Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kapitalisme Modern Menghendaki Kita Egois dan Rapuh

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
  • visibility 172
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Benteng penangkalnya adalah kebersamaan yang organik, melalui praktik-praktik hidup yang tidak transaksional, tapi didalamnya ada redistribusi kasih sayang, melalui relasi dan ritual yang belum disentuh oleh logika akumulasi. Sungai tidak meminum airnya sendiri. Pohon tidak memakan buah yang tumbuh di dahannya. Matahari tidak menikmati cahaya yang dipancarkannya. Bunga pun tidak mencium harum yang disebarkannya. Alam bekerja dalam logika yang sederhana. Pelajaran soal menemukan arti justru ketika memberi kehidupan bagi yang lain, itulah akar ontologis kita sebagai manusia.

Ungkapan semacam ini sering hadir dalam petuah-petuah lama, pidato keagamaan, atau tulisan reflektif tentang makna hidup. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan makna dan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar nasihat moral. Ia adalah cara manusia membangun pemahaman tentang dirinya sendiri melalui simbol-simbol yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Maka pemikiran Roland Barthes menjadi menarik untuk dibaca kembali. Bagi Barthes, mitos bukanlah dongeng atau cerita khayalan. Mitos adalah cara suatu masyarakat mengubah nilai tertentu menjadi sesuatu yang tampak wajar, alamiah, bahkan seolah-olah merupakan kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Mitos bekerja melalui tanda-tanda. Ia mengambil sesuatu yang konkret lalu memuatnya dengan makna yang lebih luas.

Karena itu, sungai dalam narasi tadi tidak lagi sekadar aliran air. Pohon bukan hanya organisme biologis. Matahari bukan sekadar benda langit. Semuanya berubah menjadi bahasa simbolik yang berbicara tentang kebermanfaatan, pengorbanan, dan hubungan timbal balik antarkehidupan.

Alam memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian manusia modern, tidak ada kehidupan yang benar-benar berdiri sendiri. Sungai mengalir karena hujan turun di tempat lain. Pohon tumbuh karena tanah, air, cahaya, dan mikroorganisme bekerja dalam jaringan yang saling menopang. Bahkan matahari yang tampak begitu perkasa hanya memiliki makna karena ada kehidupan yang menerima dan mengolah energinya.

Di dalam ekosistem, eksistensi selalu bersifat relasional. Sesuatu ada karena terhubung dengan yang lain. Tidak ada pusat yang berdiri sendirian. Ironisnya, pelajaran yang begitu jelas terbentang di alam justru sering bertabrakan dengan cara berpikir yang berkembang dalam masyarakat kontemporer. Kita hidup di zaman yang semakin terhubung secara teknologi, tetapi pada saat yang sama semakin memuliakan gagasan tentang individu yang berdiri sendiri. Kesuksesan dipahami sebagai hasil kerja personal semata. Kekayaan dianggap cerminan kualitas diri. Popularitas diperlakukan sebagai ukuran nilai manusia.

Barthes mungkin akan mengatakan bahwa masyarakat modern juga hidup di bawah mitos-mitosnya sendiri.

Salah satu yang paling dominan adalah mitos tentang manusia yang sepenuhnya mandiri. Sosok self-made man dipuja sebagai lambang keberhasilan. Narasinya sederhana: seseorang bekerja keras, mengalahkan segala hambatan, lalu mencapai puncak dengan kekuatannya sendiri. Kisah ini terdengar heroik, tetapi sering kali mengaburkan kenyataan yang jauh lebih kompleks.

Tidak ada orang yang benar-benar membangun dirinya sendirian. Di belakang seorang profesional yang sukses terdapat guru yang pernah mengajarnya membaca. Di belakang seorang pengusaha terdapat pekerja yang membantu menjalankan usahanya. Di belakang seorang ilmuwan terdapat jaringan pengetahuan yang dikembangkan ribuan orang sebelum dirinya lahir. Bahkan secangkir kopi yang kita minum setiap pagi adalah hasil kerja panjang petani, buruh, sopir, pedagang, dan banyak tangan lain yang tak pernah kita kenal.

