Khutbah Jumat : Pasca-Ramadhan, Antara Kesalehan Musiman dan Kesadaran Spiritual

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
  • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
  • visibility 257
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadhan seringkali kita rayakan sebagai puncak kesalehan. Masjid penuh, doa mengalir, dan air mata menjadi mudah menetes. Namun, pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri kita adalah: apakah semua itu bertahan? Ataukah ia sekedar kesalehan musiman?

Tulisan khutbah ini tidak hendak meromantisasi Ramadhan, tetapi justru menggugat secara halus: jangan-jangan yang kita alami hanyalah kesalehan yang bergantung pada suasana—bukan kesadaran yang murni tumbuh dari dalam diri kita.

Karena agama, pada akhirnya, bukan tentang momentum. Ia tentang keberlanjutan (istiqomah).

Highlight Renungan
  • Ramadhan bukan tujuan, tetapi pembongkar ilusi bahwa kita “tidak mampu berubah”
  • Yang sering hilang bukan amal, tetapi kesadaran di balik amal
  • Kesalehan yang bergantung pada suasana adalah kesalehan yang rapuh
  • Istiqamah bukan soal besar-kecilnya amal, tetapi keteguhan hati dalam menjaganya

KHUTBAH LENGKAP

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله الذي لا يغيب وإن غابت المواسم، ولا يبتعد وإن ابتعدت القلوب،
نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله،
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فاتقوا الله حق تقاته ولا
تموتن إلا وأنتم مسلمون.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ramadhan telah berlalu. Dan kita sering membicarakannya seperti sebuah kenangan yang indah, seakan-akan ia cukup untuk dikenang, bukan untuk dilanjutkan dan diambil hikmahnya.

Kita rindu suasananya, tetapi kita jarang menjaga maknanya.

Dan di sinilah kita perlu berkata jujur pada diri sendiri: apakah kita berubah karena Allah—ataukah karena suasana?

Ma’asyiral muslimin,

 

Allah berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini menolak satu hal yang sering kita anggap biasa: yaitu kesalehan musiman. Ia tidak memberi ruang untuk iman yang naik hanya pada waktu tertentu, lalu turun tanpa arah setelahnya.

 

Namun realitas kita sering berkata lain. Kita saksikan, masjid penuh di bulan Ramadhan—lalu kembali lengang setelahnya.

Lisan penuh dzikir dengan menyebut asma dan sifat-Nya, lalu kembali ringan menyakiti saudaranya.

Air mata mudah jatuh di malam hari—lalu hati kembali keras di siang hari. Dan kita sering tidak merasa bahwa ada yang salah dari amal ibadah kita.
Ma’asyiral muslimin, Nabi ﷺ bersabda:
إنما الأعمال بالنيات
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat adalah sesuatu yang tersembunyi. Ia tidak terlihat.

Tetapi ia menentukan segalanya.

Mungkin, Ramadhan telah memperbaiki niat kita—kita beribadah karena Allah.

Namun setelah Ramadhan, perlahan kita kembali: beribadah karena kebiasaan, karena lingkungan, atau bahkan karena penilaian manusia.

 

Dalam kaidah fikih disebutkan:

الأمور بمقاصدها

“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.”

Maka persoalannya bukan pada amal yang kita lakukan, tetapi pada tujuan yang kita jaga atau kita abaikan.

Ma’asyiral muslimin, Barangkali yang paling jujur dari Ramadhan untuk menilai diri kita adalah: Ia membuktikan bahwa kita mampu menjadi lebih baik.

Kita mampu menahan diri.

Kita mampu bangun malam.

Kita mampu menjaga lisan.

Lalu pertanyaannya, jika kita mampu menjadi lebih baik  di bulan Ramadhan,

mengapa kita memilih tidak mampu setelahnya?

Dalam kaidah fikih disebutkan:

الحكم يدور مع علته وجودًا وعدمًا

Hukum itu berlaku sesuai dengan ada atau tidak adanya ‘illat (alasan hukum/motivasi). Jika ‘illat ada, hukum berlaku; jika ‘illat hilang, hukum pun hilang.

Ketika kesadaran bahwa Allah melihat kita hadir—kita mampu menahan diri.

Namun ketika kesadaran itu melemah— kita kembali pada kebiasaan lama.

Maka yang hilang bukan kemampuan kita, tetapi kesadaran kita.

Dan mungkin, inilah krisis kita hari ini: bukan kurangnya pengetahuan, tetapi rapuhnya kesadaran spiritual kita.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم 
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله رب العالمين، له الحمد الحسن والثناء الجميل.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله،
اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Setelah Ramadhan, kita tidak ditanya seberapa banyak amal kita— tetapi apa yang masih kita jaga darinya.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا…

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah…” (QS. Fussilat: 30)

Nabi ﷺ bersabda:

 

أحب الأعمال إلى الله أدومها وإن قل

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kaidah disebutkan:

ما لا يدرك كله لا يترك كله

“Apa yang tidak bisa diraih seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya.”