Apa yang tampak sebagai pencapaian individual sesungguhnya berdiri di atas fondasi sosial yang sangat luas. Namun mitos individualisme membuat jaringan tersebut nyaris tak terlihat. Ia mengubah hasil kerja kolektif menjadi kisah kepahlawanan personal.

Pandangan ini sejalan dengan tradisi pengetahuan Sejak awal, manusia dipahami sebagai makhluk yang keberadaannya dibentuk melalui relasi. Seorang bayi tidak akan bertahan tanpa pengasuhan. Seorang petani membutuhkan pasar. Seorang dokter membutuhkan pasien. Seorang pemimpin membutuhkan kepercayaan publik. Tidak ada kehidupan manusia yang benar-benar otonom.

Dalam diskursus sosiologi Masyarakat dipandang bukan sekadar kumpulan individu, melainkan jaringan ketergantungan yang saling menopang. Karena itu, membantu orang lain bukan hanya urusan kemurahan hati. Ia merupakan bagian dari mekanisme yang memungkinkan kehidupan sosial tetap berlangsung. Solidaritas bukan tambahan dalam kehidupan bersama, melainkan salah satu syarat keberlangsungannya. Ketika seseorang berbagi pengetahuan, membantu tetangga yang kesulitan, atau menyediakan waktunya untuk mendengarkan orang lain, ia sedang merawat jalinan yang membuat masyarakat tidak runtuh menjadi sekumpulan orang asing yang hidup berdampingan tanpa keterhubungan.

Menariknya, temuan-temuan dalam psikologi modern juga menunjukkan kecenderungan yang serupa. Banyak penelitian menemukan bahwa kepuasan hidup yang paling bertahan lama tidak selalu lahir dari kepemilikan, melainkan dari pengalaman merasa berguna bagi orang lain. Pencapaian memang menghadirkan kebanggaan, tetapi kebermaknaan sering lahir dari kontribusi.

Ada kegembiraan ketika seseorang memperoleh sesuatu yang lama diinginkannya. Namun ada kepuasan yang lebih dalam ketika ia menyadari bahwa kehadirannya membuat hidup orang lain sedikit lebih ringan, sedikit lebih mudah, atau sedikit lebih baik.

Dari sudut pandang ini, kisah tentang sungai, pohon, matahari, dan bunga dapat dibaca sebagai sebuah narasi tandingan terhadap budaya yang terlalu terpesona pada akumulasi. Ia menawarkan ukuran keberhasilan yang berbeda. Bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa besar dampak yang berhasil disebarkan.

Perubahan yang diajarkan alam seperti melalui Daun yang menguning sebelum gugur sering dibaca sebagai lambang kehilangan. Padahal dalam logika biologis, perubahan itu justru merupakan strategi bertahan hidup. Pohon melepaskan sebagian dirinya agar mampu melewati musim yang lebih berat. Yang tampak seperti akhir ternyata merupakan bagian dari proses pembaruan.

Manusia pun bergerak dalam pola yang serupa. Tidak ada kehidupan yang bebas dari kegagalan, penolakan, kehilangan, atau ketidakpastian. Namun pengalaman-pengalaman itulah yang sering membentuk kedalaman cara pandang seseorang terhadap dunia. Banyak orang menjadi lebih bijaksana bukan karena hidupnya selalu mudah, melainkan karena pernah berhadapan dengan kenyataan yang keras dan berhasil melewatinya.

Pada titik tertentu, manusia juga menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh kemampuan dan perhitungannya sendiri, maka pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah sebuah mitos benar atau salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: cerita seperti apa yang sedang mengarahkan cara kita menjalani hidup?

Apakah kita sedang hidup dalam mitos tentang persaingan yang tak berujung, tentang akumulasi yang tak pernah cukup, tentang nilai manusia yang diukur dari apa yang dimiliki? Ataukah kita memilih mempercayai cerita lain—cerita tentang kebermanfaatan, tentang solidaritas, tentang keyakinan bahwa hidup memperoleh arti ketika keberadaan kita menghadirkan kebaikan bagi kehidupan di sekitar kita?

Kupikir manusia tidak hanya bertahan dengan makanan, teknologi, atau kekayaan. Manusia juga hidup dari cerita-cerita yang memberinya arah. Sebab kehidupan tidak pernah hanya terdiri atas apa yang berhasil kita capai, tetapi juga apa yang berhasil kita pahami dari perjalanan menuju ke sana.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Disclaimer:
Tulisan yang dimuat dalam Rubrik Opini Nulondalo.com sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Isi dan pandangan yang disampaikan tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan redaksi Nulondalo.com. Redaksi tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang timbul dari isi tulisan opini tersebut.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pentingnya Literasi Akuntansi dalam Mengatur Keuangan Rumah Tangga

    Pentingnya Literasi Akuntansi dalam Mengatur Keuangan Rumah Tangga

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Sutanti Idris, S.E., CMC
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan perkembangan gaya hidup modern, kemampuan mengatur keuangan rumah tangga menjadi hal yang sangat penting. Banyak keluarga menghadapi masalah ekonomi bukan semata karena penghasilan yang kecil, tetapi karena kurangnya kemampuan dalam mengelola keuangan dengan baik. Dalam kondisi inilah literasi akuntansi memiliki peran besar dalam membantu keluarga menciptakan kestabilan finansial, menghindari […]

  • PKB Gorontalo Segera Konsolidasi, Sosialisasikan Hasil Muktamar 2024 dan Perkuat Struktur Partai   

    PKB Gorontalo Segera Konsolidasi, Sosialisasikan Hasil Muktamar 2024 dan Perkuat Struktur Partai  

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Meski Pemilu masih cukup lama, namun kesiapan-kesiapan harus dimantapkan partai Politik jika ingin meraih kemenangan. Salah satu strategi yang penting untuk dilakukan adalah terus mengkonsolidasikan struktur partai hingga akar rumput. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terus mengkonsolidasikan kekuatan politiknya. Salah satu strategi partai besutan Cak Imin atau Muhaimin Iskandar itu dengan mensosialisasikan […]

  • Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 299
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pesantren Khatamun Nabiyyin bersama Khatam Institute menggelar Stadium Generale bertajuk “Peran Filsafat dalam Kehidupan Kontemporer: Antara Kemajuan Teknologi dan Krisis Kemanusiaan” pada Rabu, 13 Mei 2026, di Auditorium Khatamun Nabiyyin, Condet, Jakarta Timur. Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Amsal Bakhtiar sebagai narasumber utama dan dipandu oleh Muh. Agus Salim selaku moderator. Dalam pemaparannya, […]

  • Kelurahan Baju Bodoa, Salurkan beras dan minyak goreng sebanyak 452 Paket Bantuan ke Tiga Lingkungan

    Kelurahan Baju Bodoa, Salurkan beras dan minyak goreng sebanyak 452 Paket Bantuan ke Tiga Lingkungan

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 226
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros— Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kesejahteraan warganya. Pada tanggal 2 sampai 4 Desember 2025, pemerintah kelurahan menyalurkan bantuan pangan berupa beras 20 kilogram dan minyak goreng 4 liter kepada masyarakat yang benar–benar membutuhkan. Bantuan ini berasal dari Kementerian Sosial Republik Indonesia, yang kemudian disalurkan secara […]

  • Banjir Besar Landa Halmahera Barat, Dua Warga Tewas, Ribuan Mengungsi

    Banjir Besar Landa Halmahera Barat, Dua Warga Tewas, Ribuan Mengungsi

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 277
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Banjir besar melanda Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, akibat curah hujan berintensitas tinggi yang terjadi sejak Rabu dini hari, 7 Januari 2026, sekitar pukul 04.00 WIT. Hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan aliran sungai meluap dan menggenangi permukiman warga, sekaligus memutus akses jalan di sejumlah wilayah. Peristiwa ini berdampak signifikan terhadap […]

  • Ramadhan Momentum Menakar Diri

    Ramadhan Momentum Menakar Diri

    • calendar_month Minggu, 18 Apr 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Pelan namun pasti, Ramadhan terus merangkak. Ada hari yang telah terlewati. Setuju atau tidak, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menakar dan mengukur diri. Pasti ada yang bertanya-tanya, mengapa harus Ramadhan ? Bukankah ada bulan lainnya. Muharram misalnya ? Alasannya sederhana. Meski baru beberapa hari menjalani kawah candradimuka Ramadhan, kuantitas dan kualitas ibadah kita  telah terukur […]

expand_less