Maka sisakan satu kebaikan—dan jagalah. Karena tanda Ramadhan diterima bukan pada saat ia dijalani, tetapi pada apa yang tetap hidup setelah ia pergi.

 

ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما 
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد 
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات…
اللهم ثبت قلوبنا على طاعتك، ولا تجعلنا ممن عرفك في رمضان ثم نسيك بعده…
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
عباد الله ان الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون ولذكر الله اكبر أقيموا الصلاة
  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GUSDURian Mamasa Gelar Kegiatan “Jaga Jagat Kita” untuk Edukasi Ekologi Generasi Muda

    GUSDURian Mamasa Gelar Kegiatan “Jaga Jagat Kita” untuk Edukasi Ekologi Generasi Muda

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Guswandri
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Komunitas GUSDURian Mamasa kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan bertajuk “Jaga Jagat Kita”, yang dilaksanakan pada Jumat, 8 Agustus 2025 di Gereja Toraja Mamasa Jemaat Buntu Tanete. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Sekolah Jagat GUSDURian, yang sebelumnya diikuti oleh beberapa penggerak komunitas. Dalam sambutannya, Febry, perwakilan GUSDURian dan alumni Sekolah Jagat, menekankan […]

  • MUI Sambut Rencana Pembangunan Gedung Baru di Bundaran HI, Presiden Prabowo Siapkan Lahan 4.000 Meter

    MUI Sambut Rencana Pembangunan Gedung Baru di Bundaran HI, Presiden Prabowo Siapkan Lahan 4.000 Meter

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 230
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyambut baik rencana Presiden RI Prabowo Subianto yang akan membangunkan gedung baru bagi MUI di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Ketua MUI Bidang Penanggulangan Bencana, Nusron Wahid, mengatakan pihaknya mendukung gagasan tersebut sebagai upaya memperkuat konsolidasi umat Islam. Hal itu disampaikan Nusron kepada MUI Digital usai acara […]

  • Dampak Kerusakan Ekologis Batang Toru, Direktur APPRI: Bencana Ini Bukan Kebetulan

    Dampak Kerusakan Ekologis Batang Toru, Direktur APPRI: Bencana Ini Bukan Kebetulan

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Banjir bandang dan longsor kembali meluluhlantakkan Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan. Sungai Batang Toru — nadi kehidupan masyarakat Tapanuli dan habitat terakhir orangutan Tapanuli — meluap luar biasa, membawa batu-batu besar dan gelondongan kayu raksasa dari hulu. Hal tersebut mendapat perhatian khusus dengan perspektif yang berbeda oleh Direktur Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Indonesia […]

  • Uwais Al-Qarni: Istimewa Meski Tak Bertemu Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 29)

    Uwais Al-Qarni: Istimewa Meski Tak Bertemu Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 29)

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Pada edisi terakhir tulisan Ramadan tahun 2026 ini, saya menutupnya dengan kisah seorang tokoh yang unik dan penuh teladan: Uwais al-Qarni. Namanya mungkin terdengar asing dibanding tokoh-tokoh sahabat yang lain, tetapi kisah hidupnya menyimpan pelajaran yang mendalam tentang kesalehan, ketulusan, dan bakti kepada orang tua. Meskipun hidup sezaman dengan Nabi Muhammad, Uwais tidak dikategorikan sebagai […]

  • Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 234
    • 0Komentar

    Dalam kamus kehidupan sehari-hari, kata sabar sering diperlakukan seperti obat mujarab untuk segala luka sosial. Ia terdengar menenangkan, penuh kebijaksanaan, bahkan dianggap sebagai jawaban paling aman atas berbagai persoalan hidup. Namun di balik itu, ada kekeliruan yang diam-diam terus dipelihara: kita terlalu sering mencampuradukkan antara kesabaran dan kepasrahan. Padahal keduanya lahir dari ruang batin yang […]

  • DPP GENINUSA Desak Kapolda Lampung Segera Adili Oknum Penyidik Atas Dugaan Kekerasan Terhadap Warga 

    DPP GENINUSA Desak Kapolda Lampung Segera Adili Oknum Penyidik Atas Dugaan Kekerasan Terhadap Warga 

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Nulondalo – Faizal Habeba, Kordinator Bidang Pendidikan dan Ekonomi, Dewan Pengurus Pusat Gerakan Santri Preuner Nusantara (DPP GENINUSA), mendesak kepada Kapolda Lampung untuk segera memanggil dan proses oknum kepolisian Inisial AIPTU S selaku penyidik yang melalukan tindakan kekerasan (pencekikan) kepada warga Lampung bernama Sadam Husen. Menurutnya, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum kepolisian insial AIPTU […]

expand_less